KEAKRABAN tulus tampak saat Presiden Joko Widodo memegang erat tangan, menuntun tamu negara yang sudah berusia lanjut, Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud, menyiratkan kehangatan hubungan Indonesia dengan Arab Saudi.
Lawatan Raja Salman bersama 1.500 anggota rombongan ke Indonesia, tidak hanya fantastis dalam jumlah, bersejarah karena merupakan kunjungan kedua Raja Arab Saudi sejak kunjungan Raja Faisal 47 tahun lalu, juga istimewa dilihat dari besarnya nilai komitmen kerjasama yang disepakati.
Pada lawatan resmi tiga hari di Jakarta 1 sampai 3 Maret Raja Salman didampingi 25 pangeran dan 14 menteri yang juga anggota keluarga kerajaan serta sejumlah pengusaha, khususnya dari perusahaan minyak negara, Aramco.
Dari Jakarta, Raja Salman dan rombongan akan berlibur di Bali sampai 9 Maret, kemudian melanjutkan lawatannya ke Brunei, Jepang, Tiongkok, Maladewa dan Jordania sampai akhir Maret.
Sebelas butir kerjasama menyangkut peningkatan sidang komisi bersama, pendanaan proyek pembangunan, pendidikan dan kebudayaan, pengembangan UMKM, kesehatan, kesepahaman otoritas aeronautika, sains dan teknologi, agama Islam, kelautan dan perikanan serta perdagangan.
Belum diperoleh rincian mengenai seluruh nilai kesepakatan kerjasama kecuali megenai pembiayan proyek bernilai satu miliar dollar AS (sekitar Rp13,3 triliun) dan pembangunan kilang di Cilacap sebesar enam milyar dollar AS (sekitar Rp80,2 triliun).
Dalam lawatan Raja Salman ke Indonesia yang merupakan balasan atas kunjungan Presiden Jokowi pada 2015, sebelumnya diestimasikan akan melakukan komitmen kerjasama senilai 25 juta dollar AS atau sekitar Rp332,5 triliun. Jumlah luar biasa dibandingkan Investasi Arab Saudi di Indonesia yang pada 2016 cuma menempati urutan ke-57 dengan nilai 0,9 juta dollar AS.
Sektor ekonomi menjadi fokus kerjasama RI dan Arab Saudi dalam kunjungan Raja Salman, sejalan dengan Visi Arab Saudi 2030 terkait transformasi ekonomi nasional yang dicanangkan untuk mencari alternatif pendanaan pembangunan ekonomi yang semula hanya bertumpu pada produksi minyak bumi.
Arab Saudi menikmati rezeki dari “booming” minyak seiring merangkak naiknya harga minyak yang sebelum dekade ‘1970an cuma beharga satu dollar AS per barrel, pada pasca Revolusi Iran di 1980-an menembus 100 dollar dan pada puncaknya 147 dollar AS pada 2007, baru kemudian trend-nya menurun menjadi 115 dollar pada 2015, bahkan anjlok menjadi 27 dollar pada Februari 2016 sebelum berada pada kestabilan harga di kisaran 50 dollar saat ini.
Selain menipisnya cadangan minyak di perut bumi sehingga tidak mustahil pada suatu saat nanti akan terkuras habis, trend turunnya harga minyak, membuat Arab Saudi mencoba berpaling mencari alternatif lain bagi pemasukan devisa.
Mulai sadar
Sejak itu, Arab Saudi sadar, negeri itu tidak bisa selamanya menggantungkan diri pada hasil minyak. Raja Salman yang dinobatkan sebagai putra mahkota pada 2012, mulai melirik ke Timur dan dua tahun kemudian melakukan lawatan ke Jepang,Tiongkok, India dan Pakistan.
Di sisi lain, peta geopolitik di Timur Tengah tidak terlepas dari perebutan pengaruh termasuk antara Iran dan Arab Saudi di tengah friksi-friksi dan konflik yang terjadi di Suriah, Irak, Libya, Yaman dan Bahrain.
Dalam konflik Suriah yang sudah berjalan enam tahun dan menelan korban 320.000 jiwa, Iran berada di belakang rezim petahana Bashar al-Assad, sebaliknya Arab Saudi mendukung kelompok perlawanan. Irak, Arab Saudi mendukung kelompok separatis Kurdi dan Arab Sunni melawan rezim pemerintah beraliran Syiah dukungan Iran.
Arab Saudi terlibat dalam koalisi Arab untuk mendukung rezim pemerintah Yaman di bawah Mansour Hadi, melawan pemberontak Houthi dari kelompok Syiah yang juga didukung Iran.
