PUTER PUJA PANDAWA

Jaka Sungkono segera menyembuhkan Abimanyu - Gatutkaca yang berubah jadi patung.

TENGAH malam pukul 02.00 dinihari Prabu Duryudana terbangun dari mimpinya. Baru saja dia terima wangsit bahwa dewa akan memberi kemuliaan keluarga Kurawa. Syaratnya, kelurga Ngastina harus melakukan puter puja di hutan Krendayana. Pagi harinya dia segera bertanya kepada ahli nujum kerajaan, Begawan Durna, apa maksud kata “puter puja” tersebut. Sebaai wayang yang tak pernah kuliah di jurusan Satra Jawa, Prabu Duryudana tak tahu makna kata dalam wangsit itu. Tahunya selama ini, komedi puter sama burung puter kuk deruk… kok. Sedangan puja itu tahunya ya Gatot Pujo Nugraha eks Gubernur Sumut yang masuk penjara gara-gara kasus suap ke DPRD.

“Puter puja itu artinya baca-baca doa sambil berkeliling hutan, itu maksudnya adalah SOTR (sahur on the road), anak prabu.” Jawab Pendita Durna.

“Lho, itu kan dilarang dewa, bapa pendhita.” Prabu Duryudana menyoal.

“Itu kalau di jalan protokol. Kalau di pinggir hutan nggak apa-apa.”

Sesuai dengan petunjuk Begawan Durna, Prabu Duryudana dan rombongan berangkat ke hutan Krendayana. Di tempat lain Betari Durga dari Pasetran Gandamayit juga sedang menerima Prabu Jayabirawa dari Nusakambang. Seperti halnya raja Ngastina, ratu sabrangan ini juga sangat ambisi memperoleh pahala dewata melalui “puter puja” di Krendayana.

Cuma sejumlah lembaga survei mengatakan, elektabilitas tertinggi penerima pahala itu adalah Keluarga Pandawa. Ini sungguh tidak masuk akal. Prabu Jayabirawa minta dukungan tokoh kahyangan macam Betari Durga ini agar ambisinya gol. Tanpa katrolan dan bekingan dari penguasa Pasetran Gandamayit, Jayabirawa benar-benar minder.

“Jadi tolong boss, gerak langkah Keluarga Pandawa di SOTR hutan Krendayana harap dijegal. Berapapun imbalannya, beres, boss…!” kata Prabu Jayabirawa serius.

“Tapi tolong jangan ditransver ya, cukup bawa ke sini saja, uang cash.”

“Memangnya KPK sampai ke sini-sini?”

Selesai perundingan tingkat atas itu, Prabu Jayabirawa memerintahkan Patih Suwenda dan anak buahnya yang lain untuk turun ke hutan Krendayana. Di sana mereka dipersilakan bikin trik-trik dan main intrik agar kesibukan Keluarga Pandawa “puter puja” kacau balau! Para raksasa golongan I-a sampai II C pun berangkat. Mereka semangat sekali karena Betara Guru telah mengumumkan bakal dapat gaji ke-13 dan THR.

Soal restu-merestui agaknya juga tidak cuma dikenal di negeri Nusakambang. Di Ngamarta, hal serupa juga banyak dilakukan oleh sejumlah wayang. Prabu Yudistira yang berniat SOTR bersama keempat adiknya, juga ingin mohon restu kepada Eyang Abiyasa di Wukiretawu. Tapi karena ada kesibukan acara “puter puja”, sengaja dia mendelegasikan tugas mohon restu itu kepada Abimanyu dan Gatutkaca.

Sebagai wayang jompo yang sederhana dan tak neka-neko, cara-cara Yudistira diterima saja oleh Begawan Abiyasa. Tak datang wayangnya nggak apalah, yang penting datang duitnya plus teh gula kopi. Begitulah pemikiran praktis tokoh panutan Keluarga Pandawa ini. Karenanya, melalui Gatutkaca dan Abimanyu ini cucu-cucu Pandawa yang mau “puter puja” segera diberi restu dan segala pesan-pesan meski tanpa sponsor!

“Di atas kertas, memang Pendawa yang akan menang dalam “puter puja” itu. Tapi jangan berlagaklah, sebaiknya menahan diri sampai pepesten (takdir) dari dewa tiba …!” kata Bagawan Abiyasa sambil menghisap rokok klobot kegemarannya. Malam itu Abiyasa tidak tarawih di mesjid, karena ada kedua tamu tersebut.

Entah doa dan restunya kurang manjur atau lagi apes, ketika Abimanyu dan Gatutkaca berangkat pulang ke Nga­marta di tengah jalan dibegal kaki tangan Prabu Jayabirawa plus anak buah Betari Durga. Perkelahian pun segera terjadi, seru sekali. Jaramaya Cs yang agak kedodoran melawan kedua putra Pandawa ini segera memasang guna-guna berupa semprotan minyak maksala. Minyak produksi bangsa siluman memang luar biasa. Bila PPO bisa membasmi masuk angin, minyaknya Jaramaya malah membuat tubuh Gatutkaca dan Abimanyu membatu macam fosil Sangiran, Sragen. Dan para kaki tangan Betari Durga Prabu layabirawa pun bersorak-sorak kegirangan.

Kegembiraan prajurit siluman ini sangat berlawanan dengan keprihatinan Prabu Duryudana beserta rombongannya. Ada apa gerangan? Raja Ngastina ini benar-benar kebingungan, harus minta restu ke mana sebelum “puter puja” jatuh ke Kurawa. Wayang tua yang pantas dimintai sawab pengestu (doa selamat) agaknya sudah kehabisan stok di Ngastina. Maka ketika dalam perjalanannya ke hutan Krendayana melihat ada seorang begawan bertapa, langsung didekati.

