Profil Syekh Mohammed bin Abdulkarim Al-Issa, Diplomat Perdamaian yang Hubungkan Dunia Islam

Profil Syekh Mohammed bin Abdulkarim Al-Issa menarik untuk diketahui. (Foto: themwl.org)

Jakarta, KBKNews.id – Profil Syekh Mohammed bin Abdulkarim Al-Issa menarik untuk diketahui. Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia (Muslim World League/MWL) itu menemui Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis siang, 4 Desember 2025.

Kedatangan tamu dari dunia Islam ke Indonesia ini juga menjadi momen penting bagi civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Itu lantaran dia menjadi pembicara kunci yang menekankan pesan sederhana namun mendasar.

“Akhlak dan kejujuran adalah kunci umat Islam dalam membangun perdamaian dunia,” katanya pada Rabu, 3 Desember 2025.

Penganjur Islam moderat dunia itu menjelaskan, ajaran Nabi Muhammad Saw tentang integritas dan kemanusiaan harus menjadi fondasi umat Muslim menghadapi dunia yang kian beragam. Kalimat tenang itu mencerminkan posisi Syekh Al-Issa sebagai salah satu tokoh global paling vokal dalam mempromosikan moderasi dan dialog lintas agama.

Tokoh Moderasi dari Jantung Saudi Arabia

Syekh Mohammed bin Abdulkarim Al-Issa lahir di Arab Saudi pada 10 Juni 1965. Ia menempuh pendidikan tinggi dalam bidang hukum Islam dan meraih sarjana perbandingan fikih. Kemudian, dia mengambil gelar master dan doktoral di bidang hukum publik serta studi perbandingan hukum konstitusi.

Kariernya dimulai sebagai akademisi yang mengajar fikih, hukum, hingga isu-isu hak asasi manusia di berbagai universitas, termasuk Universitas King Saud dan Universitas Imam Mohammad Ibn Saud. Ia juga dikenal sebagai pemikir yang aktif berdialog dengan berbagai lembaga internasional, dari Eropa hingga Amerika Serikat.

Reputasinya membesar seiring komitmennya mengangkat nilai moderasi Islam dan upayanya meluruskan mispersepsi tentang agama. Pada 4 Agustus 2016, ia diamanahkan sebagai Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia, organisasi internasional yang beranggotakan 57 negara muslim. Di waktu yang sama, ia juga menjabat President of the Organization of Muslim Scholars.

Jejak Panjang di Pemerintahan dan Diplomasi

Sebelum memimpin MWL, Al-Issa dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam pemerintahan Arab Saudi. Ia pernah menduduki sejumlah posisi strategis, antara lain:

  • Wakil Ketua Dewan Pengaduan (2007)
  • Menteri Hukum Arab Saudi (2009–2015)
  • Ketua Dewan Mahkamah Agung (2012)
  • Penasihat di Dewan Kerajaan
  • Pengawas Pusat Peperangan Intelektual Internasional (2015)
  • Pengawas Umum Pusat Perdamaian Internasional Raja Salman (2017)

Media Barat dan Timur Tengah kerap menyebutnya sebagai salah satu politisi paling berpengaruh di Kerajaan Saudi, sekaligus diplomat kepercayaan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Puncak pengakuan atas perannya tampak pada musim haji 1443 H, ketika Al-Issa dipercaya menjadi khatib Arafah, sebuah amanah tinggi dalam tradisi Islam.

Pemikir Global yang Mendekatkan Peradaban

Di luar urusan birokrasi, Syekh Al-Issa dikenal sebagai jembatan antara agama, budaya, dan bangsa. Ia pernah memprakarsai “Perjanjian Paris untuk Keluarga Ibrahim demi Solidaritas dan Perdamaian”. Peristiwa ini mempertemukan pemimpin Yahudi, Katolik, Ortodoks, dan Islam dalam satu deklarasi bersama.

Ia juga aktif berbicara mengenai fikih, legislasi pidana Islam, hingga isu-isu hak asasi manusia. Pemikirannya banyak dituangkan dalam buku, riset, makalah, dan kuliah di berbagai universitas besar dunia.

Pada tahun 2020, ia datang ke Indonesia untuk menerima Gelar Doktor Honoris Causa bidang Peradaban Islam dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Hal itu sebagai penghargaan atas kiprahnya dalam mempromosikan moderasi dan menolak kekerasan.

Penghargaan Internasional

Syekh Al-Issa merupakan satu dari sedikit tokoh Islam modern yang mendapat penghargaan dari berbagai negara lintas agama dan budaya. Sejumlah medali dan penghargaan bergengsi yang pernah ia terima antara lain:

  • Medali Perdamaian Dunia dari Presiden Sri Lanka
  • Penghargaan Galileo International (2018)
  • Hilal-e-Pakistan (2022) dari Presiden Pakistan
  • Medali Duta Besar Perdamaian Internasional dari Presiden Gambia (2022)
  • Kunci Kota Sarajevo (2024) — tokoh Islam pertama yang menerimanya
  • Kunci Kota Alexandria (2024)
  • Medali Kehormatan Republik Malawi (2024)
  • Bintang “Dostyk” Kazakhstan (2025)
  • Medali Kehormatan dari Universitas Bologna (2024)

Ia juga menerima lebih dari enam gelar doktor honoris causa, termasuk dari Rusia, Serbia, Malaysia, Gambia, Universitas Perdamaian PBB di Jenewa, hingga Universitas Nasional Eurasia (2025).

Tidak hanya itu, pada September 2024, ia menjadi pemimpin agama Islam pertama yang diundang memberikan kuliah di Harvard University dengan topik “Hukum dan Agama”.

Peran di Liga Muslim Dunia

Sebagai Sekjen Liga Muslim Dunia, Syekh Al-Issa membawa organisasi itu ke panggung global melalui diplomasi lintas agama dan upaya memerangi ekstremisme. Fokusnya adalah:

  • Mengoreksi mispersepsi tentang Islam
  • Mempromosikan dialog antaragama
  • Menjembatani konflik identitas
  • Menyampaikan pesan Islam yang damai dan moderat

Dengan pendekatan ini, ia menjadi salah satu suara paling berpengaruh dalam perbincangan global tentang masa depan hubungan antaragama dan peradaban.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here