PRABU PANDU PRAGOLA

Pandu Pragola yang ternyata Gareng habis diomeli Prabu Kresna, dutuduh mau pencitraan.

PUNAKAWAN ibarat baut untuk sebuah mesin. Jika baut  lepas, mesin bisa rewel karenanya. Kini terbukti. Setelah punakawan Gareng menghilang dalam sebulan ini, yang repot bukan saja Harjuna, tapi juga Pandawa berikut jajarannya. Betul Ngamarta masih ada sosok Semar, Petruk dan Bagong. Tapi Nala Gareng merupakan punakawan istimewa. Meski berstatus pembantu tapi tak pernah mengkomersilkan tenaga. Saat disuruh para kerabat Pandawa tak pernah berharap “uang rokok”. Dikasih sukur alhamdulillah, nggak diberi ya ….kebangetan!

Gareng memang luar biasa. Begitu dia minggat, kurs dollar AS melonjak drastis menyentuh angka Rp 15.000,- Otomatis beban hidup wong cilik semakin berat. Sejak harga beras Rp 10.000,- perkilo, banyak kawula kalangan katrok (baca: desa) makan tiwul, atawa rendeman kerak nasi. Bahkan pisang di kebun pun tak lagi aman. Tengah malam banyak yang “disunat” maling-maling kelaparan. Akibatnya, ekspor criping dan sele dari Ngamarta menurun drastis.

“Bagaimana ini kangmas Prabu Kresna, ketahanan pangan di Ngamarta sekarang rusak. Rakyat makan gaplek, tapi pejabatnya makan pakai beras  rajalele. Saya nggak tega…,” curhat Prabu Puntadewa kepada Prabu Kresna.

“Sama saja dimas Samiadji. Di Dwarawati makin parah, beras raskin banyak yang dikorup lurah.”

Hari itu Prabu Puntadewa mengundang raja Dwarawati, karena ada dua masalah besar. Pertama, adanya demo berjilid-jilid mengaku alumni Monas Australia. Kedua, soal raibnya punakawan Gareng dari keluarga besar Pandawa. Maklum, raibnya si mata juling Gareng telah menimbulkan  akibat multidimensi. Bukan saja ekonomi, ketahanan kedaulatan juga terancam. Terbetik kabar, seorang raja baru bernama Pandu Pragola tengah ekspansi wilayah di berbagai negeri. Jika berlandaskan  “teori domino”, tak lama lagi dipastikan Ngamarta terima juga giliran.

Ternyata benar. Belum juga ditemukan solusi tepat, mendadak masuk laporan bahwa utusan negeri Parang Gumiwang milik Prabu Pandu Pragola, ingin menghadap. Berdasarkan e-KTP miliknya, dia bernama Prabu Padasjempana, status bawahan Prabu Pandu Pragola. Baru dengar nama “Pandu Pragola”, kelenjar adrenalin Prabu Puntadewa kontan membanjir.

“Yuridis formil, Anda memang raja Ngamarta. Tapi karena sampeyan kurang peduli pada rakyat, maka telah kehilangan legitimasi. Karenanya lebih baik lengser saja, dan tunduk pada kekuasaan Prabu Pandu Pragola. Biar nggak nganggur, nanti sampeyan diorbitkan jadi Jaksa Agung,” kata utusan Prabu Pandu Pragola sangat menghina. Kalimatnya to the point saja, karena halaman sudah dijatah pas.

“Kepala lu peang,  minggat….!” potong Werkudara tidak sabar dan langsung menendang muka si tamu.

Prabu Padhasjempana terjerembab. Nggak ada sopannya sama sekali. Boro-boro disuguh minuman, tamu malah dilolohi tungkak (kaki masuk mulut). Kacaulah acara pertemuan di Ngamarta. Semua kompak hendak menangkap tamu arogan itu. Prabu Padasjempana protes, tamu negara kan punya hak imunitas, kenapa musti ditangkap? Tapi Werkudara bersama Gathutkaca, Antareja beserta Setyaki; tak peduli. Utusan Prabu Pandu Pragola tersebut diseret ke alun-alun lor, dekat warung sate Pak Amat, dimasa. Akhirnya Prabu Padhasjempana pun lari terbirit-birit.

Sementara itu Prabu Pandu Pragola di kraton Parang Gumiwang dekat Parangtritis, Bantul, tengah menggelar pertemuan. Selain  patih, hadir juga sejumlah petinggi kerajan yang berstatus PNS, dengan rekening langsing. Staf Prabu Pandu Pragola memang tak begitu banyak. Karena dalam prekteknya, pegawai berlebih hanya menambah anggaran, padahal kerjanya tidak optimal.

“Patih Malangyuda, tumben-tumbenan Prabu Padasjempana belum ada  kabar. Jangan-jangan ketangkep di   Ngamarta….,” ujar prabu Pandu Pragola sangat cemas.

