GARENG memang wayang luar biasa. Begitu dia minggat, kurs dollar AS melonjak drastis menyentuh angka Rp 14.000,- Otomatis beban hidup wong cilik semakin berat. Sejak harga beras Rp 10.000,- perkilo, banyak kawula kalangan van dorp (orang desa) makan tiwul, atawa rendaman kerak nasi. Bahkan pisang di kebun pun tak lagi aman. Tengah malam banyak yang “disunat” maling-maling kelaparan. Akibatnya, ekspor criping dan sale dari Ngamarta menurun drastis.
Untuk membahas permasalahan ekonomi bangsa, minggu lalu Prabu Puntadewa mengajak Begawan Abiyasa bersantap siang berdua di Istana Batanakawarsa. Hari ini giliran Prabu Kresna raja Dwarawati yang sekaligus Ketum Partai Karya Peduli Wayang. Diharapkan Prabu Kresna bisa memberi masukan penting. Jangan sampai karena masalah ekonomi mengancam NKRI (Negara Kesatuan Raja Indraprasta).
“Bagaimana ini kangmas Prabu Kresna, ketahanan pangan di Ngamarta sekarang rusak. Rakyat makan gaplek, tapi pejabatnya makan pakai beras rajalele. Saya nggak tega…,” curhat Prabu Puntadewa kepada Prabu Kresna.
“Sama saja dimas Samiadji. Di Dwarawati makin parah, beras plastik pun banyak yang dimakan.”
Hari itu Prabu Puntadewa mengundang raja Dwarawati, karena ada dua masalah besar. Pertama, soal banyaknya tokoh mempermainkan Jamus Kalimasada. Kedua, soal raibnya punakawan Gareng dari keluarga Pandawa. Isyunya ke AS menghadiri pelantikan Donald Trump, tapi kata Barack Obama lewat telpon, “Saya nggak ketemu tuh!”
Maklum, raibnya si mata juling Gareng telah menimbulkan akibat multidimensi. Bukan saja ekonomi, ketahanan kedaulatan juga terancam. Terbetik kabar, seorang raja baru bernama Pandu Pragola tengah ekspansi wilayah di berbagai negeri. Jika mengacu “teori domino”, tak lama lagi dipastikan Ngamarta terima juga giliran.
Setelah punakawan Gareng menghilang dalam seminggu ini, yang repot bukan saja Harjuna, tapi juga Pandawa berikut jajarannya. Betul Ngamarta masih ada sosok Semar, Petruk dan Bagong. Tapi Nala Gareng merupakan punakawan paling istimewa.
Ternyata benar. Belum juga ditemukan solusi tepat, mendadak masuk laporan bahwa utusan negeri Parang Gumiwang milik Prabu Pandu Pragola, ingin menghadap. Berdasarkan e-KTP miliknya, dia bernama Prabu Padasjempana, status bawahan Prabu Pandu Pragola. Baru dengar nama “Pandu Pragola”, kelenjar adrenalin Prabu Puntadewa kontan membanjir.
“Yuridis formil, Anda memang raja Ngamarta. Tapi karena sampeyan kurang peduli rakyat, maka telah kehilangan legitimasi. Karenanya lebih baik lengser saja, dan tunduk pada kekuasaan Prabu Pandu Pragola.” kata utusan Prabu Pandu Pragola sangat menghina. Kalimatnya to the point saja, karena halaman tak boleh melebihi jatah.
“Ndhasmu njeblug (kepala lu peang). Minggat….!” potong Werkudara tidak sabar dan langsung menendang muka si tamu.
Prabu Padhasjempana terjerembab. Nggak ada sopannya sama sekali. Boro-boro disuguh minuman, tamu malah dilolohi tungkak (kaki masuk mulut). Kacaulah acara pertemuan di Ngamarta. Semua kompak hendak menangkap tamu arogan itu. Prabu Padasjempana protes, tamu negara kan punya hak imunitas, kenapa musti ditangkap? Tapi Werkudara bersama Gathutkaca, Antareja beserta Setyaki; tak peduli. Utusan Prabu Pandu Pragola tersebut diseret ke Alun-alun Lor, untuk dimasa. Prabu Padhasjempana pun lari terpingkal-pingkal, sementara prajurit Ngamarta tertawa terbirit-birit!
Bersamaan dengan itu Prabu Pandu Pragola di kraton Parang Gumiwang dekat Tegal Parang (Mampang Prapatan), tengah menggelar pertemuan. Selain patih, hadir juga sejumlah SKPD kerajan. Staf Prabu Pandu Pragola memang tak begitu banyak. Karena dalam prakteknya, pegawai berlebih hanya bikin bengkak anggaran, padahal kerjanya tidak optimal. Jika ada pekerjaan butuh banyak tenaga, cukup dikerahkan tenaga PPSU atau Pasukan Oranye.
