Yogyakarta (KBK) – Batang bambu sepanjang  5 meter melintang di atas empang berair hijau. Sambil mengumbar tawa, siang itu Muhammad As’ad (12) dan Candra (11) berjalan meniti bambu tersebut.
Ketika Candra yang berjalan di belakang As’ad memanggil, perhatian As’ad pun pecah. Langkahnya tak lagi memijak bambu. Jeburrrr….
“Hahaha enak yo basah-basahan,” ucap Candra melihat tubuh As’ad basah kuyub.
Berjarak 8 meter dari wahana bambu keseimbangan, Laili Badriah (6) tak henti-hentinya tertawa. Bersama Kartika (10) kedua bocah putri itu dulu-duluan menaiki ban mobil yang digantung dengan tambang. Meski mendung mulai menyapa Desa Wisata Garongan, Turi, Sleman, DIY namun anak-anak mantan pekerja migran Indonesia itu tetap ceria menikmati outbond. Itu lah dia potret kecil suasana Sarasehan dan Jambore Nasional Keluarga Migran Indonesia yang berlangsung dari tanggal 4 sampai 5 febuari 2018.
Ayah As’ad, Suyatman eks pekerja migran asal Kulonprogo, DIY menuturkan adanya sarasehan dan jambore nasional keluarga migran membuat dirinya bahagia karena dapat bertemu dengan teman semasa mengadu nasib di Malaysia.
“Senang aja, karena bisa ketemu teman lama,” ujar Suyatman yang datang bersama istri dan dua orang anaknya.
Setelah kembali dari Negri Jiran kini Suyatman bekerja sebagai sopir pengangut kedelai di desanya. Lain lagi dengan Atang, buruh migran asal Sambas, Kalimantan Barat yang siang itu asik berdiskusi sambil memerhatikan putranya yang bermain jembatan gantung. Menurutnya acara jambore ini dapat membangkitkan semangatnya lagi untuk bisa berusaha di negri sendiri.
“Saya merasa tidak sendiri. Dari sini saya ingin berdaya,” ucap Atang yang kini telah menetap di DIY setelah menikah dengan Tarji, sesama buruh migran di Malaysia.
Kini Atang hanya menjadi ibu rumah tangga dan Tarji berpovesi sebagai supir bus lintas sumatera. Kendati kehidupan mereka masih belum sejahtera, namun senyum yang mereka pancarkan saat mengikuti jambore bak harapan yang terpupuk untuk bisa menjemput kehidupan yang lebih baik.





