Putaran II Dialog AS – Iran Gagal, Perang Pilihannya?

Ribuan rudal balistik Iran disiapkan untuk menghadapi AS dan Israel. Negosiasi kedua AS dan Iran yang dimediasi Oman di Jenewa (19/2) gagal capai kesepakatan (ilustrasi: Youtube)

SERANGAN Amerika Serikat ke Iran sudah di depan mata, setelah putaran kedua perundingan tak langsung antara kedua perwakilan negara itu di  Jenewa, Swiss, 19 Feb. berakhir tanpa hasil konkret.

Pembicaraan tak langsung pertama sebelumnya digelar di Muscat, dan dimediasi pihak Oman pada  pada 6 Februari.

Pemindahan lokasi ke Jenewa diduga berkaitan dengan agenda paralel para perunding AS yang juga terlibat pembicaraan dengan Ukraina dan Rusia.

Menlu Iran Abbas Araghchi seperti dilaporkan DW Indonesia menyatakan siap bertahan selama beberapa hari bahkan beberapa pekan hingga tercapai kesepakatan.

Seusai lebih dari tiga jam perundingan tak langsung dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner, Araghchi menyebut atmosfer pembicaraan konstruktif dan menyatakan optimisme.

Namun pakar hubungan int’l  Timur Tengah dari George Washington University, Mohammed Ghaedi menilai, optimisme kerap hanya menjadi retorika, sedangkan  inti konflik tak berubah.

“AS tidak menerima pengayaan uranium Iran. Itu garis merah mereka. Sebaliknya, Teheran tak akan menghentikan program tersebut,” ujarnya.

Garis Merah

Garis merah yang tak bergeser Bagi Washington, penghentian pengayaan uranium adalah syarat utama. Bagi Teheran, menghentikan sentrifugal berarti menanggalkan opsi kemampuan penangkal nuklir.

Iran membantah sedang mengembangkan senjata atom dan bersikeras programnya untuk tujuan damai. Ketua Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, dalam wawancara dengan Al Jazeera, menegaskan fasilitas nuklir Iran terbuka bagi pengawasan Badan Energi Atom Internasional.

Sehari sebelum perundingan, Araghtschi juga bertemu Dirjen International Atomic Energy Agency Rafael Grossi. Hubungan Teheran dan badan PBB itu sempat memburuk setelah serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu.

Iran bahkan membatasi akses sejumlah inspektur int’l. Sebagai kompromi, Teheran memberi sinyal bersedia membatasi program nuklirnya dan memindahkan uranium yang diperkaya hingga 60 persen ke negara ketiga.

Namun sebagai imbalannya, Iran menuntut pencabutan sanksi, sesuatu yang hingga kini ditolak Washington. Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, memperbarui ancaman terhadap Amerika, menuding Trump berupaya  mengganti rezim di Teheran. Sebelumnya Trump menyebut pergantian rezim mungkin menjadi jalan terbaik bagi Iran.

Tekanan domestik terhadap pemerintah Iran meningkat setelah gelombang protes besar dan demonstrasi diaspora yang menuntut perubahan politik.

Iran unjuk gigi

Di sisi lain, Iran berupaya menunjukkan kekuatan militer. AL Garda Revolusi menggelar latihan menembakkan rudal ke sasaran di Selat Hormuz, jalur selebar 55 kilometer  yang merupakan nadi ekspor minyak dunia.

AS merespons dengan mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford ke kawasan. Wakil Presiden JD Vance menyatakan AS memiliki banyak opsi untuk mencegah Iran memperoleh bom atom.

Dalam artikel opini di The Wall Street Journal, Araghchi memperingatkan Iran akan berjuang dengan semua cara yang tersedia jika perang pecah.

Dari sudut pandang Teheran, konflik terbuka bisa berarti serangan terhadap fasilitas minyak dan lonjakan harga energi global, sebuah risiko politik bagi Washington menjelang pemilu sela.

