Rasakan Hiperinflasi, WNI di Venezuela Keluhkan Bayar Makan Hingga Rp7 Juta

Fotografer Reuters membuat foto keadaan ekonomi Venezuela, dimana seekor ayam harus dibeli dengan harga belasan juta/ Reuters

CARACAS – Keterpurukan ekonomi di Venezuela akibat dikeluarkannya mata uang baru bolivar dirasakan salah seorang warga negara Indonesia (WNI) di Venezuela.

Tri Astuti, pelaksana fungsi ekonomi kedutaan Indonesia di Caracas mengatakan dia harus mengeluarkan uang 1,7 miliar bolivar atau sekitar Rp7 juta untuk makan di restoran dalam acara makan bersama sekitar 20 orang dengan “menu makan siang biasa” dan terpaksa dibayar melalui transfer bank tambahan karena dana tunai yang mereka miliki tidak cukup.

“Saat kami bayar harganya 1,7 miliar (bolivar) dan di akun kami hanya ada satu miliar, jadi sama restorannya di kasih nomor rekening untuk ditransfer. Jadi asas kepercayaan saja, karena internet banking sibuk, banyak orang yang transfer,” cerita Tri Astuti, dikutip BBC.

Dia bercerita acara makan siang itu dengan sajian kentang, kerang, ikan, dan ayam itu biasanya mencapai sekitar 500 juta pada awal tahun dengan jumlah orang yang sama.

Diberitakan sebelumnya pemerintah Venezuela mengeluarkan mata uang kertas baru Senin (20/8/2018) menyusul hiperinflasi. Ribuan toko tutup Selasa (21/8/2018) untuk penyesuaian mata uang baru itu.

Namun, sejumlah warga di Caracas, penarikan uang hanya dibatasi hanya 10 bolivar pada hari Selasa.

Advertisement