Dalam penanggulangan terorisme, Arab Saudi berinisiatif menggalang aliansi bersama 39 negara-negara Islam dengan membangun markas komando di Riadh di penghujung 2015.
Pemberian penghargaan dari Raja Salman berupa naik haji gratis bagi orang tua lima anggota Densus 88 Polri yang gugur dalam operasi melawan teroris mencerminkan komitmen Arab Saudi dalam upaya penanggulangan kejahatan yang beroperasi di lingkup global itu.
Terkait isu Palestina, Arab Saudi mendukung kelompok Mahmoud Abbas di Tepi Barat, berseberangan dengan Iran yang berpihak pada kelompok garis keras Hammas berkedudukan di Jalur Gaza.
Sikap RI yang tetap memegang teguh solusi damai terhadap berbagai isu dan konflik dunia , menurut Menlu Retno Marsudi, menciptakan kepercayaan dari mitra-mitranya termasuk Arab Saudi.
Sikap itu lah, menurut dia, menjadi landasan untuk memperkokoh kerjasama antara RI dan Arab Saudi, walaupun RI dengan Iran juga menjalin hubungan baik termasuk bekerjasama di sektor energi, dan juga bersikap tidak memihak dalam konflik dalam negeri Suriah.
Lebih jauh Retno mengemukakan, Arab Saudi sangat memahami kedudukan RI sebagai negara nonblok yang menganut politik bebas aktif . “Di setiap kesempatan, Indonesia terus menekankan komitmennya bagi perdamaian dan sikap inklusif dengan mengedepankan perundingan untuk menyelesaikan konflik.
Relasi RI – Arab Saudi tidak hanya di sektor ekonomi dan politik saja. Ada 1,5 juta pekerja Indonesia di Arab Saudi, mayoritas perempuan. Walau pengiriman tenaga kerja informal distop sejak Mei 2015, Migrant Care melaporkan, lebih 260.000 tenaga kerja perempuan berangkat ke Arab Saudi sepanjang 2016.
Arab Saudi modern
Sementara Sekretaris Umum Ketua PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menanggapi adanya kekhawatiran sejumlah pihak terkait paham radikal Wahabi dan sikap fundamentalis lainnya, menurut dia, Arab Saudi sudah banyak berubah saat ini walaupun kelompok-kelompok semacam itu masih ada.
Saat ini Arab Saudi sudah modern. Sebagian pangeran atau keluarga kerajaan menuntut ilmu di Barat. Di Arab Saudi sendiri sudah didirikan perguruan tinggi khusus bagi perempuan, sudah ada anggota parlemen perempuan dan perempuan sudah bisa mempeoleh Surat Izin Mengemudi (SIM), sesuatu yang dulu tabu.
Memang, perubahan tidak bisa terjadi dalam sesaat, apalagi pemerintahannya berbentuk monarki kerajaan. “Tetapi yang jelas, Arab Saudi sekarang banyak berubah, “ tutur Mu’ti.
Sedangkan Ketua PB Nahdlatul Ulama Robikin Emhas mengemukakan, Arab Saudi dan RI bisa bersama-sama membangun Islam moderat. Penduduk Indonesia yang beragam, begitu pula agamanya, bisa dijadikan contoh kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah perbedaan.
Direktur Wahid Institute Yenny Wahid menilai, Arab Saudi memahami peran Indonesia di kancah politik global, sehingga pemerintah negara “petro dollar” itu tertarik menjalin kemitraan dengan Indonesia. “Kesempatan ini harus bisa kita manfaatkan, “ katanya.
Namun Yenny mengakui, banyak hal harus dibenahi, misalnya untuk menggaet investasi dari negeri itu, Indonesia mungkin kalah siap dibandingkan Tiongkok .
Pemerintah Tiongkok, ujarnya, menyiapkan zona khusus dengan berbagai fasilitas dan kemudahan, sehingga investor tinggal masuk. Sebaliknya di Indonesia, investor harus membangun prasarana dan sarana sendiri, yang kadang-kadang prosedurnya berbelit-belit, termasuk pembebasan tanah.
Sejumlah komitmen kerjasama sudah dituangkan selama tiga hari Raja Salman di Jakarta. Selanjutnya, yang harus ditindaklanjuti adalah langkah-langkah nyata untuk merealisasikannya. Ini bukan perkara mudah.
Jangan sampai, setelah tamu pulang, peluang pun berlalu!





