
Beberapa hari lalu telah berlangsung Pilkate alias Pemilihan Ketua RT secara serentak di lingkungan kami, Ertiga (RW. 03) yang dulu dikenal sebagai “Kampung Pilkada” Depok Jaya. Dan yang terpilih sudah dilantik menjadi pengurus RT baru, 6 Januari 2018 di Balai Rakyat, Depok Jaya.
Proses penyelenggaraan Pilkate ini ada yang berlangsung secara terbuka dan ada yang menggunakan sistem tertutup. Pesta demokrasi “kecil” telah menghasilkan Ketua RT yang baru dan ada juga yang tetap mempertahankan incumbent (Petahana) meskipun sudah menjabat bertahun-tahun lamanya.
Tiada money politic (politik uang) dan tiada intrik-intrik politik menjelang dan selama berlangsungnya hajatan Pilkate tersebut. Tiada pula yang nyinyir dan melakukan fitnah keji untuk menduduki “jabatan strategis” yang langsung bersentuhan dengan rakyat (baca: warga) ini.
Bahkan, untuk menduduki posisi “Pemimpin Rakyat” tersebut, tak sedikit yang malah menolaknya. Barangkali, RT yang tidak termasuk dalam hierarki kelembagaan pemerintahan ini, lebih banyak memberi kepada rakyat daripada menerima dari rakyat, meskipun jabatannya bukan “Wakil Rakyat”. Sehingga, untuk menjabatnya benar-benar dibutuhkan hati nurani yang tinggi untuk mengabdi.
Merekalah sejatinya Pemimpin yang autentik, dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Bukan pemimpin yang berangkat dari modal uang, kejar setoran dan tunduk pada kepentingan donatur.
Bagi negeri ini, mereka adalah ujung tombak dan ujung tombok (bahasa Jawa: menambah atau mengganti kerugian), sebagai penanggung jawab bila ada kerugian tanpa campur tangan pihak asing.- Firmansyah Dimmy, (Ketua RW. 03 dan Pengurus Alumni ITB@Depok)




