Perusahaan Pelat Merah kok Nyelundup

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) dan Mentrei BUMN Erick Thohir (no. 3 dari kiri) (5/12) sedang memeriksa sepeda motor Harley Davidson yang diselundupkan di pesawat Garuda dalam penerbangan ferry (diseberangkan dari pabiknya-red) dari pabrik pesawat Airbus di Toulous, Perancis ke Indonesia beberapa waktu lalu.

PT GARUDA Indonesia Tbk selain perusahaan negara yang berfungsi sebagai agen pembangunan, memberikan pelayanan sekaligus mencari laba, juga menjadi “flag carrier” pembawa citra bangsa dan negara.

Sangat menyedihkan, pesawat baru Air Bus A330 – 900 Neo milik maskapai penerbangan nasional yang menjadi identitas Indonesia itu saat ferry flight atau penerbangan dari pabrik pembuatnya di Toulouse Perancis ke tanah air digunakan mengangkut barang selundupan.

Terungkap 18 karton di ruang bagais pesawat berisi onderdil dan bodi sepeda motor Harley Davidson (HD) klasik bekas buatan tahun 1970-an dalam keadaan terurai dan sepeda mewah merk Brompton yang tidak dilindungi dokumen-dokumen yang dipersyaratkan.

Menurut taksiran Kementerian Keuangan, diperkirakan negara mengalami kerugian antara Rp532 juta hingga Rp1,5 milyar dari Bea Masuk yang seharusnya dibayar untuk memasukkan kedua barang mewah itu.

Saat ditemukan oleh petugas Bea dan Cukai, kardus-kardus tersebut berlabel nama pegawai Garuda, SAS yang agaknya sengaja “pasang badan” untuk melindungi pimpinannya yang menginstruksikan pengangkutan motor HD yang terurai dan sepeda Brompton.

Sejauh ini Corporate Secretary, Moh. Ikhsan Rosan dan Direktur Utama Pt Garuda Indonesia (Persero) Tbk Ari Akhsara bungkam, sementara Menkeu Sri Mulyani dan Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti mengatakan, oknum-oknum yang terlibat bakal dikenakan UU No. 17 tahun 2006 tentang kewajiban kepabeanan.

Sebelumnya, penyelundupan 48 emas batangan dengan berat satu Kg per batang dengan pesawat Garuda pernah terjadi berkat kerjasama dua pilot dan seorang copilot Garuda dengan pengusaha Kho Kian Kie pada 1976.

Ironisnya, kasus penyelundupan kali ini terjadi di tengah upaya menteri BUMN baru, saat Erick Thohir bertekad merombak dan membenahi kinerja 142 perusahaan pelat merah tersebut terutama yang strategis seperti PLN, Pertamina, Krakatau Steel dan Garuda.

Dalam upaya “bersih-bersih BUMN, Erick Thohir langsung “tancap gas” dengan mengumumkan pencopotan seluruh sekretaris kementerian dan deputi. Untuk sementara, tugas deputi diambil alih oleh wakil menteri BUMN dan pelaksana tugas (plt).

Pengangkatan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai komisiaris utama Pertamina merupakan salah satu alasan Thohir untuk melawan para mafioso di sektor migas walau semula ditolak oleh serikat pekerja yang agaknya menjadi “kaki-tangan” pihak-pihak yang diuntungkan selama ini.

Sejumlah nama yang dikenal mumpuni dan memiliki nyali melakukan perombakan BUMN seperti mantan Menhub Ignasius Jonan dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga kabarnya sedang disiapkan untuk memimpin salah satu BUMN strategis.

Erick saat jumpa pers (5/12) mengungkapkan kesedihannya karena saat pihaknya sedang berupaya meningkatkan kinerja dan citra BUMN, ternyata ada saja oknum-oknum di dalamnya yang tidak siap.

“Dirut Garuda akan saya berhentikan, “ tandasnya seraya menambahkan penyelundupan tersebut bukan lah aksi perseorangan, tetapi terencana dan terstruktur.

Selain, nama Ari Akhsara terdaftar dalam ferry flight dengan nomor penerbangan GA9721 itu, berdasarkan hasil telusuran Komite Audit, sepeda motor HD dibeli pada April 2019 yang pembayarannya ditransfer oleh Manager Garuda kantor perwakilan Amsterdam.

Terkuaknya kasus penyelundupan dengan pesawat dan oleh jajaran Garuda Indonesia kali ini bisa jadi bagai “ gunung es” yang hanya tampak puncaknya di permukaan.

Jangan-jangan permainan terjadi di kalangan BUMN strategis lainnya dengan modus operandi yang berbeda-beda sesuai fungsi dan kegiatan bisnis yang diembannya.

Jika begitu, tugas berat menghadang Erick Thohir bersama segenap jajarannya jika betul-betul ingin membenahi perusahaan pelat merah itu.

Pak Menteri, jangan ragu bersihkan terus BUMN dari para mafia dan pemburu rente!

Advertisement