
KEPALA BMKG Dwikorita Karnawati mengimbau agar masyarakat menghemat penggunaan air menjelang puncak musim kemarau bulan Agustus sampai September, berlanjut dengan fenomena El Nino sekitar Oktober-November.
“Sekarang kemarau tiba bersamaan dengan El Nino, jadi kemarau kering, “ ujarnya di Jakarta, Rabu (9/8).
Berdasarkan tren pemantauan cuaca dan iklim, menurut Dwikorita, pada pertengahan Agustus hingga September kondisi udara kering bakal makin meningkat dan diperkirakan mereda ketika memasuki bulan Oktober.
Selain di sejumlah wilayah di Provinsi Banten yang terancam kekeringan, Dwikorita mengatakan, puncak El Nino terjadi di sebagian wilayah Indonesia sampai awal Desember sehingga musim hujan datang terlambat di Nusa Tenggara dan Papua Selatan.
Kekeringan terutama di wilayah subur di P. Jawa yang merupakan lumbung pangan nasional akibat musim kemarau lebih awal dan dampak El Nino mulai terjadi di Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur.
Ratusan desa di belasan kecamatan di Provinsi Jawa Tengah juga sudah mengalami kekeringan di puncak kemarau Agustus bulan ini.
Hujan yang tidak turun ditambah terjadinya kenaikan suhu udara akibat fenomena El Nino membuat Jateng makin kering dan menurut data BPBD Jateng, ada 114 desa di 56 kecamatan tersebar di 18 kabupaten/kota mengeluhkan terjadinya kekeringan.
Untuk meringankan beban warga akibat kekeringan, pemda setempat menyalurkan 3,57 juta liter air atau sekitar 700 tanki terutama di sejumlah daerah yang terdampak paling parah yakni di Kab. Grobogan, Blora dan Sragen.
Di Kab. Grobogan ada 31 desa di 13 kecamatan, di Blora 22 desa di enam kecamatan, sedangkan di Sragen kelangkaan air dikeluhkan warga di 10 desa di lima kecamatan.
Tujuh kabupaten di Jateng
Selain 18 kabupatan dan kota yang mengalami kekeringan, tujuh kabupaten di Jateng juga telah menetapkan status siaga darurat kekeringan yakni Boyolali, Brebes, Kebumen, Klaten, Kudus, Demak dan Pati.
Sementara di Batang, kemarau membuat stok air di Bendungan Kedungdowo turun dari normalnya menyalurkan 1.500 liter per detik untuk mengairi 1.176 Ha lahan pertanian turun menjadi 760 liter per detik.
Sedangkan di Provinsi NTT, empat kabupaten mengalami kekeringan eksrim dan sejumlah kecamatan di 16 kabupaten dalam siaga menghadapi kekeringan.
Kepala Stasiun Kelas II NTT Rahmatullah Aji mengemukakan, hampir seluruh wilayah di NTT sudah memasuki puncak kemarau bahkan berdasarkan data pada 31 Juli lalu, ada wilayah yang mengalami hari tanpa hujan (HTH) selama 20 sampai 60 hari.
Secara nasional ada 444 dari 699 zona musim di Indonesia saat ini sudah memasuki musim kemarau yang datang lebih cepat akibat fenomena El Nino sehingga berdampak pada sentra lumbung produksi tanaman pangan di P. Jawa.
Wilayah yang lebih kering dari rata-rata tahunan saat ini tercatat a.l. di sebagian Sumatera (Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Lampung), begitu pula seluruh Jawa, Bali, NTB dan NTT.
Wilayah lainya yang juga lebih kering sehingga berpotensi terjadi musim kering ekstrim yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.
Juli 2023 juga merupakan bulan terpanas sedunia yang pernah dicatat, dengan rata-rata suhu global 1,5 derajat lebih tinggi dibandingkan dengan saat awal era pra-industri di abad ke-8 pada 1776.
Hal itu dilaporkan oleh hasil analisis Universitas Leipzig, Jerman dan juga Lembaga Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa serta Organisasi Meteologi Dunia (WMO) yang menetapkan tiga pekan pertama Juli sebagai hari-hari terpanas.
Siap-siap menyongsong kekeringan, hemat penggunaan air!



