TEPI BARAT – Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah berencana mengunjungi Gaza untuk melakukan pembicaraan setelah Hamas menyetujui langkah-langkah berdamai dengan pesaingnya Fatah yang berbasis di Tepi Barat.
Nabil Shaath, seorang penasihat senior Presiden Palestina Mahmoud Abbas, mengatakan kepada wartawan di kota Ramallah, Tepi Barat bahwa Hamdallah akan bertemu dengan pejabat Hamas di Kota Gaza dan menegaskan bahwa pemerintah mengendalikan kementerian sebagai langkah awal untuk menerapkan kesepakatan yang lebih besar.
“Kami menunggu langkah pertama di lapangan Kami ingin melihat Hamdallah diterima oleh Hamas, pintu semua kementerian terbuka,” katanya. “Itu bisa terjadi dalam 24 jam ke depan.” tambahnya, dilansir Al Jazeera, Selasa (19/9/2017).
Hamdallah belum mengunjungi Gaza sejak 2015 dan upaya sebelumnya pada pemerintah persatuan runtuh tahun itu, dengan kedua belah pihak saling menyalahkan.
Kepala Liga Arab pada hari Senin memuji langkah-langkah yang diambil oleh Hamas dan meminta rekonsiliasi penuh.
Dalam beberapa bulan terakhir Abbas telah berusaha untuk menekan Hamas dengan mengurangi pasokan listrik ke Jalur Gaza, dengan dua juta penduduk yang menerima hanya tiga atau empat jam listrik per hari sebagai hasilnya.
Abbas juga telah mengurangi gaji beberapa karyawan di Gaza, sementara jumlah warga Gaza yang menerima izin PA untuk melakukan perawatan medis telah menurun.
Dalam sebuah pernyataan, Hamas meminta Abbas untuk “mengambil langkah mendesak untuk membatalkan semua keputusan dan tindakan hukumannya terhadap rakyat kita di Jalur Gaza”.
Shaath mengatakan Abbas ingin membalikkan tindakan hukuman tersebut, namun dia tidak memberikan waktu pastinya.
Hamas mengumumkan pada hari Minggu bahwa pihaknya telah menyetujui tuntutan partai Fatah Abbas untuk membubarkan pemerintahannya di Gaza, sambil mengatakan bahwa pihaknya siap untuk melakukan pemilihan dan negosiasi untuk membentuk sebuah pemerintahan persatuan.
Otoritas Palestina yang diakui secara internasional diakui oleh Abbas (PA) berada di Tepi Barat yang diduduki Israel, namun tidak memiliki kendali di Gaza selama satu dekade, setelah Hamas merebut wilayah tersebut dalam sebuah perang saudara pada tahun 2007.





