Prioritas Anak RT-RW

Pak RT di Gunung Kidul, malah bunuh selingkuhan, sehingga ditangkap polisi.

JADI RT atau RW itu kerja sosial, bekerja penuh tanggungjawab tapi tanpa imbalan materi. Hanya RT di Jakarta saja dapat honor dari Pemda DKI, meski istilahnya adalah biaya operasional. Setelah dapat honor Rp 2 juta untuk RT dan Rp 2,5 juta untuk RW, kini ada usulan agar anak Pak RT dan Pak RW di usia sekolah dapat prioritas masuk sekolah dari jenjang SD hingga SMA. Yang mengusulkan anggota DPRD, Ima Mahdiah dari PDIP.

Usulan itu sampai muncul, karena sejak PPDB sistem zonasi, meski anak pandai kalau tidak dekat dari sekolah ya tidak bisa diterima. Sebaliknya meski anak itu  biasa saja dan cenderung bodoh, karena dekat sekolah ya bisa dapat bangku. Hal ini tentu saja bikin pusing orangtua. Pusing oleh kebijakan pemerintah, pusing pula ora akronim PPDB itu sendiri. Yang tidak mengerti mengira, PPDB itu akronim Pemberantasan Penyakit Deman Berdarah. Nggak tahunya, ternyata itu kepanjangan Penerimaan Peserta Didik Baru. Istilah Peserta Didik saja sudah bikin pusing, kenapa istilah murid kok diganti jadi Peserta Didik. Apa biar keren begitu?

Usulan Ima Mahdiah ini cukup bagus, senapas dengan pengendors dia masuk DPRD, mantan Gubernur Ahok BTP. Padahal RT-RW-nya dulu pernah menolak kebijakan Gubernur DKI soal KLU, yakni aplikasi online yang menjadikan pelaporan  lebih cepat, karena kegiatan RT-RW langsung ke tangan Gubernur DKI dan sekaligus dicarikan solusinya jika ada masalah. Mereka yang menolak KLU adalah para RT-RW yang masih gaptek soal HP smartpone.

Usulan anggota DPRD ini mengingatkan sekolah jaman Belanda dulu. Di masa itu ada sekolah tertentu semisal ELS (setingkat SD) yang dikhususkan untuk keluarga Belanda. Orang Indonesia bisa masuk bila anak orang terpandang atau pejabat negara (ambtenar). Orang biasa bisa masuk bila diaku anak oleh pejabat negara tersebut.

Semoga saja Plt Gubernur Heru bisa menerima dan mengeksekusinya, sehingga Pak RT dan Pak RW menjadi lebih bersemangat bekerja, karena merasa diperhatikan oleh Pemda. Mereka sudah bekerja 24 jam demi melayani warganya. Pelayanan administrasi memang bisa dilayani sebagaimana lazimnya, di sela-sela pekerjaan Pak RT-RW yang sesungguhnya. Tapi jika ada masalah antar warga tengah malam misalnya, meski mereka sedang tidur merenda mimpi, harus bisa menyelesaikan. Namanya RT atau RW memang harus bisa bikin rukun antara tetangga pada khususnya dan warga pada umumnya.

Tapi tak semua RT-RW bisa berbuat demikian, kebanyakan mereka hanya asal bisa melayani urusan administrasi untuk warganya ketika hendak berurusan dengan birokrasi negara dari kelurahan sampai tingkat atasannya lagi. Tak banyak yang mau mengurus soal lingkungan. Ada tiang listrik dan telepon di tengah saluran tak peduli, ada warga menyerobot jalan lingkungan diam saja. Pak RT-RW baru tergerak setelah ada kritikan atau laporan dari warga.

Pak RT-RW memang manusia biasa, sehingga kelakuannya juga seperti manusia biasa pada umumnya. Maka jangan heran, ada Pak RT-RW yang orientasinya keuangan. PKL dipalak, agar bisa tetap boleh jualan di wilayahnya yang dinilai strategis. Nambah bangunan tanpa IMB “digangguin” agar mau memberi upeti. Bahkan ada juga sudah jadi RW mau saja turun jadi RT karena demi honor bulanan Rp 2 juta.

Ada juga RT yang mustinya bikin rukun keluarga, tapi keluarganya sendiri malah tidak rukun. Pak RT menelantarkan urusan ke-RT-an karena dia sibuk dengan WIL-nya. Ironisnya Pak RT model begitu malah dipilih jadi Ketua RW gara-gara klik-klikan geng main gaple. Maka  kemudian kantor RW pun dibuat bebas main gaple.

Tapi itu masih mending, banyak Pak RT terlibat urusan perselingkuhan. Lihat saja Mbah Google, di sana sini ada saja Pak RT dan Pak RW jadi praktisi selingkuh. Tapi ya bagaimana lagi, itu memang sangat manusiawi. Maksudnya, meski imannya sekuat apapun, jika urusan “si imin” Pak RT-RW bisa terlena. Jangankan hanya Pak RT dan Pak RW, setingkat bupati dan menteri saja ada yang terlibat perselingkuhan. Jangankan menteri, setingkat raja saja ada yang suka ndhemeni bini orang.

Dalam cerita wayang misalnya, Prabu Basudewa raja Mandura selingkuh dengan Emban Sagopi dari Widarakandang sampai punya anak Udawa. Tak mengherankan bila kemudian dia diangkat jadi patih, karena Prabu Kresna yang menunjukknya sengguhnya kakak kandungnya sendiri. (Cantrik Metaram)

Advertisement