DALAM politik tak ada musuh yang abadi, karena yang abadi justru kepentingan itu sendiri. Dunia perwayangan ternyata merujukĀ kepada hal yang sama. Ketika asmara telah mendominasi seluruh jiwa raga dan tenaga, permusuhan itu berbalik jadi pergulatan seru di atas ranjang. Saling banting, saling piting, tapi sambil merem melek dan mandi keringat.
Inilah yang terjadi atas Mustakaweni dengan Bambang Priyambodo, putra Harjuna dari Madukara. Semula dia ditugaskan memburu pencuri Jamus Kalimasada, tapi begitu ketangkap, malah jatuh cinta. Soalnya maling wedok Mustakaweni ternyata cantiknya luar biasa. Putih, seksi, mirip-mirip artis Raisa. Dasar trah Harjuna, ukuran celana Bambang Priyambodo langsung berubah.
āPetruk, tolong pusaka Jamus Kalimasada ini kamu bawa. Saya mau membawa tawananku ke hotel,ā kata Bambang Priyambodo.
āBukannya dibawa ke Rutan Pondok Bambu atau LP Sukamiskin Bandung, disatukan dengan koruptor lainnya?ā nada kalimat Petruk agak menyelidik.
āSsst, bisa hamil nganggur dia nantiā¦ā¦ā
Bambang Priyambodo ā Mustakaweni dalam hitungan menit sudah menghilang, masuk ke lobi sebuah hotel. Tinggal kini punakawan Petruk duduk termangu memegang pusaka Jamus Kalimasada. Dokumen yang bentuknya mirip amplop itu diamati berulang-kali. Petruk sungguh heran, barang hanya begini begitu banyak jadi rebutan orang, dibelai sampai main colong segala. Padahal jika diborg-kan ke bank apa juga laku?
āHei Jamus Kalimasada, apa sih kelebihanmu sehingga kau jadi idaman setiap negeri?ā kata Petruk seperti orang gila, benda mati kok diajak bicara.
āKamu nggak ngerti sih. Kalau kamu mau, minta apa saja bisa dikasih, asal jangan uang.ā Jawab sebuah suara tanpa wujud, sepertinya dari Jamus Kalimasada itu sendiri.
āAh yang bener? Jangan ngibul lho ya.ā
āCoba saja.ā
Sebetulnya Petruk lebih suka tebas mentah bentuk uang saja, soalnya praktis. Tapi karena si Jamus Kalimasada tak sanggup, akhirnya dia minta kesaktian saja, minimal kebal bacokan. Ternyata benar. Dalam hitungan detik, Petruk menjadi sakti mandraguna, tidak mempan dibacok, hanya kalau pakai sepatu tetap mlecet. Sudahlah, dengan kesaktian ini, Petruk ingin cari peluang untuk pengembangan diri, masak seumur-umur jadi pembantuuuuu terus.
Dengan kesaktian baru Petruk layak jadi debt colektor, untuk mengintimidasi nasabah mrengkel. Ternyata keinginannya jauh dari itu. Saat perjalanan tiba di negeri Lojitengara, dia segera menggulingkan Prabu Belgeduwelbeh selaku penguasanya. Prabu Belgeduwelbeh berhasil dibinasakan, dan dia kini dinobatkan menjadi raja pengganti. Nama penguasa lama tetap dipakaianya, dengan maksud agar segala transaksi proyek tak perlu lagi perubahan akte.
Seminggu berkuasa semua pejabat Lojitengara diganti dengan pejabat PLT. Becak yang dulu sudah dihapus oleh raja-raja pendahulunya, kini dihidupkan lagi. Kata Prabu Belgeduwelbeh, ini bentuk keberpihatan pada wong cilik. Bahkan BBM premium yan baru saja dinaikkan langsung diturunkan kembali. Soal Pertamina terkuras anggarannya, kata Prabu Belgedeuwelbeh, itu bukan urusannya.
āHei Patih Gagak Samodra, jadi raja kok nggak punya permaisuri. Rasanya nggak afdol banget nih.ā keluh Prabu Belgeduwelbeh.
āCari segera, kenapa. Janda apa perawan, nanti hamba yang siap melamarnya,ā
Sebenarnya, sedari dulu Petruk yang kini jadi Prabu Belgeduwelbeh ini sangat āngancamā banget kepada Banowati istri Prabu Duryudana. Maka mumpung telah sukses menjadi raja, dia ingin melamar istri petinggi Ngastina tersebut. Patih Gagaksamodra yang tak tahu latar belakang sicewek, langsung saja berangkat. Maklum, di otaknya hanya ada pemikiran, bagaimana bisa mark up biaya perjalanan dinas itu.