Ghaedi mengingatkan,keputusan memulai perang mungkin berada di tangan Amerika, tetapi lamanya konflik dan dampaknya tak sepenuhnya bisa dikendalikan.

Iran dikabarkan akan kembali dalam dua pekan dengan proposal rinci untuk menjembatani perbedaan. Meski bulan Ramadan tengah berlangsung, Ghaedi menilai tak ada jaminan penahanan diri militer.

“Pertimbangan religius kadang berperan, tapi tidak pernah menjadi garansi,” tutur Ghaedi.

Untuk saat ini, diplomasi dan ancaman berjalan beriringan. Optimisme disuarakan, garis merah dipertahankan, dan Selat Hormuz tetap menjadi simbol betapa tipis jarak antara negosiasi dan konfrontasi.

Serangan Mulai Sabtu?

Di sisi lain, militer AS dilaporkan akan berada dalam status siap untuk melancarkan kemungkinan serangan terhadap Iran mulai Sabtu (21/2).

Informasi ini disampaikan oleh sejumlah pejabat keamanan nasional senior kepada Presiden AS Donald Trump, menurut laporan berbagai media AS.

Meski demikian, Trump dikabarkan belum mengambil keputusan akhir terkait aksi militer tersebut dan masih mendiskusikannya dengan jajaran penasihat tinggi, sebagaimana dilansir Euronews.

Saat ini, Gedung Putih tengah mengevaluasi risiko eskalasi ketegangan di kawasan serta implikasi politik maupun militer jika mereka memilih untuk menahan diri.

Ketegangan tetap meningkat meski proses dialog antara Washington dan Teheran masih berlangsung di Jenewa.

Melalui unggahan di platform media sosial Truth Social pada Rabu (18/2/20), Trump memberikan peringatan keras.

“Jika Iran memutuskan untuk tidak membuat kesepakatan, AS mungkin perlu menggunakan Diego Garcia dan lapangan terbang yang terletak di Fairford, guna memusnahkan potensi serangan oleh rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya,” tulis Trump.

Salah satu penasihat Trump mengungkapkan kepada Axios bahwa sang Presiden mulai kehilangan kesabaran.

“Dia (Trump) mulai merasa jengah. Beberapa orang di sekitarnya memperingatkannya agar tidak berperang dengan Iran, tetapi saya pikir ada peluang 90 persen kita akan melihat aksi kinetik dalam beberapa minggu ke depan,” ujar penasihat tersebut.

Sementara itu, beberapa media AS menyebutkan bahwa setiap operasi militer bersama Israel kemungkinan besar akan berlangsung  selama berminggu-minggu.

Pemerintahan Trump dinilai berada pada posisi yang lebih dekat daripada yang disadari sebagian besar warga Amerika menuju perang besar di Timur Tengah.

Faktor kunci dalam penentuan waktu serangan adalah kedatangan kapal induk USS Gerald Ford di Mediterania Timur dalam beberapa hari mendatang.

Kemehan AS dilaporkan akan menarik sementara sebagian personel dari Timur Tengah ke AS atau Eropa dalam waktu tiga hari.

Langkah itu diambil sebagai langkah antisipasi sebelum aksi militer dimulai dan guna menghindari potensi pembalasan dari Iran.

Sebaliknya AL Garda Revolusi Iran (IRGC) melakukan uji coba rudal dan menutup sebagian Selat Hormus, awal pekan ini dan dalam waktu dekat akan menggelar latihan brsama AL China dan Rusia.

Kebuntuan negosiasi di Jenewa Di jalur diplomasi, celah perbedaan yang lebar masih menyelimuti pembicaraan di Jenewa, Swiss, sementara retorika perang terus digaungkan.

Dunia menanti apa yang bakal terjadi. Perang… tidak…. Perang ….tidak! (DW Indonesia/Kompas.com/NS)

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here