BEKASI – Nasib malang menimpa Ramadhan Dirfansah, anak berusia lima tahun putra ketiga pasangan Saidah (36 tahun) dan Rohadirta (38), yang sudah empat tahun bertahan hidup tanpa anus.
Ia mengalami kelainan anus imperforata, dimana tidak ada pembukaan di ujung saluran pencernaan atau tidak ada lubang di anus. Kelainan terjadi Belum diketahui penyebab pasti kelainan ini, namun diperkirakan hal ini terjadi pada satu dari 5.000 bayi.
Sang ayah, Rohadirta, warga RT 5/24 Kampung Poncol, Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat menuturkan jika putra bungsunya lahir pada Agustus 2012 di RSUD Kota Bekasi. Ia lalu dirujuk ke RSCM atau Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Ramadhan sudah menjalani perawatan di RSCM selama tiga tahun.
“Sejak lahir di RSUD Kota Bekasi langsung disuruh ke RSCM karena di RSUD peralatannya belum komplit, dokter poli bedah anaknya nggak ada. Lahir tiga hari langsung operasi bikin lubang anus di bawah perut sebelah kiri,” ujar Rohadirta.
Dokter sudah melakukan kolostomi atau pembuatan lubang buatan di bagian bawah perut untuk membuang kotoran yang ada di dalam tubuh si anak pada tahun 2012. Selang setahun, Ramadhan juga menjalani operasi pembuatan anus di RSCM.
Akan tetapi, hingga kini belum ada perkembangan sama sekali. Sampai usia 4 tahun, Ramadhan masih mengeluarkan kotoran lewat lubang di bagian bawah perut yang dibalut kain. Tiap bulan, ia membutuhkan dua pak kain kasa. Lubang di anusnya sudah dibedah, tapi tidak bisa berfungsi lantaran terlambat mendapat perawatan pascaoperasi.
Akibat kelainan tersebut tumbuh kembang Ramadhan terganggu, mata, pendengaran, dan jalannya terlambat. ba pun Baru bisa jalan umur empat tahun.
Rohadirta sehari-harinya hanya berprofesi sebagai Satpol PP Kota Bekasi dengan penghasilan Rp 2,2 juta per bulan, sementara biaya perawatannya bisa menelan dana sampai Rp 6 juta, dan gajinya telah dipotong untuk biaya pengobatan anak, sehingga hanya tersisa Rp 50 ribu.
Rohadirta dan Saidah berharap dapat segera dilakukan operasi lanjutan agar anaknya dapat buang air besar sebagaimana normalnya. Operasi lanjutan tersebut rencananya akan menutup lubang anus di bawah perut, kemudian memperlebar anus di tempat yang semestinya.
Ia berharap ada uluran tangan dari pemerintah kota untuk anak bungsunya. “Kalau biaya saya dibantu sama ibu-ibu pengajian, pakai Askes atau BPJS. Saya berharap wali kota atau pemerintah mau membantu, siapapun masyarakat Bekasi,” pintanya, kepada Republika.co.id, Rabu (8/3/2017).