Begawan Larowa yang tak ada hubungan famili dengan Lanyala Matiliti ini agaknya sedang bertapa mbisu. Karenanya segala pertanyaan Prabu Duryudana dan Pandita Durna tak digubris. Raja Ngastina menjadi tersinggung sekali. Kok ada wayang kebalikannya Fadli Zon – Fahri Hamzah. Bagawan Larowa langsung saja dicekik sampai mecicil (melotot) dan tewas.

“Sialan kau Duryudana, ada wayang tapa mbisu kok dibunuh. Tunggu pembalasanku, dalam Perang Baratayuda kelak, kau akan tewas secara mengenaskan …”, kata Begawan Larowa sebelum ajal. Akhirnya ngomong juga dia.

“Prekkk   ,..!”   jawab  Duryudana   sambil  ngeloyor  pergi bersama rombongannya.

Sementara itu berita dipatungkannya Gatutkaca Abima­nyu oleh siluman kaki tangan Betari Durga, diterima Harjuna lewat WA. Buru-buru kesatria Madukara ini menuju hutan Krendayana untuk memberikan pertolongan.

Dasar dia wayang mata keranjang, ketika di tengah perjalanan ketemu Dewi Talimendang di atas Angkutan Pinggir Kota, serta merta terlupakanlah tujuan semula. Wayang genit cantik yang tampaknya jinak-jinak merpati terus saja diubek penuh nafsu. Dewi Talimendang yang sesungguhnya penjelmaan Betari Durga segera mengutuk Harjuna menjadi banteng.

“Ya ampun, kenapa gue dijadikan banteng nggak di Spanyol? Kan bisa buat main matadoran…”, ratap Harjuna.

“Kalau di Indonesia, kau bisa minta royalti sama PDIP.” Bisik Betari Durga.

Menjadi banteng berlama-lama memang sangat tidak diharapkan. Karenanya banteng aspal ini buru-buru menuju ke Dwarawati untuk minta pertolongan Prabu Kresna. Tentang apa penyebabnya dia berubah wujud, jelas Harjuna tak berani terus terang kepada kakak iparnya ini. Memangnya mau bunuh diri? Kalau sampai ketahuan Sembadra kan gawat.

Betara Kresna yang terkenal tinggi kewaspadaan nasionalnya, tahulah siapa sebenarnya banteng nyasar di depannya itu. Prabu Kresna segera mengubah wujudnya menjadi anak cebol dan berganti nama Jaka Sungkono, sementara banteng aspal  ini diberi nama Andini.  Dengan menaiki banteng Andini tersebut Jaka Sungkono menuju negeri Nusakambang.  Kresna Harjuna yang menyamar ini bermaksud menuntut balas atas dipatungkannya Gatutkaca Abimanyu, minimal menuntut ganti rugi!

Kala itu di Nusakambang Prabu Jayabirawa dan Betari Durga beserta anak buahnya sedang pesta bir, atas keberhasilannya membinasakan Harjuna plus mengaco rencana “puter puja” Pendawa di Krendayana. Sejumlah wayang raksasa berjoged mengikuti musik-musik jaipongan. Meriah sekali!

“Mumpung nggak bayar, sikat terus Bleh …!” teriak I raksasa yang agaknya suka barang gratis.

Pesta pora itu terhenti seketika bersamaan dengan masuknya Jaka Sungkono beserta bantengnya. Prabu Jayabira­wa dan Betari Durga kalangkabut melihat ada banteng nyasar. Perkelahian di antara lampu remang-remang itu pun terjadi. Jaka Sungko­no dan banteng Andini kemudian kembali wujud semula sebagai Kresna dan Harjuna, sementara Prabu Jayabirawa berubah menjadi Betara Kala dan patih Suwenda menjadi Ditya Kalayuwana. Sebelum tertangkap oleh Kresna dan dilaporkan ke polisi Betara Kala Cs buru-buru terbang ke Kahyangan.

Kresna dan Harjuna segera menuju ke hutan Krendayana, tempat Keluarga Pendawa puter puja. Untuk memburu waktu mereka naik taksi online. Benar juga, tiba di tujuan tampak Prabu Yudistira, Werkudara beserta Nakula Sadewa sudah kirab keliling sambil baca- baca doa. Selesai kirab, Batara Endra dan Narada dari kahyangan pun tiba memberikan pahala kemuliaan bagi segenap wayang Pendawa.

Baru saja Batara Narada dan Batara Endra pergi setelah diselipin amplop tebel oleh Yudistira, rombongan Prabu Duryudana dari Ngastina tiba pula di hutan Krendayana. Mereka kecewa sekali, “puter puja” sudah selesai dan kemenangan dipegang oleh Pendawa. Politik “pukul dulu urusan belakangan” segera dilancarkan oleh rombongan Prabu Duryudana. Mereka ingin merebut anugrah yang baru saja diberikan oleh dewa.

Perkelahian terjadi antara keluarga Pandawa melawan Ngastina.  Mereka saling tarik dasi,  saling jambak dan ‘ memukul.   Dan  seperti  biasanya,   wayang  Ngastina  lari terbirit-birit menyelamatkan diri. Patih Sengkuni dan Pendita Durna yang terkenal wedi nggetih   (takut perang), saat baku hantam itu terjadi malah menyelinap di warung Tegal! Batal puasanya.  (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement