Relawan Tak Rela

Yudi Latif (Foto: Ilustrasi)

Saudaraku, relawan berbaris di depan publik, seolah menenteng panji idealisme, mata mereka berbinar menatap cakrawala harapan. Kata-kata mereka seperti puisi patriotik, janji mereka laksana doa suci bagi negeri. Tapi di balik tutur itu terdengar gema lain—gema ambisi yang menggelegar lebih keras daripada nyanyian hati nurani: “Siapa cepat, kursi didapat; siapa lambat, kursi melayang.”

Mereka datang dengan pasukan buzzer berani mati, siap berkelahi di panggung perdebatan, menyerang lawan dengan pembunuhan karakter, menyalakan arena dengan retorika bombastis, seolah mendukung calon terbaik. Tapi di balik sorak dan gemuruh, kosongnya substansi terlihat jelas; ketiadaan prestasi disamarkan kelantangan, dibungkus sorak, dikesankan memiliki barisan setia—pertunjukan heroik menutupi kehampaan kualitas.

Di negeri yang dirundung masalah, di mana kemiskinan dan kebuntuan birokrasi menghantui setiap langkah, relawan tak rela menemukan ladang subur. Mereka mengandalkan suara keras, bukan kapasitas. Rekrutmen kepemimpinan mengandalkan gemuruh dan kultus, bukan pencapaian meritokrasi. Arena politik negeri pun menjadi panggung sandiwara, tempat lahir pemimpin yang lihai bersandiwara, bukan yang pantas memimpin.

Mereka berbicara tentang pengabdian, tapi aroma pamrih menempel di setiap langkah, di setiap senyum, di setiap kata manis. Nada idealisme berkilau seperti emas palsu, indah dari jauh, tapi begitu disentuh meninggalkan rasa pahit. Di akhir hari, mereka tetap berdiri, menghadap kamera, memberi salam hormat, agar semua percaya bahwa yang mereka kejar adalah kebenaran—padahal yang mereka buru hanyalah kursi, kekuasaan, dan jejak ambisi tanpa prestasi.

Mereka adalah simfoni kontradiksi: lantang, penuh semangat, namun hampa; heroik di panggung, namun pengecut di balik layar; pejuang idealisme yang menjual diri untuk ambisi instan—itulah wajah relawan tak rela. Negeri? Negeri menjadi panggung sandiwara, di mana suara keras menutupi kehampaan, dan harapan terseret di bawah gelombang relawan tak rela.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here