MANGGARAI TIMUR, KBKNEWS.id – Deretan bangunan di kawasan pesisir Kelurahan Pota, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) tampak masih berdiri kokoh tanpa kerusakan fisik yang berarti. Namun, suasana permukiman tersebut begitu sunyi dan lengang tanpa ada satu pun penghuni yang terlihat beraktivitas di rumah masing-masing.
Kekosongan ini terjadi lantaran seluruh warga pesisir Pota serentak memutuskan mengungsi ke wilayah yang lebih tinggi, tepatnya di Kelurahan Nanga Mbaling yang berjarak sekitar 2,1 kilometer. Langkah evakuasi mandiri tersebut diambil akibat kekhawatiran mendalam terhadap ancaman tsunami menyusul getaran gempa yang terjadi.
Trauma masa lalu menjadi alasan utama kepindahan warga. Pada peristiwa gempa sebelumnya, wilayah pesisir mereka sempat diterjang tsunami kecil yang membekas kuat dalam ingatan, sehingga tinggal di dataran rendah pesisir dirasa terlalu berisiko.
Salah seorang warga Dusun Serai (Kampung Pasir), Kelurahan Pota, Arif Sudirman, menuturkan bahwa letak geografis wilayah tujuan menjadi pertimbangan utama keselamatan mereka. Saat ini, Arif bersama keluarganya mengungsi di Kampung Pacanda, Kelurahan Nanga Mbaling.
“Karena kami merasa di sini tempatnya tinggi dan aman. Kalau kelurahan Pota semua pada dataran semua, tidak ada gunungnya,” ungkap Arif Sudirman saat menjelaskan alasan kepindahannya, Jumat (28/8/2026).
Kedatangan para pengungsi pesisir Pota disambut dengan tangan terbuka oleh warga lokal di Nanga Mbaling. Sikap solidaritas terlihat dari kerelaan warga setempat meminjamkan pekarangan rumah sebagai lokasi pendirian tenda pengungsian darurat, lengkap dengan sokongan fasilitas mendasar.
“Alhamdulillah warga Nanga Mbaling, khususnya Kampung Pacanda, sangat menerima. Bahkan tenda-tenda kami ini dibantu oleh warga Nanga Mbaling untuk membangunnya, dan listrik juga dari warga Nanga Mbaling, begitu pula dengan air,” tambah Arif.
Keramahan dan penerimaan warga Nanga Mbaling berakar dari rasa kemanusiaan dan ikatan persaudaraan antardesa yang erat. Salah seorang tokoh warga setempat menegaskan bahwa membantu sesama di masa sulit merupakan panggilan nurani yang wajar dilakukan oleh siapa pun.
“Yang pertama, secara kemanusiaan itu tentu pasti siapapun merasakan hal yang sama. Kekeluargaan dan persaudaraan yang perlu kita ciptakan dengan baik, dan harapannya kita akan seperti ini ke depannya baik di saat suka maupun duka,” tutur salah seorang warga Nanga Mbaling.
Memasuki pekan kedua masa pengungsian, para warga di posko mandiri kini mulai menghadapi tantangan kesehatan akibat cuaca malam yang dingin ekstrem. Kebutuhan logistik khusus kelompok rentan, seperti minyak penghangat tubuh, susu anak, popok bayi, serta selimut tambahan, menjadi prioritas mendesak yang sangat dinantikan para pengungsi saat ini.





