PM JEPANG Sanae Takaichi merayakan kemenangan besar dalam pemilihan umum sela yang berlangsung pada Minggu (8/2).
Berdasarkan hasil proyeksi, seperti yang dilaporkan AFP yang dikutip Kompas. com (9/2), koalisi partai berkuasa berhasil mengamankan mayoritas dua pertiga kursi di majelis rendah yang sangat berpengaruh.
Takaichi yang menjabat sebagai PM perempuan pertama Jepang sejak Oktober 2025, mengumumkan pada bulan lalu, digelarnya pemilu sela musim dingin yang jarang dilakukan, untuk memanfaatkan popularitasnya yang meroket sejak dia diangkap memimpin LDP yang sejak lama berkuasa di Jepang.
Kemenangan ini memberikan mandat yang kuat bagi Takaichi untuk menjalankan agenda konservatifnya selama empat tahun ke depan.
Langkah Takaichi untuk mempercepat pemilu bulan lalu terbukti membuahkan hasil. Media lokal memproyeksikan Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinannya meraih sekitar 300 dari 465 kursi yang diperebutkan.
Bersama mitra koalisinya, blok pemerintah diperkirakan mengantongi setidaknya 310 kursi, sebagaimana dilansir AFP.
Di tengah euforia kemenangan, pasar keuangan kini menyoroti langkah Takaichi terkait utang publik Jepang yang sangat besar. Perdana menteri perempuan pertama Jepang berusia 64 tahun itu sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan pemotongan pajak dan peningkatan pengeluaran negara.
“Kami secara konsisten menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang bertanggung jawab dan proaktif,” tegas Takaichi pada Minggu (8/2) malam.
Dia menambahkan, pemerintah akan tetap menjaga keberlanjutan fiskal sembari memastikan investasi yang diperlukan.
“Sektor publik dan swasta harus berinvestasi. Kami akan membangun ekonomi yang kuat dan tangguh,” lanjutnya.
Selain isu ekonomi, kawasan Asia-Pasifik mengawasi arah kebijakan luar negeri Takaichi, terutama hubungannya dengan China.
Sosok Elang atau garis keras
Takaichi dikenal sebagai sosok “elang” yang kerap bersikap keras terhadap Beijing. Pada November 2025, pernyataannya mengenai Taiwan sempat memicu kemarahan pemerintah China.
Ia bahkan sempat mengisyaratkan bahwa Jepang bisa melakukan intervensi militer jika Beijing mencoba mengambil alih Taiwan dengan kekerasan.
Ketegangan ini diperparah dengan kunjungannya ke Kuil Yasukuni dan sambutan hangatnya terhadap Presiden AS Donald Trump baru-baru ini.
Sebagai balasan, Beijing sempat memanggil duta besar Tokyo dan menarik kembali dua panda terakhir milik Jepang bulan lalu.
Namun, pengamat politik dari Syracuse University, Margarita Estevez-Abe, menilai Takaichi kini memiliki ruang untuk meredakan ketegangan.
“Sekarang dia tidak perlu khawatir tentang pemilu apa pun hingga 2028. Jadi skenario terbaik bagi Jepang adalah Takaichi mengambil napas dalam-dalam dan fokus memperbaiki hubungan dengan China,” ungkap Estevez-Abe kepada AFP.
Tanpa Partai Warna baru Takaichi membawa warna baru bagi LDP yang sempat kehilangan dukungan akibat isu korupsi dan kenaikan harga.
Meski merupakan pemimpin perempuan pertama, dia tetap memegang teguh nilai-nilai konservatif. Salah satunya, dia menentang revisi undang-undang yang mewajibkan pasangan suami-istri menggunakan nama belakang yang sama, aturan yang selama ini membuat perempuan Jepang cenderung mengikuti nama suami mereka.
Menurut catatan, di balik pandangan politiknya yang konservatif, Takaichi memiliki sisi unik yang memikat pemilih muda. Mantan pemain drum heavy metal ini adalah pengagum “Iron Lady” Inggris, Margaret Thatcher.
Kepopulerannya di kalangan anak muda terlihat dari bagaimana para penggemar mengikuti gaya berpakaiannya hingga video viral saat ia menari lagu K-pop bersama Presiden Korea Selatan.
Selamat datang! Irasshaimase Takaichi san!





