AsalĀ mulanya bernama sukarelawan. Di era sekarang, kata itu disederhanakan atau diringkas menjadi relawan.
Pengertian dasar sukarelawan adalah orang yang melakukan suatu pekerjaan secara sukarela. Tak ada unsur paksaan dalam kamus kerja sukarelawan. Dunianya tak jauh dari sisi kegiatan sosial atau aktivitas kemanusiaan.
Sejak perang kemerdekaan, istilah sukarelawan atau relawan telah dikenal masyarakat. Mereka tergerak untuk membantu warga dalam mengusir penjajah Belanda. Bersenjatakan bambu runcing atau senjata hasil rampasan, rakyat yang menjadi relawan itu bahu-membahu mengusir penjajah.
Mereka menjalankan aktivitas tanpa berpikir akan mendapatkan imbalan. Bekal logistik untuk menjadi relawan perang, selain mereka persiapkan sendiri, juga dibantu dari uluran tangan serta keikhlasan masyarakat.
Para pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) serta aktivis pramuka juga bisa disebut sebagai relawan. Kerja mereka tanpa pamrih. Lahan mereka adalah kerja kemanusiaan. Dalam suatu musibah atau bencana, mereka acap kali berada di tengah masyarakat yang menjadi korban.
Anggota pramuka juga sering terlihat kehadirannya di tengah-tengah bencana. Tak jarang kita lihat anak-anak muda berseragam pramuka ikut membantu polisi dalam mengatur lalu lintas. Pemandangan seperti ini sering ditemui ketika pelaksanaan arus mudik lebaran. Beberapa remaja pramuka ikut membantu kelancaran arus lalu lintas dan sebagian ada yang bertugas di ruangĀ kesehatan.
Pada zaman sekarang, banyak dijumpai munculnya relawan. Bedanya, kegiatan relawan masa kini tak lagi bergelut dalam dunia sosial dan kemanusiaan. Habitat politik menjadi lahan utama para relawan ini.
Kita bisa melihat fakta yang terjadi saat ini. Dalam musibah banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, para relawan politik itu tidak terlihat. Jangankan batang hidungnya, jejaknya pun tidak tampak. Padahal, makna utama relawan semestinya adalah melakukan kerja kemanusiaan dan sosial.
Relawan model seperti ini memang aneh.Ā Lahan kerja yang mereka pilih adalah bergulat dengan pemegang kekuasaan atau mereka yang berjuang untuk meraih kekuasaan. Tindakan dukung-mendukung aktivitas partai maupun tokoh politik menjadi santapan mereke setiap hari.
Menyebar informasi tentang kegiatan tokoh yang mereka dukung di pelbagai media juga mereka giatkan. Media sosial menjadi sarana utama mereka untuk membentuk citra positif bagi tokoh dan partai yang mereka bela mati-matian.
Relawan politik ini tidak seperti lazimnya para relawan lainnya. Ada yang memiliki kepengurusan hingga tingkat daerah meski belum tentu pasukan mereka bisa massal di daerah tersebut. Mereka yang jelas memiliki bukti kepengurusan tersebut. Pada saat-saat tertentu dan dibutuhkan,, mereka bisa menggalang massa untuk berduyun-duyun menghadiri rapat akbar.
Guyuran dana terhadap kegiatan mereka sudah biasa diterima. Warga masyarakat yang ikut hadir dalam rapat akbar pun akan kecipratan amplop alias uang saku. Ini juga sudah menjadi rahasia umum.
Keliru atau benar, salah atau tidak, bukan itu yang menjadi dalih relawan untuk memberikan dukungan. Dalihnya bukan lagi salah-benar, tapi apa pun yang menjadi kebijakan partai atau tokoh harus dibela habis-habisan. Membela junjungan dan partainya adalah kewajiban utama para relawan model ini.
Sejatinya kerja relawan ini banyak beririsan dengan aktivitas partai politik. Menghadapi pertistiwa besar dan penting, partai politik memerlukan dukungan khalayak di luar anggota partai. Di sinilah keberadaan relawan diperlukan kehadirannya.
Hal semacam ini juga jamak terjadi di luar negeri. Tatkala menjelang pemilihan presiden di Amerika Serikat, jutaan relawan juga bergerak untuk melakukan persuasi pada masyarakat agar memilih calon presiden tertentu. Bahkan banyak relawan yang bekerja dari pintu ke pintu untuk menggalang dukungan massa pemilih. Seiring dengan berakhirnya pelaksanaan pemilu, berakhir pula tugas para relawan tersebut.
Di negara kita, banyak pula calon anggota legislatif atau calon kepala daerah (juga calon presiden) yang mengerahkan relawan untuk meraup suara yang dibutuhkan. Penaja atau sponsor utama tentu saja datang dari para tokoh yang didukung. Namun, terkadang penaja itu juga acap datang dari pengusaha yang memberikan dukungan pada calon tertentu.Ā Setelah sang calon terpillih, biasanya pimpinan relawan itu akan diberi jabatan atau posisi tertentu sebagai imbalan dari pemenang kontestasi.
Setelah hajatan itu purna, umumnya para relawan juga kembali menjalani kehidupan normal di masyarakat. Akan tetapi ada jenis relawan yang bersifat anomali atau aneh. Mereka terus saja berada dalam barisan relawan dan juga melakukan pembelaan, pemutarbalikan fakta, dan bahkan agitasi pada lawan politiknya atau kelompok yang berseberangan.
Ini memang relawan aneh, relawan kekuasaan yang menyimpang dari pakem atau fatsun politik. Mestinya mereka tak lagi menjadi relawan begitu hajat yang mereka jalankan untuk mendukung partai atau calon tertentu usai. Jika memang terus ingin beraktivitas, langkah yang seharusnya ditempuh adalah masuk partai politik sekalian. Bila tetap tidak mau masuk partai poltik, jalan terbaik adalah membubarkan diri usai hajatan berlalu demi sehatnya ekosistem politik yang ada.




