BEKASI – Sabtu (16/7/2016) malam terjadi kericuhan saat diadakan pertemuan keluarga korban vaksin palsu dengan perwakilan RS St Elisabeth Bekasi, Jawa Barat.
Kericuhan diwarnai dengan amukan para orang tua yang sempat mengusir pengacara dan memukul Direktur Utama RS St Elisabeth Bekasi, Antonius Yudiono.
Dilaporkan Tribunnews, kejadian bermula saat manajemen rumah sakit mengundang para orang tua dalam pertemuan di sebuah ruangan di basement rumah sakit. Pengacara Azas Tigor Nainggolan dan dr Antonius duduk kursi depan seratusan keluarga korban.
Azas Tigor mengatakan, bahwa 14 rumah sakit, termasuk RS St Elisabeth, baru sekadar terdindikasi menggunakan vaksin palsu. Ia menambahkan, kasus vaksin palsu sudah diambil alih atau take over oleh Satgas dari Bareskrim Polri, Kementerian Kesehatan dan BPOM.
Kontan penjelasan si pengacara itu langsung memancing emosi para orang tua. “Enak aja terindikasi. Kami sudah tahu ini dari media. Anda sebagai pengacara tidak usah bertele-tele lagi menjelaskan. Kami sudah tahu dari media,” teriak seorang bapak.
Namun, si pengacara kembali mengambil mikropon dan menyampaikan hal yang sama. “Sudah, pengacara nggak usah bicara. Yang bicara Direktur nya saja. Anda pergi,” teriak seorang bapak lainnya.”Usir pengacara itu, usir!” teriak pria lainnya.
Terbawa emosi, seorang pria lain bertubuh tinggi mendatangi meja Antonius. Dia langsung beberapa kali menggebrak meja dengan keras. Sementara, pria lainnya juga mulai berdatangan dan menendang meja yang ditempati oleh Antonius tersebut.
Ketika akhirnya Antonius hendak pergi meninggalkan tempat, beberapa orang berhasil mengejarnya.
Sejumlah orang tua yang terlanjur geram dengan cara pengacara dan Dirut rumah sakit, seketika sempat melakukan pemukulan ke Antonius. Ia terlihat meringis sembari memegang tengkuk kepalanya.Sementara, si pengacara lebih dulu berhasil meninggalkan ruang pertemuan.
Sementara itu, perwakilan orang tua berusaha menenangkan para orang tua. Mereka ada yang menggandeng dr Antonius untuk kembali ke kursinya yang telah didirikan kembali.
Mereka mendesak dr Antonius untuk membuat surat pernyataan tentang pertanggungjawaban RS St Elisabeth atas penggunaan vaksin palsu.




