NEGERI Ngastina, Pandawa, Dwarawati, Mandaraka dan Mandura tengah dilanda banjir besar. Semua pemimipin kerajaan itu sibuk mengatasi banjir, bagaimana agar banjir tak terjadi lagi dan rakyat tak terlalu lama menderita. Ini beda dengan Prabu Duryudana dari Ngastina. Tahu banjir sering datang belakangan, cukup diatasi dengan pembagian pengeras suara Toa di setiap kelurahan. Lurah wajib keliling wilayah, teriak-teriak pada warga untuk segera mengungsi.
“Ini gimana sih Prabu Duryudana, bukannya mengantisipasi agar banjir tidak datang lagi, eh malah bagi-bagi Toa. Memangnya Toa bisa mencegah banjir?” ujar Durmagati, orang Ngastina yang selalu kritis pada pemimpinnya, meski itu kakak sendiri.
“Beli Toa sampai ribuan kan bisa dimanipulasi anggarannya, ini proyek yang sangat menguntungkan.” Sambung Kartomarmo, yang juga adik sang raja.
Jaman Ngastina dipimpin Prabu Pandu, jarang terjadi banjir karena punya patih yang tegas, Gandamana. Tapi patih itu akhirnya terpental dari posisinya gara-gara difitnah oleh Haryo Suman. Akhirnya yang menjadi patih Sengkuni didukung para kadrun Kurawa 100. Ketika Prabu Pandu meninggal serangan jantung, paket Duryudana – Patih Sengkuni semakin sempurna mengacak-acak negeri Gajahoya. Segala infrastruktur peninggalan Prabu Pandu dibongkar, karena katanya tak berpihak pada rakyat.
Patih Sengkuni sama konyolnya dengan raja junjungannya Prabu Duryudana. Ketika banjir tak bisa diatasi, enak saja dia bilang bahwa banjir itu sebaiknya dinikmati saja. Sebab manusia juga memiliki kandungan air 2/3 persen dalam tubuhnya, sehingga tiap hari mengeluarkan air. Dengan demikian kemungkinan besar penduduk Ngastina yang beser dan mencret punya andil besar atas banjirnya negeri ini.
“Memangnya penduduk Ngastina tak punya toilet di rumah masing-masing?” kata Prabu Dasamuka dari negeri tetangga, Ngalengkadiraja.
“Mayoritas dialirkan ke kali lewat WC Helikopter,” kata LSM dari Ngastina.
“Mengatasi banjir Ngastina itu gampang, airnya dimasukkan ke tanah, rajanya dibuang ke laut,” jawab Prabu Dasamuka dengan aksen kental Madura.
Ternyata kondisi Ngastina ini berbeda 180 drajat dengan kahyangan Jonggring Salaka. Negerinya para dewa itu belakangan ini sedang geger dan panik gara-gara kekurangan air. Padahal di kahyangan tak ada yang mengalih-fungsikan lahan, tak ada penebangan hutan termasuk karhutla. Aneh bukan? Gara-gara kekurangan air Bethara Guru tak pernah mandi, kecuali sibin (dilap) dengan air Aqua galonan. Air PAM yang dialirkan ke Istana Bale Marcokunda crat-cret seperti kencing onta sedang anyang-anyangen.
“Kakang Narada, bagaimana kalau air dari ngercapada kita alirkan ke Jonggring Salaka?” ujar Prabu Duryudana dalam sebuah rapat kordinasi.
“Tak mungkin Adhi Guru, posisi kahyangan di atas ngercapada, bagaimana air bisa dialirkan ke atas? Pakai gorong-gorong raksasa juga tak mungkin,” jawab Bethara Narada.
Usut punya usut, berdasarkan pemeriksaan geologi pertambangan, krisis air di Jonggring Salaka gara-gara tindakan sabotase Prabu Udan Mintoya dari negeri Girikedhasar. Cupu surga berisi “Mustikaning Warih” sengaja dicuri dari Pejompongan, gara-gara lamarannya terhadap Dewi Mumpuni ditolak oleh Bethara Guru. Ke mana cupu disembunyikan, masih dalam penyidikan. Semoga saja tak dijual ke luar negeri.