“Tenang saja, sinuwun. Paling-paling mampir dulu ke Garut mau potong rambut.” Jawab patih Malangyuda, sambil  terus main WA di smartpone.

Prabu Pandu Pragola tersenyum. Pejabat kita ini demen latah. Ada pejabat tinggi cukur pithingan (potong rambut bawah pohon) saja dicemooh. Tapi setelah pejabat lain pada meniru, dianggap pencitraan. Urusan potong rambut saja  diseret ke ranah politik, pengin digunduli juga ngkali.

Benar-benar panjang umur Prabu Padasjempana. Baru saja diomongkan, dia mak bedunduk datang menghadap sang prabu. Namun laporan kali ini sungguh bikin kecewa. Biasanya melawan kerajaan mana saja  menang, kini Padasjempana melawan Ngamarta saja keyok.

“Kalau begitu besok kamu jadi Dubes di Zimbabwe ya….,” Prabu Pandu Pragola marah sekali. Hidungnya yang besar, makin membesar laksana buah tomat.

“Ogah ah. Mending pulang kampung ke Wonogiri, jualan kelapa juga masih laku…….”

Prabu Pandu Pragola mengerahkan segenap prajurit, bertekad menggempur kerajaan Ngamarta. Ternyata nyolong pethek  (di luar dugaan). Meski potongan dan jahitan gak sesuai, ternyata rosa-rosa ala Mbah Marijan. Seluruh sapukawat Ngamarta Gatutkaca Cs, berhasil ditangkap dan dipenjarakan ke LP Cipinang satu sel dengan Ahmad Dhani. Demikian pula Pendawa Lima ditahan di Lapas Gunung Sindur, satu ruangan dengan Buni Yani.

Negeri Ngamarta chaos, pemerintahan lumpuh, bahkan koran dan teve ditutup pemerintah, sementara situs internet diblokir. Rakyat kini tak bebas main medsos, sehingga tak leluasa lagi membully dan menghujat wayang-wayang beda pilihan.

“Makanya, di medsos bahas kuliner saja, jangan bahas politik. Memangnya bisa bikin kenyang, apa?” kata wayang kelas bawah yang jadi PPSU (petugas kebersihan).

“Ingat, jari jemarimu bisa memenjarakanmu. Ingat Jonru Ginting dan sekarang Ahmad Dhani dan Buni Yani.” Komentar wayang lain.

            Ki Lurah Semar melihat para pejabat Ngamarta jadi tahanan, segera perintahkan Petruk dan Bagong agar ikut bertempur, sebagai wujud kesadaran bela negara. Sayangnya mereka tak berani. Bagaimana mungkin bisa menang? Para tokoh Ngamarta yang serba digdaya saja semua keyok, apa lagi yang hanya punakawan tanpa kesaktian bisa menang? Ini kan sana saja sulung mlebu nggeni, ibarat laron masuk kompor gas 3 Kg.

“Sori Pak, anakku masih kecil-kecil. Pandu Pragola wayangnya kebal senjata, meski kalau bersepatu mlecet…,” reaksi Petruk – Bagong kompak.

“Berjuang membela negara adalah kuwajiban. Jika kalian mati, kelak saya usulkan jadi Pahlawan Nasional bareng Pak Harto – Gus Dur. Hayo berangkat!”  Semar mendesak kembali.

Kali ini Petruk – Bagong tak bisa menolak. Meski agak takut-takut, mereka melawan Prabu Pandu Pragola. Ternyata betul kata Semar. Dikerubuti Bagong – Petruk sekaligus, raja Parang Gumiwang kehilangan kekuatan dan kesaktian. Bahkan saat dikilik-kilik pusernya yang bodong itu, mendadak berubah jadi Nala Gareng.

Kondisi politik di Ngamarta mendadak berubah. Semua tahanan politik dibebaskan secara otomatis. Mereka keluar sel sambil ngomel. Iki lakon carangan model mana, punakawan kok mampu mengalahkan majikan.

“Nala Gareng, kenapa kamu berulah seperti ini. Apa maksudmu, mau pencintraan ya..?” Prabu Kresna mencari jawab.

“Ini sekedar demo gaya saya. Mau bakar diri nggak berani. Tapi ini sebuah peringatan bahwa pemimpin haruslah pro rakyat, jangan pro pengusaha. Pemimpin harus peka pada tuntutan rakyat, jangan malah mbudheg jadi Bolot…,” kata Gareng to the point.

Betara Kresna dan Prabu Puntadewa merah padam mukanya, lantaran dipermalukan punakawan sendiri. Kurang ajar, pemerintah kok dikritik. Untung saja ini sudah alam reformasi. Jaman Orde Baru dulu, LSM model Nala Gareng pasti sudah masuk tahanan, boleh jadi malah hilang tanpa bekas. (Ki Guna Watoncarita). ***

Advertisement