
GAZA – Kehidun di Gaza telah kembali normal setelah adanya agresi Israel pekan lalu yang menewaskan sedikitnya 25 warga Palestina dan empat Israel.
Setelah perjanjian gencatan senjata antara Gaza dan Israel, toko-toko dibuka kembali, para siswa kembali ke sekolah, dan orang-orang kembali bekerja.
Namun, keluarga korban tewas masih mengenang betapa buruknya pengalaman harus kehilangan anggota keluarga, misalnya saja keluarga al-Madhoun, yang tinggal di Jalur Gaza utara.
“Beberapa menit setelah saya pergi ke luar di taman, sebuah ledakan besar mengguncang rumah kami,” ungkap Ahmad al-Madhoun (34), kepada Al Jazeera.
“Aku berlari ke dalam berteriak berharap menyelamatkan keluargaku. Aku menemukan istriku, Amani, yang sedang hamil di bulan kesembilannya berdarah di bawah puing-puing. Dia dibunuh oleh pecahan peluru di perutnya.”
Secara total, lima anggota keluarga al-Madhoun terbunuh dalam serangan itu, lima lainnya terluka dan rumah keluarga dihancurkan.
“Ayah saya yang berusia 65 tahun Akram, istri saya Amani dan anak kami yang belum lahir, kakak saya Abdullah yang berusia 21 tahun, dan saudara ipar saya Fadi Bardan semuanya tewas dalam serangan itu,” kata Ahmad.
Di antara mereka yang terluka adalah putra Ahmad yang berusia tiga tahun Mahmoud, yang tetap dirawat di rumah sakit, putrinya Fatma yang berusia dua tahun dan tiga anak saudaranya.
“Istri saya sedang menyiapkan pakaian untuk bayi yang baru lahir,” kata Ahmad, matanya berkaca-kaca. “Anak-anak saya senang bermain dengan lentera Ramadan yang dibawa kakek mereka.”
“Di mana pembenaran menargetkan keluarga yang duduk damai di rumah mereka?” kenangya dengan sedih.




