Rangkaian Milad ke-29 Dompet Dhuafa

JAKARTA – Dompet Dhuafa menggelar milad yang ke 29 tahun tepat pada Sabtu (2/7/2022), di Gedung Philanthropy Dompet Dhuafa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

“Hari ini Dompet Dhuafa tepat memasuki usia perjalanannya yang ke 29 tahun dalam mensyiarkan segala kebaikan yang dilakukan sejak awal berdirinya. Mohon doa dari bapak ibu sekalian yang hadir pada hari ini, mudah-mudahan seluruh rangkaian milad kali ini berjalan lancar dan penuh khidmat. Terima kasih juga atas dukungan dan kolaboraksinya selama ini dalam menyemarakkan dan menyukseskan Milad ke-29 Tahun Dompet Dhuafa,” ungkap Dian Mulyadi selaku Ketua Panita.

Dompet Dhuafa mengusung tema #KolaborAksiBangunNegeri yang merupakan bentuk penggambaran semangat dari seluruh insan Dompet Dhuafa untuk terus mengabdikan diri bagi kepentingan seluruh masyarakat Indonesia terutama mereka yang membutuhkan. Milad 29 Tahun Dompet Dhuafa juga dimeriahkan dengan pertunjukkan vertical rescue dari Tim Srikandi Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa yang membawa baliho berukuran raksasa bergambarkan logo Milad 29 Tahun Dompet Dhuafa dari atas Gedung Philanthropy.

Selain itu dalam acara ini juga dilakukan prosesi potong tumpeng sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. atas berbagai keberhasilan capaian Dompet Dhuafa selama ini. Disaksikan langsung oleh seluruh jajaran staff dan pengurus Dompet Dhuafa, prosesi pemotongan tumpeng dilakukan langsung oleh Inisiator dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa yaitu Parni Hadi.

Dalam sambutannya yang luar biasa, Parni Hadi menyampaikan pesan kepada seluruh insan Dompet Dhuafa terkait tentang bagaimana kemiskinan itu mampu menyebabkan bencana khususnya di perkotaan. Rumusan itu dikemas dengan begitu apik melalui sebuah trilogi yang mudah dipahami oleh seluruh pendengar yang hadir dalam kesempatan tersebut.

“Kemiskinan itu penyebab bencana karena itu saya rumuskan trilogi hari ini. Pertama adalah Bangun Desa, supaya tidak terdorong mencari rejeki ke kota. Kedua tanggulangi kemiskinan perkotaan (Urban Poor), ketiga siaga hadapi bencana perkotaan (Urban Disaster Management). Opsinya adalah bisa dengan membangun desa wisata. Ingat! desa kita bangun, kemiskinan kita tanggulangi dan kurangi, ketiga siaga bencana perkotaan,” jelas Parni Hadi.

Selanjutnya, Parni Hadi juga mengajak seluruh insan Dompet Dhuafa untuk terus mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT. yang telah memberikan kesempatan untuk membantu masyarakat membutuhkan hingga hari ini di tahun yang ke-29.

“Marilah kita semua menyampaikan 3 ungkapan, Alhamdulillah, Astaghfirullah, dan La haula wa la quata illa billah. Mengapa? Karena kita telah diberi rido dari Allah sehingga Dompet Dhuafa telah tumbuh selama 29 tahun. Namun Dompet Dhuafa masih banyak kekurangannya. Terakhir Dompet Dhuafa minta kekuatan kepada Allah SWT. Dalam bahasa ibu, Matur Nuwun, Mohon Ampun, Mohon Dituntun. Saya harap ini jadi pedoman kita,” sambung Parni Hadi.

Kemeriahan Milad 29 Tahun Dompet Dhuafa masih akan berlanjut dengan berbagai rangkaian kegiatan menarik di dalamnya. Setelah ini akan ada Fun Walk di Car Free Day (CFD) Jakarta. Selanjutnya, rangkaian ini akan ditutup dengan tasyakuran oleh seluruh insan Dompet Dhuafa di Gedung Philanthropy pada Senin 4 Juli 2022.

Dompet Dhuafa juga akan melangsungkan penandatanganan kerja sama dengan BNPB dalam upaya penanganan bencana di perkotaan. Ini adalah bukti bahwa Dompet Dhuafa tidak ingin terlarut dalam euforia dan tetap ingin memberikan manfaat setiap saat.

Acara pada hari ini, turut diisi dengan pembacaan puisi perenungan karya Parni Hadi. Puisi ini menjelaskan bagaimana trilogi kemiskinan dan bencana yang telah dijelaskan dalam sambutan sebelumnya. Sejatinya puisi ini harus menjadi renungan bagi seluruh insan Dompet Dhuafa dan masyarakat Indonesia.

Orang Miskin Pindah Tempat

(oleh: Parni hadi)

Orang miskin pindah tempat,

dari desa ke kota dan pinggirannya.

Wajah kemiskinan tetap melekat,

sedikit beda cuma gaya penampilannya.

Dari orang desa menjadi orang kota,

gaya bicara dan pakaian coba beda,

tapi kebiasaan lama tetap seperti biasa.

Ini gegara urbanisasi.

Desa tidak menarik lagi,

terutama bagi kawula muda

untuk mengais rejeki.

Berbondong mereka pindah ke kota

dengan bekal kemampuan seadanya.

Jadi buruh ongkos murah.

Kota jadi penuh tumpah ruah.

Orang, di mana-mana orang!

Di jalan-jalan, gang-gang dan rumah-rumah sempit yang dikontrak.

Mereka kawin mawin dan beranak pinak.

Macet dan kumuh di mana-mana.

Bencana perkotaan mengintai,

gegara over populasi orang miskin.

Desa harus dibangun, dibuat menarik agar mengundang rejeki.

Desa wisata jadi opsi.

Ini bisa kurangi arus urbanisasi.

Kemiskinan perkotaan perlu ditanggulangi

sambil bersiap hadapi bencana akibat kemiskinan.

Urban Disaster Management (UDM) jadi sebuah pilihan

Jakarta, 1 Juli 2022

Jelang milad DD ke-29

Advertisement