
POTENSI ancaman gejolak pangan di Indonesia tidak hanya terjadi akibat perubahan iklim yakni kemarau panjang akibat fenomena El Nino, tetapi juga akibat blokade Rusia di Laut Hitam terhadap kapal-kapal Ukraina.
Rusia (20/7) kembali menangguhkan keikutsertaannya dalam program Inisiatif Biji-bijian Laut Hitam (Black Sea Grain Initiative) yang memungkinkan ekspor gandum Ukraina melalui Laut Hitam.
Keputusan tersebut, menurut sejumlah media Barat, diambil oleh Presiden Rusia Vladimir Putin yang berang atas serangan kedua kalinya terhadap jembatan strategis Kerch yang menghubungkan wilayah Rusia dengan Krimea, Ukraina yang dicaploknya dari Ukraina pada 2014.
Jembatan Kerch yang menjadi satu-satunya jalan darat untuk angkutan logistik, pengiriman pasukan dan urat nadi ekonomi kedua wilayah itu mengalami kerusakan akibat diserang drone-done Ukraina (17/6) dan sebelumnya juga runtuh akibat sabotase dengan bahan peledak pada 20 Okt. 2022.
Sebelumnya, pemblokiran terhadap ekspor gandum dan produk pertanian Rusia dicabut Juli lalu setelah ditengahi oleh PBB dan Turki demi menurunkan harga-harga pangan global yang melonjak hingga mencapai rekor tertinggi pada Maret 2022.
Kesepakatan pada Juli tersebut ternyata efektif meredam krisis pangan global dan menurunkan lagi harga pangan tercermin dari turunnya harga gandum 14 persen sepanjang 2023 dibandingkan saat pemblokiran Lau Hitam oleh Rusia, begitu juga jagung turun 23 persen.
Sehingga pencabutan kembali pemblokiran oleh Rusia dipastikan bakal mengatror lagi harga biji-bijian di tingkat global da pada gilirannya akan membuat harga roti dan pasta atau makanan berbahan gandum melonjak lagi.
Pihak Kremlin sendiri membantahnya dan menyebutkan, Rusia keluar dari kesepakatan tersebut sudah lama dipertimbangkan, karena sejumlah butir kesepakatan, a.l pencabutan sanksi pengucilan Rusia dari sistem transaksi internasional (SWIT)Â belum dipenuhi.
Lagi pula, pembukaan pintu Laut Hitam bagi kapal-kapal pengangkut produk pertanian terutama gandum dari Ukraina sesuai seruan PBB juga kecil manfaatnya bagi negara-negara miskin, karena hanya sekitar tiga persen dari total gandum Ukraina.
Eskpor gandum dan produk pertanian Ukraina, menurut versi Rusia, lebih banyak diekspor dengan harga murah ke negara-negara anggota Uni Eropa, sehingga para petaninya pun menjerit karena tidak bisa bersaing dari produk Ukraina.
Merugikan petani dan industri
Bagi Indonesia, imbas kebijakan Rusia tersebut bakal berdampak pada asar domestik terutama terhadap produk biji-bijian yang masih harus diimpor seperti gandum, jagung dan kedelai tak hanya bagi konsumen, tetapi juga industri sebagai penggunanya.
Lemahnya intensitas El Nino ditandai dengan turunnya curah hujan yang puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus dan September sesuai ramalan BMKG, dikhawatirkan akan menekan persediaan air sehingga terjadi kekeringan yang berdampak pada produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.
Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau, padahal tanpa pengaruh El Nino pun intensitas curah hujan pada Juli sampai Oktober diprediksi sudah rendah sehingga fenomena El Nino akan memicu penurunan curah hujan pada lokasi tertentu.
BMKG memprediksi, curah hujan antara Agustus sampai Oktober 2023 akan berada di bawah normal terutama di Sumatera, Jawa, Bali, NTB,NTT, sebagian Kalimantan dan Sulawesi.
Pemerintah sudah mengantisipasi potensi risiko gejolak pangan melalui program penguatan cadangan terhadap 12 komoditi yakni beras, jagung, kedelai, migor, gula, daging ayam dan ruminansia, telur ayam, cabai, bawang merah, bawang putih dan ikan.
BUMN sektor pangan juga disiapkan untuk terlibat dalam skema pembiayaan komoditi pangan, namun yang juga penting, para petani, peternak, nelayan dan produsen pangan lokal mendapatkan laba atas usahanya menyokong ketahanan pangan.
Last but not least, di tengah ancaman krisis pangan, jangan ada oknum atau pihak-pihak tertentu mengail di air keruh, melakukan praktek sebagai spekulan. (Kompas/ns)




