Prabowo Nagih Janji (1)

Kepada Patih Prabowo dan Patih Pragota, Prabu Baladewa menegaskan, "Kalau ada sosok paling ikhlas, ya Prabowolah wayangnya."

NEGERI Mandura di bawah kekuasaan Prabu Baladewa, memiliki dua patih hasil KKN yang sangat kental. Mereka adalah patih yang diangkat bukan berdasarkan kompetensi dan profesionalitas, melainkan kekerabatan belaka. Keduanya putra Patih Saragupita di era pemerintahan Prabu Basudewa. Yang satu bernama Pragota sebagai patih njaba, dan satunya lagi bernama Prabowo sebagai patih njero. Mereka ini berebut pengaruh di mata Prabu Baladewa, tapi popularitas Patih Prabowo kalah jauh ketimbang Patih Pragota.

Sebagai adik Pragota, Patih Prabowo jarang bersinggungan dengan publik, apa lagi masyarakat akar rumput, baik rumput biasa maupun yang standar FIFA. Maklumlah, patih njero tugasnya hanya melayani Prabu Baladewa di lingkungan istana. Jika mau sekedar korupsi kecil-kecilan, paling dari anggaran dapur istana. Mau dapat sabetan agak gede hanyalah ketika ada jamuan makan kenegaraan. Sebab dana pesanan katering bisa naik 2-3 kali dari biasanya.

“Kangmas Patih Pragota, mbok sekali-kali kita tukar posisi. Aku jadi patih njaba dan sampeyan patih njero begitu, biar ada penyegaran.” Kata patih Prabowo sekali waktu.

“Saya sih mau-mau saja, tapi itu kan hak prerogratif Prabu Baladewa. Lagi pula jadi patih njaba harus pintar berdiplomasi menghadapi tamu negara maupun pers. Padahal kamu ngomong saja pating pecothot. Ho ho ho……” jawab Patih Pragota.

Pernah kejadian memang. Ketika Patih Pragota mendampingi Prabu Baladewa kunjungan kerja ke Dwarawati, patih Prabowo terpaksa menghadapi pendemo di depan Istana.  Padahal itu biasanya urusan Patih Pragota. Tahu sendiri kan, demo buruh asal dipimpin Tumenggung Said Ikbal narasinya keras sekali. Memang tak sampai bilang Prabu Baladewa bajingan tolol, tapi masa buruh yang ngogrek-ogrek pagar Istana menjadikan Patih Prabowo panik.

“Tenang, tenang wahai rakyatku…..!” kata Patih Prabowo tiba-tiba.

“Ngawur saja kamu! Itu narasi domain Prabu Baladewa, tahu!” omel Tumenggung Said Ikbal.

Cep klakep, Patih Prabowo kehabisan kata-kata, sehingga dia memilih diam dan masuk ke dalam. Tapi satu jam kemudian masa buruh bubar ketika sudah diberi nasi bungkus atas perintah Patih Prabowo. Begitulah kwalitas pendemo panasbung, asal dapat nasi bungkus yang dibagikan Korlap, langsung diam. Sebab mereka bukan buruh asli, bukan pula Buruh Sukarnoputra yang rumahnya jadi sengketa.

Rupanya bukan sekedar naik posisi menjadi patih njaba saja, tapi juga lebih dari itu. Sebab Prabu Baladewa pernah menjanjikan, posisi raja Mandura nanti akan dilungsurkan kepada keduanya, namun tergantung siapa yang punya kapasitas dan kapabelitas. Prabu Baladewa akan mengubah tradisi suksesi. Kenapa bisa begitu. Kraton Yogyakarta saja bisa mengangkat anak perempuan jadi Pangeran Mangkubumi, apa lagi dunia wayang, sesukak-sukak dalangnya lah.

“Lalu putra Prabu Baladewa si Wisatha mau dikemanakan? Dia kan calon tunggal penerus tahta paduka raja. Ho ho ho……” kata Patih Pragota sambil cengengesan.

“Dia biarkan saja jadi PNS. Sebab sama sekali tak bakat jadi penerus ingsun. Masak putra mahkota suka mabuk-mabukan, ngeganja, mimipin geng motor. Malu saya.” Jawab Prabu Baladewa, sehingga bikin hidung dua patih itu kambang kempis.

Memang, selama ini prestasi Wisatha tak ada yang bisa dibanggakan, sebagaimana anak-anak Pendawa seperti Gatutkaca, Antarejo dan Antasena. Setidaknya ya seperti putra Dwarawati adik kandungnyalah. Yang gede Setija jadi raja Trajutrisno, yang kecil si Samba pangeran mangkubumi kerajaan Dwarawati. Sedangkan Wisatha, sosok wayangnya saja nggak jelas. Dia tak pernah tampil di publik. Tak ada dalang pentas dengan menghadirkan Wisatha. Wayangnya saja sampai jamuran karena selalu ditaruh di kothak paling bawah.

Dalam rapat intern di istana Mandura yang dihadiri Prabu Baladewa dan kedua patih njaba-njero tersebut, kembali beliaunya menegaskan bahwa suksesi pemerintahan tergantung kesiapan Prabowo dan Pragota. Prabu Baladewa memang mendambakan seorang raja yang mampu melanjutkan mimpi-mimpinya demi kemajuan negeri warisan Prabu Kuntiboja kakek pepunden (junjungan)-nya.

“Lalu kira-kira Gusti Mandura lebih cocok ke saya, apa Prabowo adikku ini, ho ho ho….?” kata Pragota tanpa malu-malu.

“Oo, kalau ada tokoh  paling ikhlas yang Prabowolah wayangnya. ” Kata Prabu Baladewa, tentu saja Patih njero Prabowo jadi kembang kempis hidungnya.

Sebaliknya, Patih njaba Pragota jadi keki dibuatnya. Kata-kata paling akhir itu mengindikasikan bahwa sepertinya Prabu Baladewa lebih condong atau lebih sreg pada patih Prabowo. Dari umur dia juga baru 67, sedangkan dirinya sudah 72. Padahal di luar sana, sekelompok pengacara kondang sedang getol mengajukan uji materi ke MK, agar usia raja dan patih Mandura maksimal 70 tahun.  Jika dikabulkan MK, itu artinya peluang tinggal pada Prabowo dan otomatis Pragota pun out dari jabatan Patih Mandura.

Patih Pragota mulai berfikir, usaha apa yang akan dilakukan jika sudah tidak jadi patih Mandura. Bertani, tenaga sudah tidak  mengizinkan. Paling aman hanyalah jadi agen pulsa atau gas melon. Itu artinya harus merekrut sejumlah tenaga, khususnya untuk bisnis gas melonnya. Mana mungkin mantan patih Pragota kok ngangkat dan mengantar sendiri tabung gas ke rumah-rumah pelanggan. Kodok kalung kupat, awak boyok sing gak kuwat! (Ki Guna Watocarita)

Advertisement