ANAK muda sekarang ini maunya yang serba instan. Kerja tidak capek, tetapi mendatangkan duit banyak. Tambah celaka lagi, mereka ini kesampingkan moral dan berani menabrak hukum. Maka kemudiam ada yang coba-coba bikin usaha rumah produksi film, tapi yang porno. Apa yang terjadi? Boro-boro sukses seperti Ram Punjabi, baru jalan setahun bisnis kotornya itu berjalan, sudah tercium polisi dan ditangkap. Itulah nasib 5 orang di Jaksel pendukung rumah produksi film cabul, mereka terdiri dari produser, sutradara, pemilik website, dan kameraman beserta editor.
Di mana lokasi tepatnya, rahasia dong! Wartawan peliputnya hanya dikasih tahu di Jaksel, begitu saja titik! Dan wartawannya pun menyerah tak bertanya lagi. Untung sumbernya dari kepolisian, sehingga dugaan bahwa ini berita hoaks sama sekali tidak benar. Masak polisi mau bohongi publik. Yang jelas pemberitaan model sekarang ya begitu itu, yang penting cepat tayang, tak peduli bahwa itu pelanggaran berat rumus berita 5 W 1 H.
Nama pelaku saja, polisi pelit memberikan kecuali sekedar inisial satu huruf. Sutradara misalnya, hanya disebut I. Itu bisa berarti Imam, Itok, Indra, atau Ismail. Yang jelas si I ini sebelum menggeluti film porno, adalah produser film horor dan komedi. Karena kurang laku, agar dapur di rumah tetap ngebul munculah ide untuk membut video seputar selangkangan alias film porno. Film beginian urusan begituan, selalu diterima pasar dan laris manis.
Teknologi rekam gambar yang semakin canggih, membuat I dan anak buahnya semakin bersemangat mewujudkan impiannya untuk merusak generasi muda. Jika dulu bikin film harus memiliki alat-alat canggih, kini pakai HP saja sudah bisa. Jika dulu gambar harus diproses di laboratorium Hongkong, kini sudah langsung bisa dilihat hasilnya. Setelah diedit tinggal dipasarkan, tidak perlu ribet macam Oom Ram Punjabi di Parkit Film dulu.
Aktor dan aktrisnya sebagai pemeran tak perlu teken kontrak segala. Mereka dibayar Rp 10 juta hingga Rp 15 juta untuk satu film. Jika produser untung banyak, para pemain takkan dapat royalti karena sudah jual putus. Tapi giliran kena masalah, ya harus ditanggung bersama-sama, meringkuk di penjara bersama-sama pula.
Memang film produksinya I Cs ini takkan diputar di Megaria Jakarta, REX Bandung, Indra atau Ratih Yogyakarta, atau juga Dedy Teatre Solo. Sebab film ini hanya bisa dinikmati lewat internet, melalui situs: https://kelassbintangg.com/, https://togefilm.com/, dan https://bossinema.com/. Ada yang durasinya 1 jam, ada pula yang 1,5 jam seperti di gedung bioskop. Bedanya di sini tanpa iklan.
Jenis atau tarif yang ditawarkan beragam, lewat paket berlangganan mulai dari 1 hari dengan membayar Rp 50 ribu, 1 minggu bayar Rp 150 ribu, 1 bulan Rp 250 ribu hingga 1 tahun Rp 500 ribu. Dengan sistem demikian, beroperasi sejak tahun 2022 si I telah berhasil mengumpulkan kocek Rp 500 juta dari 120 film yang dibuatnya. Sebetulnya masih pas-pasan, tapi setidaknya bisa menjadikan dapur di rumah produser dan sutradara I tetap ngebul.
Tetapi sepandai-pandai tupai berbisnis kotor, patrolisi siber Mabes Polri menemukan ketiga situs porno tersebut. Langsung saja I Cs dicokok. Masih ada lagi 16 pemeran lelaki dan wanita yang masih diburu. Yang mengejutkan para pemeran wanita ada juga dari kalangan artis, fotomodel dan selebgram yang sudah tidak menjual. Dalam kondisi kepepet, mereka bisa saja beralasan: “Honor Rp 15-10 juta lumayan, toh aset tetap utuh!”
Begitulah, video begituan masih diburu orang karena pada hakikatnya foto wanita bugil dengan segala aktivitasnya selalu menarik bagi mata lelaki. Ketika teknologi sudah modern bisa ditonton lewat video di internet. Tahun 1970-an film porno harus ditonton lewat proyektor yang berisik. Itupun nontonnya harus sembunyi-sembunyi sebab jika ketahuan polisi bisa diperkarakan.
Sebelum itu nonton hubungan intim lelaki-wanita dilakukan lewat mengintip pengantin baru. Banyak kejadian lucu soal beginian. Di Cipinang tahun 1970-an pernah terjadi, dinding rumah pengantin baru sampai roboh karena di luar ABG pada berebut ngintip. Di Yogyakarta, gara-gara sang pengantin baru kentut, esuk paginya viral para ABG berceloteh sesama teman. “Apa kowe ngentut (apa kamu kentut) ?” kata seorang ABG. Lalu temannya menjawab: “Ora... (tidak)!” Celotehan semacam itu lama-lama terdengar oleh si pengantin lelaki. Dia kaget dan hanya bisa memaki. “Itu kan dialog saya dan istri semalam? Kurang ajar, pada ngintip lu ya?”
Tak kalah lucu terjadi di Kebumen. Anak ABG berkaki pincang ikut-ikutan ngintip pengantin baru. Giliran pengantin lelakinya tahu, langsung pada kabur. Paling apes si pincang, karena tak bisa lari dia memilih bersembunyi di lobang sampah. Eh nggak tahunya si pengantin lelaki kemudian kencing di tempat sampah itu. Kepala si pincang basah kuyup diguyur air kencing beraroma jengkol. Ketimbang ketahuan, dia terpaksa diam seribu basa. (Cantrik Metaram)