“Kaco! Urusan asmara kenapa dipolitisir. Kakang Narada harus segera mencari jago, barang siapa berhasil mengalahkan Prabu Udan Mintoya, diberi hadiah menikah dengan Dewi Mumpuni,” perintah Bethara Guru sambil membersihkan daki di lehernya, maklum jarang terkena air.
“Siap Adhi Guru, tapi izinkan dulu saya bentuk tim.” Kata Bethara Narada.
“Halah, nggak usah, kelamaan tuh! Dikit-dikit bentuk tim, macam Gubernur DKI Jakarta saja ente.” Kecam Bethara Guru.
Prabu Udan Mintoya memang sedang bersakit hati. Kurang apa dia sebagai raja di Girikedhasar? Tampang gantheng macam artis sinetron sejuta episode, kekayaan hampir 90 persen dari hibah, keuangan di negerinya juga dinilai WTP oleh BPK. Kenapa kok masih ditolak juga ketika ingin mengawini Mumpuni? Apa harus menyogok dulu, untuk bisa “menyogok” bidadari primadona kahyangan Jonggring Salaka tersebut? Jika begitu prosedurnya, tinggal saja ngomong pastilah Prabu Udan Mintoya siap memenuhi.
Secara kebetulan, nama Prabu Udan Mintoya penuh makna. Udan artinya hujan, min = kurang, dan toya adalah air, karenanya bisa dimaknai bahwa hujan mengatasi kekurangan air. Karena ahli perhujanan itulah, Prabu Udan Mintoya jadi tahu bahwa sumber air di Jonggring Salaka kuncinya ada pada Cupu Mustikaning Warih. Sebagai balas dendam dia diam-diam menyabot pasokan air ke Jonggring Salaka, dengan cara mencuri cupu keramat dan berkhasiat tersebut. Efeknya sangat manjur, PDAM Suralaya mendadak macet, Jonggring Salaka kekeringan.
Bethara Narada yang ditugaskan mencari jago di ngercapada, siang itu ketemu Prabu Bathara Kresna raja Dwarawati sedang makan di RM Adem Ayem, dengan menu thengkleng dan sate kambing 50 tusuk. Bethara Narada diajak makan sekalian, tetapi menolak karena khawatir stroke-nya kumat. Maklum, patih kahyangan ini diam-diam ternyata penderita penyakit ludira inggil (darah tinggi).
“Kahyangan hari ini dalam kondisi genting. Jika ente bisa mengalahkan Prabu Udan Mintoya, hadiahnya sangat menarik dan bebas pajak Kementrian Sosial…..,” iming-iming Bethara Narada setelah bercerita panjang lebar tentang kondisi di kahyangan.
“Prabu Udan Mintoya itu apakah masih keluarga pembalap F-1 Juan Montoya dari Colombia, pukulun?” ujar Prabu Kresna sambil menyedot sungsum kaki kambing.
“Nggak tahu juga. Sepengetahuan ulun, dia itu pernah ambil kredit barang elektronik di Columbia.”
Bethara Narada segera membawa Prabu Kresna ke kahyangan. Tiba di alun-alun Repat Kepanasan Prabu Kresna langsung mendengar gossip perkawinan Sanghyang Yamadipati – Dewi Mumpuni. Heboh benar memang. Di kala diperebutkan Prabu Udan Mintoya, diam-diam malah dikawinkan dengan Sanghyang Yamadipati. Itupun, sudah menikah 3 bulan tapi duet dewa-dewi itu belum bisa kawin, menjalankan sunah rosul. Dewi Mumpuni enggan melayani Yamadipati di ranjang, kerena perkawinan itu terjadi ala Siti Nurbaya, kawin paksa. (Ki Guna Watoncarita)



