Ragam reaksi kebijakan tarif Presiden Trump

Saham sejumlah perusahaan teknologi raksasa AS seperti Apple, Nvidia dan Tesla anjlok akibat kebijakan "ugal-ugalan" Presiden Trump terkait pengenaan tarif impor dari 180 negara. (foto: SCMP)

MALAYSIA sebagai ketua ASEAN 2025 menyatakan bakal memprioritaskan pentingnya mempererat hubungan ekonomi regional untuk merespons pengumuman tarif impor AS terhadap negara-negara anggota ASEAN.

Seperti dilaporkan Bernama (4/4), Malaysia juga akan memimpin ASEAN dalam melibatkan pemerintah AS dalam perundingan untuk berpotensi mengurangi tarif balasan atas impor ke AS.

Menteri Keuangan II Malaysia Datuk Amir Hamzah Azizan mengatakan, ASEAN akan melakukannya melalui lembaga-lembaga AS untuk mengurangi tarif, yang jelas merupakan penghalang bagi perdagangan global.

Berbicara kepada media menjelang Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN (AFMGM) minggu depan, ia mengatakan sementara negara-negara di seluruh dunia masih mencerna dan memahami implikasi tarif terhadap ekonomi masing-masing, anggota ASEAN menunjukkan bahwa mereka bersatu dalam mengadopsi sikap non-balasan dan bekerja menuju solusi yang bersahabat.

“Saat ini, jika Anda mencermati semua pernyataan yang telah disampaikan oleh negara-negara ASEAN, reaksinya adalah bahwa kami tidak sedang melihat tindakan pembalasan (melainkan) terlibat dalam diskusi untuk memahami apa yang mereka coba maksudkan dan kemungkinan pengurangan basis tarif,” katanya.

Amir Hamzah mengatakan diskusi tentang tarif impor yang diterapkan Presiden Donald Trump diharapkan akan berlangsung pada sesi dialog tertutup di AFMGM ke-12 pekan depan. Besaran tarif impor yang dikenakan AS terhadap ekspor negara-negara ASEAN bervariasi.

Kamboja dikenai tarif dasar dan tarif pembalasan total 49 persen, diikuti oleh Laos (48 persen), Vietnam (46 persen), dan Myanmar (44 persen), Thailand (36 persen), Indonesia (32 persen), Brunei dan Malaysia (masing-masing 24 persen), Filipina (17 persen), dan Singapura tarif dasar 10 persen.

Pukul industri sepatu

Kebijakan tarif impor yang diterapkan Presiden AS, Donald Trump, mengancam daya saing industri sepatu Indonesia.

Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) menilai tarif tambahan sebesar 32 persen yang berlaku mulai April 2025 akan memberi dampak berat bagi pelaku usaha.

“Tarif tambahan yang akan mencapai 42 persen pada produk alas kaki Indonesia jelas akan merugikan. Pasar AS merupakan tujuan ekspor utama kami,” ujar Ketua Umum APRISINDO Eddy Widjanarko, dalam rilisnya, Kamis (4/4).

Meskipun terjadi penurunan 26 persen pada 2023, ekspor alas kaki Indonesia ke AS tetap menunjukkan angka positif, dengan lonjakan 24 persen pada 2024. Kebijakan tarif baru ini bisa membalikkan tren positif tersebut, yang berdampak pada lebih dari 1,8 juta pekerja di sektor ini.

Untuk mengatasi tekanan tersebut, APRISINDO menyoroti perlunya penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), yang sudah tertunda sembilan tahun. “IEU-CEPA akan memberi Indonesia akses ke 27 negara Eropa dan mengurangi ketergantungan pada pasar AS,” kata Widjanarko.

APRISINDO juga mendorong pemerintah untuk segera mengirimkan delegasi tinggi ke Washington DC untuk negosiasi ulang dengan AS, guna mencari solusi atas kebijakan tarif yang dapat memperburuk kondisi industri sepatu tanah air.

Tindakan tak berdasar

PM Australia Anthony Albanese menyebut tarif 10 persen yang diberlakukan Presiden Trump terhadap Canberra sebagai tindakan yang “sepenuhnya tidak berdasar.”

“Bagi Australia, tarif ini bukan sesuatu yang mengejutkan, tetapi izinkan saya menegaskan: tarif ini sama sekali tidak beralasan,” kata Albanese.

“Trump menyebutnya sebagai tarif timbal balik. Jika benar timbal balik, tarifnya seharusnya nol, bukan 10 persen. Kebijakan tarif ini tidak memiliki dasar logis dan justru bertentangan dengan prinsip kemitraan. Ini bukan tindakan yang dilakukan oleh seorang sahabat,” kata Albanese melanjutkan.

Menurut Albanese, pemerintahannya tidak akan mengambil langkah untuk menerapkan tarif balasan.

Sementara itu, saham beberapa perusahaan teknologi besar anjlok setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kebijakan tarif baru terhadap barang impor.

Saham sejumlah perusahaan teknologi besar  seperti Apple, Nvidia, Tesla, Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft langsung mengalami penurunan signifikan.

Berdasarkan laporan CNBC, Apple mencatatkan penurunan saham paling tajam di antara perusahaan teknologi besar lainnya. Saham raksasa teknologi Apple tercatat turun lebih dari enam persen dalam perdagangan setelah jam bursa pada Rabu (waktu setempat).

Penurunan ini terjadi karena sebagian besar pendapatan Apple berasal dari perangkat yang diproduksi di China dan beberapa negara Asia lainnya. Karena kebijakan tarif impor yang lebih tinggi, akibatnya biaya produksi Apple pun berpotensi meningkat.

Jika kerugian yang terjadi setelah jam bursa pada saham Apple pada hari Rabu (waktu setempat) terus berlanjut hingga perdagangan reguler pada hari selanjutnya, maka penurunan saham tersebut akan menjadi yang terbesar sejak September 2020.

Saham Nvidia dan Tesla ikut anjlok Seperti yang disebutkan di atas, selain Apple, saham perusahaan teknologi besar lain pun turut mengalami penurunan. Nvidia, yang memproduksi chip di Taiwan dan merakit sistem kecerdasan buatannya di Meksiko, tercatat mengalami penurunan sekitar 4 persen.

Sementara itu, saham Tesla turun sekitar 4,5 persen. Perusahaan-perusahaan lain seperti Alphabet, Amazon, dan Meta juga terdampak, dengan penurunan saham mereka berkisar antara 2,5 persen hingga lima persen.

Dampak aksi cowboy Trump “sukses” mengguncang dunia termasuk kelanjutannya yang bisa memicu pengangguran dan resesi global.   (bernama/kompas.com/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here