
JAKARTA, KBKNEWS.id – Relawan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, menarik diri dari kegiatan pemadaman.
Keputusan ini diambil setelah relawan merasa kewalahan menghadapi kebakaran dan menilai dukungan pemerintah belum maksimal.
Perwakilan Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kotawaringin Barat, Moncos, mengatakan penarikan personel dilakukan setelah tim sepakat menghentikan sementara pemadaman di lapangan.
“Untuk saat ini saya menarik diri dulu, karena kalau dilanjutkan percuma, tidak ada perubahan yang signifikan,” kata Moncos, dikutip detikKalimantan, Minggu (11/10).
Menurut Moncos, para relawan telah berupaya maksimal, tetapi kemampuan mereka memiliki keterbatasan. Upaya pemadaman yang dilakukan juga dinilai belum menunjukkan hasil signifikan. Kondisi tersebut diperparah oleh kekecewaan terhadap minimnya perhatian pemerintah dalam menangani kebakaran di kawasan habitat orangutan.
Meski menarik diri, para relawan menegaskan penghentian sementara pemadaman bukan berarti ancaman kebakaran telah berakhir. Mereka mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret dengan menyediakan peralatan dan strategi yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Salah satu kebutuhan mendesak yang disuarakan relawan adalah pengerahan water bombing atau pemadaman melalui penjatuhan air dari udara. Langkah ini dinilai diperlukan untuk menjangkau titik api di zona inti kawasan hutan yang sulit dipadamkan secara langsung oleh petugas di lapangan.
“Kami minta cuma water bombing untuk membantu memadamkan api yang berada di zona inti,” ujar Moncos.
Ia kembali meminta pemerintah segera mengerahkan bantuan pemadaman udara karena tim relawan telah mencapai batas kemampuan mereka.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin sampai di batas kemampuan kami. Makanya kami memohon pemerintah segera mendatangkan water bombing,” katanya.
Moncos memperkirakan luas kawasan yang terdampak karhutla mencapai sekitar 54 ribu hektare. Namun, angka tersebut masih berupa perkiraan dan belum dapat dipastikan.
“Informasi saya kurang lebih 54 ribu hektare, bisa kurang dan bisa lebih, karena itu cuma perkiraan saja,” jelasnya.
Relawan berharap pemerintah segera mengambil tindakan lebih besar untuk mengendalikan kebakaran, terutama di kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting.




