Delcy Rodriguez Presiden Sementara Venezuela

Wapres Delcy Rodriguez disumpah oleh parlemen Venezuela menjadi presiden sementara, (5/1) sedangkan Presiden Nicolas Maduro sedang menjalani pengadilan di New York , AS. (Reuters)

WAPRES Venezuela Delcy Rodriguez (Senin, 5/1) dilantik sebagai pemimpin sementara negara itu, menggantikan  Nicolas Maduro yang ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat dalam operasi kilat, Sabtu lalu (3/1).

Dalam sambutannya, seperti dilansir CNN, Rodriguez mengindikasikan siap bekerja sama dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump, namun tak akan tunduk kepadanya.

Rodriguez juga mengecam penangkapan Maduro dan Ibu Negara Venezuela Cilia Flores dengan menyebut mereka sedang disandera AS.

Sebelumnya Trump mengancam Rodriguez, jika tak membuat keputusan dengan benar sebagai pemimpin sementara Venezuela, akan menerima konsekuensi lebih berat ketimbang Maduro.

“Jika tidak melakukan apa pun yang benar, dia akan membayar dengan harga sangat mahal, mungkin lebih mahal daripada Maduro,” kata Trump.

Beberapa saat setelah serangan AS ke Venezuela pada Sabtu , Trump menyampaikan pernyataan mengenai Rodriguez yang membingungkan rakyat Venezuela.

Trump mengatakan AS tidak akan mengirim pasukan ke Venezuela jika Rodriguez melakukan apa yang diinginkan Washington. Saat itu Trump mengklaim bahwa Rodriguez bersedia bekerja sama dengan AS.

Venezuela membantah ada bentrokan di Istana Kepresidenan Miraflores menyusul rentetan penembakan yang terdengar di kompleks tersebut pada Senin (5/1) malam.

Rentetan tembakan sekitar Istana

Sementara itu, rentetan tembakan terdengar hanya beberapa jam setelah pelantikan Wakil Presiden Delcy Rodriguez sebagai presiden baru Venezuela menggantikan Nicolas Maduro yang ditangkap AS.

Kementerian Komunikasi dan Informasi Venezuela menyatakan polisi menembak drone yang terbang tanpa izin. Namun, kementerian tak menyebut dari mana pesawat tak berawak itu berasal.

“Tidak terjadi konfrontasi dan seluruh negeri dalam keadaan tenang,” demikian pernyataan kementerian, dikutip CNN.

Sebelumnya, salah satu warga mendengar suara tembakan di Jalan Urdaneta, dekat istana kepresidenan usai pelantikan Rodriguez.

Video yang diverifikasi CNN juga menunjukkan tembakan anti-pesawat di wilayah udara Caracas dan di tayangan video lain, suara tembakan terdengar di tengah isu aparat keamanan yang kebingungan.

Kebingungan

Saat itu, beredar rumor penembakan terkait  kebingungan yang sedang berlangsung antara berbagai kelompok keamanan dekat istana negara.

Salah satu dari kelompok itu terdengar meminta dukungan dan bantuan karena ada dugaan konfrontasi di sekitar istana. Dia juga mendengar sejumlah tembakan.

Lalu, anggota lain terdengar mengatakan ada kesalahpahaman dan kebingungan setelah tembakan dilepas. Namun, menurut sumber pertama situasinya saat ini sudah tenang.

Salah satu anggota itu juga mengatakan anggota kepolisian Miraflores dan keamanan Istana menembak drone dekat istana.

Penembakan di dekat istana ini berlangsung dua haru usai AS membombardir Ibu Kota Caracas dan menculik Maduro beserta istri pada 3 Desember, langsung diterbangkan dari Venezuela ke AS.

Operasi AS dikecam komunitas internasional. Mereka

 menilai tindakan itu melanggar hukum internasional dan kedaulatan negara lain.

Pengadilan Perdana Maduro

Sedangkan pada peradilan pertama di pengadilan federal AS di New York, Senin (5/1) Presiden Maduro menegaskan dirinya tak bersalah.

Maduro terlihat melangkah masuk ke ruang sidang New York yang dijejala awak pers dengan bahu tegap, menatap ke arah bangku pengunjung, dan sempat melontarkan beberapa sapaan dalam bahasa Spanyol hingga menyatakan tegas: “Saya tidak bersalah.”

Maduro yang telah dilengserkan tampak mengenakan kemeja gelap di atas seragam tahanan berwarna oranye,  menyebut ia telah diculik oleh pasukan AS dan mengklaim dirinya sebagai tahanan perang.

Ia dengan nada menantang bahkan menegaskan masih merupakan Presiden Venezuela yang sah.

“Saya orang yang baik. Saya masih presiden negara saya,” kata Maduro dalam sidang yang berlangsung selama sekitar 30 menit itu.

Ruang sidang berpanel kayu dengan karpet biru di lantai atas gedung pengadilan Manhattan itu dipenuhi pengacara, aparat penegak hukum, dan jurnalis.

Maduro tampak menyadari sorotan dunia tertuju padanya. Ia memanfaatkan persidangan tersebut untuk mengecam operasi militer AS yang menangkap dirinya dan sang istri di Venezuela.

Pada satu titik, hakim memotong ucapannya ketika Maduro melampaui permintaan sederhana untuk sekadar mengonfirmasi identitasnya di hadapan pengadilan.

“Saya berada di sini dalam keadaan diculik sejak Sabtu, 3 Januari. Saya ditangkap di rumah saya di Caracas, Venezuela,” ujar pria berusia 63 tahun itu.

“Akan ada waktu dan tempatnya untuk membahas semua itu,” jawab Hakim Alvin Hellerstein memotong pernyataan Maduro.

Salah satu momen paling dramatis terjadi di akhir sidang, saat Maduro terlibat adu mulut dengan seorang pria di bangku pengunjung yang berteriak bahwa ia akan membayar kejahatannya.

“Saya adalah tawanan perang,” balas Maduro sebelum digiring keluar ruang sidang.

Maduro hanya berbicara dalam bahasa Spanyol dan

mengikuti jalannya persidangan melalui terjemahan di headphone. Pernyataannya disampaikan ke pengadilan melalui seorang penerjemah.

Istri Maduro, Cilia Flores, terlihat mengenakan pakaian serupa dengan rambut pirang diikat rapi, duduk di samping sang suami dengan satu dari tiga pengacara berada di antara mereka. (CNN/ns)


Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here