
SEBANYAK 65,8 juta atau 24 persen dari 274,16 juta total penduduk Indonesia pada 2022 berusia produktif antara 16 sampai 30 tahun pada 2022 yang merupakan bonus demografi.
Namun demikian, kuncinya adalah prioritas pembangunan manusia untuk mengejar bonus demografi tersebut yang akan mencapai puncaknya pada 2030 untuk menyongsong Indonesia Emas ada 2045.
“Kuncinya, memaksimalkan bonus demografi dengan meningkatkan kompetensi SDM dan penciptaan lapangan pekerjaan, “ kata Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendi dalam acara diskusi, (7/6) lalu.
Namun persoalannya, misalnya menyangkut pendidikan, jenjang tiga tahun pendidikan SMK belum mampu menyiapkan Angkatan kerja siap pakai, sementara 1,3 juta juta dari tiga lulusan SMA setiap tahun yang melanjutkan kuliah, berarti 1,7 juta diantaranya memerlukan lapangan pekerjaan.
Dari 156 juta Angkatan kerja, tujuh juta menganggur dan sebagian besar bekerja di sektor informal atau kerja serabutan. Pada akhir Agustus 2022, tercatat 80,24 juta pekerja informal (59,31 persen) dari total angkatan kerja, 55,06 juta ( 40,69 persen) di sektor formal.
Kesulitan kerja, berdasarkan hasil survei Kompas diikuti 502 responden pada 26 – 29 April lalu, dialami sekitar 70,9 persen penduduk produktif di daerah.
Belum lagi masalah tengkes yang pada 2022 tercatat mencapai 21 persen lebih dan diharapkan bisa diturunkan ke 14 persen pada tahun 2024. Sementara jumlah warga miskin lia juta orang, 60 persen diantaranya berhimpitan dengan kasus tengkes.
Banyak persoalan lain, misalnya tawuran pelajar, geng motor, klithih atau aksi-aksi kejahatan oleh pelaku remaja atau usia sekolah yang marak di berbagai kota di Indonesia juga tidak pernah ada solusinya.
Bagaimana, menanamkan kejujuran, etos kerja keras atau semangat belajar jika mereka malah terobsesi untuk saling menyakiti, bahkan membunuh sesama remaja lainnya tanpa sebab
Maraknya kasus-kasus pencabulan dan kekerasan seksual di lingkungan sekolah, bahkan sekolah berbasis pendidikan agama, yang dilakukan pengajar atau pengelolanya, juga menunjukkan contoh perilaku buruk bagi para anak didik.
Banyak PR yang harus dikerjakan untuk mencapai bonus demografi di era Indonesia Emas 1945, jika tidak, kesempatan mungkin hanya terjadi sekali.