“Patih Malangyuda, mengapa Prabu Padasjempana belum ada kabar. Jangan-jangan ketangkep di Ngamarta….,” ujar prabu Pandu Pragola sangat cemas.
“Tenang saja, sinuwun. Paling-paling yak-yakan mampir dulu ke Israel, karena dia kurang belajar konstitusi negara.” sindir Patih Malangyuda yang asal dari Malang itu.
Benar-benar panjang umur Prabu Padasjempana. Baru saja digosipkan, dia mak bedunduk datang menghadap sang prabu. Namun laporan kali ini sungguh bikin kecewa. Biasanya melawan kerajaan mana saja menang, kini Padasjempana melawan Ngamarta saja keyok.
“Kalau begitu besok kamu jadi Dubes di Zimbabwe ya….,” Prabu Pandu Pragola marah sekali. Hidungnya yang besar, makin membesar laksana buah tomat.
“Ogah, ah! Mending pulang kampung ke Wonogiri, jualan kelapa juga masih laku…….” jawab Prabu Padasjempana.
Prabu Pandu Pragola mengerahkan segenap prajurit, bertekad menggempur kerajaan Ngamarta. Ternyata nyolong pethek (di luar dugaan). Meski potongan dan jahitan tak sesuai, ternyata dia rosa-rosa macam Mbah Marijan. Seluruh sapukawat Ngamarta Gatutkaca Cs, berhasil ditangkap dan dipenjarakan ke LP Cipinang. Demikian pula Pendawa Lima dijadikan tersangka dan dilarang ke luar negeri. Negeri Ngamarta chaos, pemerintahan lumpuh, bahkan koran dan teve tutup sementara.
Ki Lurah Semar melihat para pejabat Ngamarta jadi tahanan, segera perintahkan Petruk dan Bagong agar ikut bertempur, sebagai wujud kesadaran bela negara. Sayangnya mereka tak berani. Bagaimana mungkin bisa menang? Para tokoh Ngamarta yang serba digdaya saja semua keyok, apa lagi yang hanya punakawan tanpa kesaktian bisa menang? Ini kan sana saja sulung mlebu nggeni, ibarat laron masuk kompor gas melon 3 Kg.
“Sori Pak, anakku masih kecil-kecil. Pandu Pragola wayangnya kebal senjata, meski mlecet jika bersepatu…,” reaksi Petruk – Bagong kompak.
“Berjuang membela negara adalah kuwajiban. Jika kalian mati, kelak saya usulkan jadi Pahlawan Nasional bareng Pak Harto – Gus Dur. Hayo berangkat!” kata Semar mendesak kembali.
Lurah Karangkebolotan hasil lelang itu menyindir Petruk – Bagong kenapa jadi wayang kok cemen amat, kalah sama “pengantin bom” anak buah Bahrun Naim. Lantaran disindir-sindir terua, lama-lama tak mampu juga menolaknya. Meski agak takut-takut, mereka melawan Prabu Pandu Pragola semampunya. Ternyata betul kata Ki lurah Semar. Dikerubuti Bagong – Petruk sekaligus, raja Parang Gumiwang kehilangan kekuatan dan kesaktian. Bahkan saat dikilik-kilik pusernya yang bodong itu, mendadak berubah jadi Nala Gareng.
“Ee, ternyata kamu, Kang Gareng. Pantesan sakti amat,” sindir Petruk -Bagong.
“Namanya juga usaha Truk, ingin mengubah nasib.”
Dengan terbongkarnya gerakan makar ala Gareng, kondisi politik di Ngamarta mendadak berubah. Semua tahanan politik dibebaskan secara otomatis. Mereka keluar sel sambil ngomel. Iki lakon carangan model mana, punakawan kok mampu mengalahkan para majikan.
“Nala Gareng, kenapa kamu berulah seperti ini. Apa maksudmu, he…..? Kamu bisa dikenakan pasal subversif dan makar sekaligus. Jawab, tidak boleh lebih dari 7 menit! ” tegur Prabu Kresna keras.
“Ini sekedar demo gaya saya. Mau berorasi macam Sri Bintang Pamungkas, itu terlalu beresiko. Tapi ini sebuah peringatan bahwa pemimpin haruslah pro rakyat, jangan pro pengembang.” Tuduh Gareng waton nyata (asal nyata).
Muka Betara Kresna dan Prabu Puntadewa merah padam laksana habis dimeni, lantaran dipermalukan punakawan sendiri. Kurang ajar, kritik pemerintah kok seenak udelnya. Bisa kena pasal ujaran kebencian. Untung saja ini sudah alam reformasi. Jaman Orde Baru dulu, LSM model Nala Gareng pasti sudah masuk tahanan, boleh jadi malah hilang tanpa bekas. (Ki Guna Watoncarita).



