HARI ini umat Islam golongan Muhammadiyah sudah mulai menjalankan ibadah puasa Ramadan 1443 H, sementara pemerintah dan NU baru mulai hari Minggu besok. Dua ormas Islam ini memang sering beda dan sering pula sama dalam menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri. Maklum, metode penentuannya berbeda. Muhamadiyah memakai rikyatul hisab, dan NU menggunakan rikyatul hilal.
Tapi di masa kecil penulis tahun 1960-an, sama sekali belum tahu perbedaan itu. Tahunya saya, Mbah Amat Sadali seorang kiyai kampung di desaku mengingatkan, “Kae wis ana tedur (tuh, sudah ada tedur).” Maksudnya suara bedug mesjid gede Purworejo sudah dipukul bertalu-talu, sebagai penanda bahwa besok umat Islam sudah menjalankan ibadah Ramadan.
Sebagai bocah sama sekali penulis belum tahu bahwa umat Islam berpuasa karena diwajibkan oleh Qur’an dalam surat Albakarah ayat 183. Setahuku, bapak baru mau makan dan minum (berbuka) setelah terdengar suara kenthongan dipukul dari langgar Siwa Donomihardjo, juga santri kampung sebagaimana bapak. Mereka ini dulu pengikut Masyumi, sehingga di masa balitaku di rumah banyak gambar bulan bintang berwarna hitam putih kecil-kecil sebesar gambar umbul (Pemilu 1955).
Meski puasa wajib hukumnya, tapi aku sebagai bocah baru kuat dan mampu menjalani kewajiban tersebut setelah umur 11 tahun atau kelas IV Sekolah Rakyat. Sebelumnya, aku hanya berpura-pura puasa. Tapi bila orang tua tak melihatnya, diam-diam aku mengambil nasi di babragan (almari bambu) dan minum air sumur. Maka orang kampungku termasuk bapak sering memplesetkan gaya puasaku sebagai: pasa, alias apa-apa kersa (apa-apa mau).
Dalam usia balita, sama sekali aku belum mengetahui makna dan hakikat puasa itu. Yang kutahu, simbok memasak di dapur menjadi lebih istimewa. Lalu, menjelang magrib bapak baru makan di meja setelah terdengar kenthongan ditabuh dung dung…. dari langgar Siwa Dono. Aku yang belum berpuasa, ikutan pula nimbrung makan, sehingga kakakku perempuan bilang, “Awan mbengi mangan, kaya uler jedung (siang malam makan, seperti ulat).”
Tapi aku tak peduli! Bahkan ketika makan sahur pun saya ikut bangun untuk makan. Waktu makan sahur di rumahku, biasanya sekitar pukul 01.00. Meski aku tidak puasa, ikut bangun makan sahur. Tapi beberapa kali aku “kebobolan” juga, saat mereka bersantap aku masih terlelap dibuai mimpi.
Tetapi aku banyak akal. Menjelang sahur, aku pasti tidur di risban tempat di mana keluargaku tengah malam nanti makan sahur bersama. Karena kesibukan mereka dan risban itu akan dibuat duduk, bisa dipastikan aku dibangunkan, dan itu berarti aku bisa ikut makan sahur. Namun demikian beberapa kali lolos juga. Aku lalu memutar otak bagaimana bisa ikut sahur selalu. Jalan satu-satunya adalah, nekad tidur di meja yang akan dipakai menggelar makanan untuk makan sahur bersama. Dan kali ini tak pernah lolos lagi.
Pada kelas IV SR aku baru mulai ikut puasa dalam arti sebenarnya. Artinya, nyolong-nyolong makan dan minum di siang hari, sudah tak kulakukan lagi. Tapi pada hari-hari awalnya, itu sungguh merupakan siksaan berat. Baru pukul 12.00 siang, perutku sudah keroncongan mendendangkan stambul dua cacing kelaparan. Tapi sekitar pukul 15:00, rasa harus mendera tenggorokan. Akupun menyiasati dengan mandi dan leher banyak-banyak diguyur air. Ternyata mampu mengurangi rasa haus.
Tidak kurang lucunya adalah, dari pagi aku suka mengumpulkan berbagai makanan, dengan alasan kanggo mengko sore (untuk nanti sore). Dari buah-buahan hasil hutan, mangga jatuhan, sampai makanan pemberian orang. Padahal begitu waktu buka tiba, karena sudah kadung makan kekenyangan, makanan simpanan sedari pagi tersebut malah sering tak tersentuh.
Di masa ABG tahun 1967-an, sudah ada radio transistor 1 band 3 baterai. Menjelang berbuka aku lebih banyak mendengarkan siaran keagamaan. Dari RRI Surabaya (gelombang 75 m) santapan rokhaninya KH. Isngadi BA, dari RRI Yogyakarta (59,43 m) KH AR Fahrudin atau KH. Mukhlas Abror. Dan di sinilah lucunya aku, meski daerah tinggalku 60 Km sebelah barat daya Yogyakarta, tapi untuk berbuka aku sering mengacu adzan magrib RRI Yogyakarta.
Sebelum masa Orde Baru, bulan Ramadan anak-anak sekolah libur 40 hari. Hiburan satu-satunya yang murah meriah, hanyalah main “petasan” bumbung, yang di kampungku Purworejo selatan disebut long. Tetapi meskipun hanya terbuat dari bambu yang dilobangi dan disulut dengan minyak tanah, asalkan ukurannya pas, suaranya juga menggelegar bagaikan sang halilintar pada mangsa kesanga (baca: musim hujan lebat).
Petasan atau mercon yang dijual di toko-toko, anak kampung tak mampu membelinya. Bikin long dari karbit juga bisa, tapi itu harus pakai uang juga. Maka paling hemat ya hanyalah dengan membuat long bumbung itu tadi. Semakin besar ukurannya, semakin bangga itu anak. Resikonya, kebanyakan main long bumbung bulu alis bisa habis disambar api. (Cantrik Metaram)





