Reli Harga Emas Berujung Petaka, Platform Perdagangan Digital Kolaps di China

Platform perdagangan emas digital di Shenzhen, China, kolaps secara mendadak dan memicu kerugian triliunan rupiah bagi investor ritel. (Foto: istockphoto)

Jakarta, KBKNews.id – Sebuah platform perdagangan emas digital di Shenzhen, China, kolaps secara mendadak dan memicu kerugian besar bagi investor ritel. Puluhan ribu pengguna dilaporkan kehilangan dana dengan total nilai mencapai lebih dari 1,4 miliar USD atau setara sekitar Rp23 triliun. Peristiwa ini kembali menyoroti rapuhnya investasi logam mulia berbasis daring yang beroperasi di luar sistem regulasi resmi.

Platform yang menjadi pusat persoalan adalah JWR, penyedia perdagangan emas dan perak digital yang sempat populer di kalangan investor ritel China. Dalam beberapa bulan terakhir, JWR gencar menarik minat masyarakat yang ingin meraup untung dari tren kenaikan harga emas global. Promosi dilakukan secara masif melalui media sosial dengan janji imbal hasil tinggi dan modal awal yang relatif kecil.

Lonjakan Harga Emas Picu Penarikan Dana Massal

Masalah mulai mencuat ketika harga emas spot kembali melonjak dalam beberapa pekan terakhir. Lonjakan tersebut mendorong investor secara serempak mengajukan penarikan dana untuk merealisasikan keuntungan. Namun, permintaan penarikan yang meningkat tajam justru membuka kelemahan fundamental JWR. Perusahaan mengalami krisis likuiditas dan tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran kepada para investornya.

Ketegangan pun tak terhindarkan. Pada akhir pekan lalu, ratusan investor mendatangi kantor JWR di Shenzhen untuk menuntut pengembalian dana mereka. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan aparat kepolisian dikerahkan guna menjaga ketertiban di sekitar lokasi. Banyak investor datang dari luar kota setelah gagal memperoleh kejelasan melalui jalur daring.

Pemerintah Bentuk Satuan Tugas Penyelidikan

Menanggapi situasi tersebut, Otoritas Distrik Luohu, Shenzhen, mengumumkan pembentukan satuan tugas khusus untuk menyelidiki dugaan aktivitas bisnis tidak wajar yang dilakukan JWR. Media keuangan Yicai melaporkan, berdasarkan estimasi yang dihimpun dari para korban, nilai dana investor yang belum dibayarkan perusahaan diperkirakan melampaui 10 miliar yuan.

Kasus ini mengguncang reputasi Shuibei, kawasan di Shenzhen yang selama ini dikenal sebagai pusat perdagangan emas terbesar di China. Lebih dari itu, runtuhnya JWR memunculkan kekhawatiran lebih luas mengenai maraknya platform perdagangan logam mulia tanpa izin yang menargetkan investor ritel, terutama di tengah reli panjang harga emas dan perak.

Seorang investor yang mengaku menjadi korban menuliskan pengalamannya di platform media sosial Xiaohongshu.

“Saya dan banyak investor lain sudah melaporkan kasus ini ke polisi, baik di kota asal kami maupun di Shenzhen. Banyak orang bahkan datang langsung ke sini untuk menuntut kejelasan,” tulisnya.

Ia juga memperingatkan, risiko di pasar serupa kini semakin tinggi karena masih banyak platform sejenis yang beroperasi.

Model Pre-Pricing Jadi Sumber Masalah

Dari sisi mekanisme, krisis JWR diduga kuat berkaitan dengan model perdagangan yang dikenal sebagai pre-pricing. Dalam skema ini, transaksi emas dan perak tidak dilakukan melalui bursa logam mulia yang teregulasi. Platform secara privat menetapkan harga jual atau beli di masa depan dengan investor. Sementara aliran dana tidak melalui sistem kliring publik yang transparan.

Model tersebut memungkinkan perusahaan menghimpun dana besar dengan cepat, terlebih ketika dipadukan dengan tawaran leverage tinggi. Namun, ketika harga logam melonjak tajam dan investor menarik keuntungan secara bersamaan, platform harus menyediakan dana tunai dalam jumlah besar atau menjamin pengiriman fisik logam. Tanpa strategi lindung nilai yang memadai dan cadangan modal yang cukup, risiko gagal bayar meningkat drastis.

Otoritas China sejatinya telah berulang kali mengingatkan masyarakat mengenai bahaya spekulasi berlebihan di pasar emas. Sejumlah insiden serupa juga dilaporkan terjadi di Shenzhen dalam beberapa waktu terakhir, yang berkaitan dengan perdagangan logam mulia daring dan praktik pre-pricing.

Otoritas dan Asosiasi Industri Beri Peringatan

Pada Oktober lalu, Asosiasi Emas dan Perhiasan Shenzhen bahkan mengeluarkan peringatan risiko yang menyoroti praktik sejumlah pemasok bahan emas lokal. Dalam peringatannya, asosiasi menyebut sebagian pelaku usaha, dengan kedok perdagangan emas fisik, justru mendorong klien terlibat dalam apa yang disebut sebagai “taruhan emas nonfisik” melalui platform daring. Praktik ini diduga mengarah pada perjudian ilegal.

“Kasus-kasus ini menunjukkan bagaimana beberapa perusahaan, demi mengejar keuntungan ilegal, mendorong klien masuk ke spekulasi berleverage tinggi atas pergerakan harga emas,” demikian pernyataan asosiasi tersebut.

Pengacara berbasis di Guangzhou, Deng Ping, yang kerap menangani sengketa penggalangan dana swasta, menilai publik kini menunggu hasil penyelidikan pemerintah. Menurutnya, runtuhnya platform investasi swasta semacam ini bukanlah fenomena baru.

“Kolaps platform semacam ini semakin sering terjadi. Dua tahun lalu yang bermasalah adalah investasi teh dan mata uang kripto. Sekarang giliran logam mulia,” katanya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here