Ternyata orang Ngastina baik benar. Ketika patih Gagaksamodra menyerahkan biodata raja barunya berikut pasfoto 4 X 6, Patih Sengkuni langsung menyerahkan saja Dewi Banowati. Tanpa acara tetek bengek, istri Prabu Duryudana tersebut dikirimkan ke Lojitengara. Bila ada surat pengantar, kalimatnya pun pendek banget. āBersama ini saya kirimkan Dewi Banowati yang paduka maksudkan, semoga bisa digunakan seperlunya.ā
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā āKok langsung diserahkan, kenapa tidak pakai perang dulu?ā kata patih Gagaksamodra terheran-heran.
āOo, nggak perlu. Ngastina negara cinta damai kok, lagi pula stok Banowati di sini masih aman sampai Lebaran,ā jawab Patih Sengkuni sambil melirik Prabu Duryudana.
Patih Gagaksamodra gembira bukan kepalang. Tanpa buang-buang energi telah berhasil memboyong Banowati. Tapi ternyata Prabu Belgeduwelbeh sendiri kaget, kenapa Banowati sekarang kok menjadi gemuk macam politisi banyak giringan proyek? Mungkin karena hidupnya semeleh (pasrah), apalagi suaminya yang tidak pernah diudak-udak KPK, begitu Petruk menghibur dirinya sendiri.
āDiajeng Banowati kok sekarang āsetu legiā (setengah tuwa lemu ginuk-ginuk)?ā tegur Prabu Belgeduwelbeh.
āMaaf, saya kurang olahraga, Oom.ā Jawab Banowati sambil tersenyum manja.
Malam itu juga Dewi Banowati diajak menginap di villa daerah Puncak. Prabu Belgeduwelbeh benar-benar kemaruk, memanjakan libidonya sepanjang waktu. Maklum, Banowati kan obsesi lama, sehingga kehadirannya benar-benar dimanfaatkan. Gemuk sedikit nggak apa, toh malah mendut-mendut laksana spring bed.
Namun di malam ke-4, ibarat kendaraan Banowati sudah tidak lagi nyaman dikendarai. Apa lagi begitu menemukan KTP di dompet BanowatiĀ dengan nama: Wara Limbuk, pekerjaan pembantu istana; seleranya kontan ngedrop. Sadar telah korban Banowati hoax, Prabu Belgeduwelbeh tinggalkan villa dan kirim SMS ke Limbuk: āKamu ternyata bukan Banowati, cuma Limbuk. Hari ini juga saya ceraikan…..!ā
āKurang ajar menceraikan istri cuma lewat SMS, apakah kamu Prabu Aceng Fetruki, ha….?ā begitu kata Limbuk setelah melabrak Prabu Belgeduwelbeh di istana Lojitengara.
āSaya sudah keluar Rp 250 juta, masak dapat barang rombeng,ā jawab Prabu Belgeduwelbeh dan ngeloyor pergi, tak pedulikan Wara Limbuk.
Ke mana sang prabu? Ternyata, dengan mengandalkan kesaktiannya, dia melabrak ke Ngastina untuk merebut Banowati asli dari tangan Prabu Duryudana. Tapi ternyata berita rencana serangan dari negeri Lojitengara ini sudah terdengar oleh para petinggi Ngastina. Tahu siapa sebetulnya Prabu Belgeduwelbeh, Pendita Durna segera telpon Ki Lurah Semar, minta bantuan untuk mengatasi kemelut ini.
āLho, kok rama Semar? Tumben-tumbenan ke Ngastina sendiri, ada job apa?ā kata Prabu Belgeduwelbeh basa basi.
āNggak usah tanya macem-macem kamu. Lepas baju kebesaranmu, dan serahkan Jamus Kalimasada, sebelum kamu saya serahkan ke KPK karena korupsi kekuasaan.ā
Prabu Belgeduwelbeh pun langsung loyo. Begitu dilucuti pakaian kebesarannya, tampaklah wujud aslinya sebagai Petruk. Dia harus pula mengembalikan Jamus Kalimasada kepada Bambang Priyambodo. Dan karena penyalahgunaan pusaka itu, Petruk diskors selama 3 bulan sebagai punakawan tanpa jaminan sepeserpun. (Ki Guna Watoncarita)
Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā



