
MIRAGE 2000-5, pesawat tempur multi peran generasi keempat buatan Perancis bekas pakai AU Qatar menjadi pilihan untuk mengisi celah kekuatan matra udara Indonesia dalam lima tahun ke depan untuk menggantikan pesawat yang sudah mengakhiri masa pakai.
Pasalnya, 42 unit pesawat tempur generasi kelima Rafale buatan pabrik yang sama, Dassault Aviation (DA), Perancis yang sudah diorder sebelumnya, diperkirakan baru tiba lima atau enam tahun lagi.
Sementara matra udara yang dimiliki TNI-AU sudah menyusut tajam setelah masa pakai 32 unit pesawat Skyhawk seken (30 unit dibeli dari Israel dan dua unit bekas pakai AL AS) dan 16 unit Tiger II F/E (semua buatan AS) pensiun (2004 dan 2016).
Dengan pertimbangan itu lah, demi mencapai kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force – MEF) yang sampai kini masih di bawah 100 persen, dilakukan pembelian pesawat tempur seken dari Qatar tersebut.
Kontrak senilai 733.000 Euro (sekitar Rp11,8 triliun), kata Karo Humas Setjen Kemhan Brigjen Edwin Adrian Sumantha (15/6) sudah ditandatangani Mei lalu dengan agen Excalibur International, Republik Ceko, sedangkan pengirimannya 24 bulan kemudian.
Selanjutnya, jika tiba nanti, sembilan unit Mirage 2000 single seat dan tiga unit lagi dobble seat akan ditempatkan di Skadron Udara I Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat.
Mirage 2000-5 adalah pesawat tempur buatan 1980-an yang antara lain memiliki sistem avionik fly-by-wire yang terintegrasi, tidak lagi menggunakan sistem analog, pemindaian elektronik (electronically scanned array (AESA) yang ditingkatkan serta pelacakan infra red.
Dengan pertimbangan itu lah, demi mencapai kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force – MEF) yang sampai kini masih di bawah 100 persen, dilakukan pembelian pesawat tempur seken dari Qatar tersebut.
Pro kontra
Namun pengadaan Mirage seken itu juga menuai pro-kontra, karena Presiden Jokowi sebelumnya pernah menekankan pembelian pesawat baru, begitu pula DPR yang pernah menentang pembelian pesawat tempur Eurofightrer bekas pakai AU Austria pada 2020 lalu.
Bagi yang setuju, pembelian pesawat baru jauh lebih murah harganya, sehingga bisa diperoleh lebih banyak jumlahnya dan bisa cepat didatangkan, tanpa menunggu proses pembuatannya.
Sebaliknya, yang menolaknya, berdasarkan pertimbangan, biaya pemeliharannya lebih mahal, kurang bergengsi dan teknologinya bukan yang terbaru.
Namun khusus terkait pembelian Mirage bekas pakai AU Qatar, Menhan Prabowo menyebutkan, manfaatnya antara lain, sebagai transisi untuk menyiapkan awak dan teknisi pesawat menyongsong kedatangan pesawat generasi 5.0 Rafale yang sudah dipesan.
Mirage 2000-5 adalah jenis pesawat tempur multiperan generasi keempat bermesin tunggal dan bersayap delta diproduksi Dassault Aviation, Perancis. Terbang perdananya pada 10 Maret 1978.
Sebanyak 600 unit Mirage 2000-5 sudah diproduksi hingga kini, dioperasikan oleh AU Perancis , Brazil, India, Uni Emirat Arab, Mesir, Peru, Taiwan dan Yunani.
Mirage 2000-5 memiliki panjang 14,36 M, rentang sayap 9,13 M, bobot 13.000 ton, kecepatan 2,2 Mach (2.336 Km per jam) dan daya jelajah 1.550 Km dan diawaki satu orang, kecuali tandem untuk varian pesawat latih.
Persenjataanya a.l kanon 30 mm, empat cantelan di bawah sayap dan lima di bawah badan untuk tanki BBM dan bom, pod roket Matra 68 mm, masing-masing dua rudal udara ke udara Mica, Matra R550 dan Super 530D dan rudal udara ke permukaan Exocet AM39.
Walau pesawat seken, Mirage 2000-5 masih bisa diandalkan untuk mengawal dirgantara Indonesia.




