
NASIB Delis Sulistina (13), siswi SMPN 6 Tasikmalaya, Jawa Barat sungguh tragis, tidak kesampaian bersenang-senang menikmati studi tour bersama rekan-rekannya, ia malah meregang nyawa di tangan ayah kandungnya.
Budi Rahmat (45) kalap saat korban menyusulnya di tempat kerja, merengek untuk meminta uang Rp400.000 untuk biaya studi tour yang akan diselenggarakan sebagai program estra kurikuler sekolahnya.
“Korban tewas dicekik pelaku, sekaligus juga ayah kandungnya sendiri yang mengaku kesal dimintai korban uang untuk study tour. Kejadian dilakukan di sebuah rumah kosong dekat tempt kerja pelaku,” tutur Kapolsek Tasikmalaya AKBP Anom Karibianto (27/2).
Agar perbuatannya tidak tercium, sepulang kerja, pelaku membawa jasad anaknya tersebut dengan sepeda motor ke sebuah gorong-gorong dekat sekolah yang lokasinya tidak jauh dari TKP.
Penemuan bermula saat warga Cilembang, Kec. Cihideung, Kota Tasikmalaya, digegerkan dengan temuan sesosok mayat perempuan tersembul di gorong-gorong depan gerbang sekolah SMPN 6.
Jasad Delis saat ditemukan masih berseragam lengkap pakaian pramuka dan berkerudung dan di sampingnya ditemukan tas sekolah berisi identitas serta buku-buku pelajaran.
Studi Tour adalah kegiatan ekstrakurikuler yang baik-baik saja, mengakrabkan sesama murid dan antara murid dan guru-gurunya, melepas kejenuhan di kelas atau untuk mengenal daerah baru bagi anak didik.
Namun dalam prakteknya, tidak semua orang tua murid berpenghasilan pas-pasan atau yang bekerja serabutan mampu membayar ratusan ribu rupiah, sehingga kegiatan tersebut sangat membebani mereka.
Bisa dibayangkan “terkucilnya” murid yang terpaksa tidak bisa ikut studi tour karena alasan ekonomi orang tuanya. Tidak jarang, mereka jadi bahan “bully-an” dan cemooh oleh rekan-rekannya sehingga merasa tersisih dari pergaulan.
Belum lagi, jika biaya studi tour yang ditarik terlalu tinggi oleh pihak sekolah karena dianggap sebagai hasil pemasukan tambahan oleh oknum-oknum pengelola sekolah.
Itu sebabnya, menurut Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri perlunya pelibatan orang tua murid, pihak sekolah dan para murid terkait kegiatan di luar sekolah, baik dari sisi pembiayaan,dan juga keamanan.
Dari sisi keamanan, baru saja terjadi musibah sepuluh murid SMPN 1 Turi, Sleman, DIY yang meninggal karena kegiatan susur Kali Sempor (22/7) yang dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi cuaca buruk.
Dari segi pembiayaan, selayaknya pihak sekolah memberikan kelonggaran, misalnya tidak harus membayar penuh atau dibebaskan dari seluruh pembayaran bagi murid dari kalangan ekonomi tak mampu atau dicarikan program CSR dari pihak swasta.
Semoga nasib nahas yang menimpa Delis menjadi pembelajaran bagi orang tua murid dan otoritas pendidikan di tempat-tempat lain di negeri ini dalam pengelolaaan study tour.




