Rakyat Iran Menuntut Perubahan

Partisipasi rakyat Iran dalam Pemilu Iran (1/3) sangat rendah selain karena di tengah kesulitan ekonomi, agaknya mereka menuntut perubahan.

RENDAHNYA keikutsertaan rakyat Iran dalam pemilu legislatif yang digelar, Jumat lalu (1/3) merupakan cerminan, mereka menginginkan perubahan di panggung politik yang didominasi kelompok konservatif.

Kantor Berita resmi Iran, IRNA melaporkan hanya sekitar 40 persen dari sekitar 61 juta warga dari total populasi sebanyak 85 juta jiwa yang memiliki hak pilih ikut mencoblos.

Para pendukung kelompok reformis dan moderat di Iran agaknya lebih banyak memilih menjadi golput atau absen karena menganggap panggung politik hanya menjadi ajang pertarungan antara kelompok garis keras dan konservatif.

Pasalnya, tokoh idola mereka, Presiden Iran yang terpilih dengan menang telak pada Pemilu 2013 dan 2017 Hasan Rouhani dilarang megikuti kontestasi Pemilu kali ini sehingga menuai potes dari kelompok moderat.

Selain itu, belitan kesulitan ekonomi dan tingginya angka pengangguran serta situasi politik yang dianggap tidak kondusif juga menjadi faktor penyebab keengganan warga yang memiliki hak pilih terutama kaum muda enggan berpartisipasi dalam Pemilu 2024.

“Pemilu kali ini adalah pemilu palsu, “ tutur penyandang hadiah Nobel Perdamaian asal Iran Narges Muhammad yang saat ini mendekam di bui.

Para aktivis dan kelompok oposisi bahkan menyebarkan tagar #NoVote” dan “Election Sircus” secara luas di platform media sosial X karena menganggap jumlah pemilih yang tinggi bakal melegitimasi rezim represif yang berkuasa saat ini.

Rendahnya partisipasi pemilih pada Pemilu 2024 menurut pengamat, dianggap sebagai tamparan pada kaum ulama yang saat ini memimpin Iran.

Begitu rendahnya angka pemilih, kemendagri setempat memperpanjang jadwal pemilihan sauara dari pukul 08.00 sampai pukul 20.00 menjadi sampai pukul 22.00.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sendiri seusai menggunakan hak suaranya di salah satu TPS di Teheran menyebutkan, mencolos dalah wajib dalam hukum Islam dan juga berarti dukungan bagi pemerintah memerangi musuh-musuhnya.

Sementara stasiun TV pemerintah Iran dalam siarannya menyebutkan antusias warga untuk mengikuti pemilu, begitu pula sejumlah pejabat Iran yang menyebutkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilu kali ini cukup baik.

Sebaliknya, sejumlah saksi mata mengaku, sejumlah TPS di Teheran dan sejumlah kota hanya dihadiri sedikit pemilih, sementara orang yang ditanya kenapa ia tidak memilih, mengatakan, tidak ada gunanya memiih rezim yang telah mengekang kehidupan mereka.

Vox populi vox dei, suara rakyat suara Tuhan. Jika rakyat sudah berpaling, itu pertanda munculnya tuntutan perubahan yang harus disadari para penguasa (AP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here