MAGELANG (KBK) – Target swasembada pangan dari tahun ke tahun, dari era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga Jokowi akan jadi wacana saja, jika pemerintah tidak memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dengan serius.
Selama ini pemerintah dinilai konsentrasi di infrastruktur, salah satunya di era Jokowi ini yakni melalui Paket Kebijakan Ekonomi Jokowi Jilid 4. Padahal, target swasembada pangan di tahun 2017 tinggal sebentar lagi.
Peneliti Merapi Cultural Institute (MCI), Agustinus Sucipto, dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu (14/5/2016) mengatakan, “Regenerasi sumber daya manusia yaitu petani yang menjadi faktor penentu berhasil tidaknya program swasembada pangan tak tersentuh sama sekali. Faktanya, profesi petani saat ini kurang diminati oleh generasi muda. Generasi muda saat ini lebih tertarik bekerja di bidang industri daripada bidang pertanian,” terangnya.
“Profesi petani yang semakin tidak diminati generasi muda petani saat ini menjadi menjadi ancaman serius bagi program swasembada pangan karena petani lah ujung tombak program swasembada pangan. Selain memperhatikan infrastruktur, pemerintah seharusnya melirik sumber daya manusia (SDM) yaitu petani dan terlebih generasi penerusnya,” tambahnya.
Menurutnya profesi petani dianggap sebagai profesi kelas dua atau bahkan menjadi pilihan terakhir. Profesi petani indentik dengan pekerjaan kasar, kotor dan menjadi masyarakat kelas rendah atau sudra.
“Dalam masyarakat kita ada stigma bahwa petani adalah pekerjaan yang tidak memiliki prospek ekonomi cerah”, sesalnya.
Profesi nonpertanian seperti guru, polisi, tentara, dokter, pilot dan bidang kerja lain dianggap lebih terhormat dibanding jadi petani. Bahkan, banyak orangtua rela menjual sawah untuk uang pelicin agar anaknya dapat kerja yang dinilai lebih baik dibanding jadi petani.
Sebab itu, menurutnya pendekatan budaya sangat penting dilakukan untuk menanamkan perubahan paradigma pada generasi muda tentang profesi petani.
Pendekatan budaya yang bisa dilakukan misalnya dengan diadakan festival-festival yang bertemakan keunggulan pertanian dan pameran pertanian secara tidak langsung akan mempengaruhi pandangan masyarakat dan petani, teristimewa generasi mudanya akan merasa bahwa keberadaan petani dihargai.
Selain itu melalui pendekatan pendidikan yang juga penting untuk mengubah paradigma profesi petani. Selama ini, ketika berbicara cita-cita, para pendidik di sekolah-sekolah pedesaan jarang yang menyentuh profesi petani sebagai cita-cita yang bergengsi.
Kemudian Agustinus juga menyarankan jika biasanya penyuluhan pertanian yang selama ini menitikberatkan pada optimalisasi hasil pertanian, perlu digeser ke penyuluhan mental petani. Petani dan generasi mudanya hendaknya dibuat bangga akan profesi mereka yang menjadi salah satu penggerak roda perekonomian bangsa dan menjadi ujung tombak swasembada pangan.
Terakhir, Alumnus Ilmu Filsafat di STFT Widya Sasana Malang ini berharap pemerintah serius menggarap sistem distribusi komoditas pertanian dari sentra pertanian ke pasar harus lebih mudah, tanpa melalui tengkulak dan membuat standar harga komoditas pertanian, sehingga kesejahteraan ekonomi petani meningkat.
“Dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi petani, pelan-pelan mindset generasi muda akan profesi petani berubah,” tegasnya.





