Renungan Idul Adha

Semangat pengorbanan Nabi Ibrahim semoga menginspirsi umat Islam Indonesia mewujudkan Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyah dan Ukhuwah Insaniah.

SETIAP kali merayakan Idul Adha, umat Islam perlu merenungkan kembali sikap pengorbanan heroik yang diteladankan oleh Nabi Ibrahim yang rela dan tanpa ragu melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putera tercintanya, Ismail.

Tidak hanya Nabi Ibrahim, isterinya, Hajar dan bahkan Ismail yang hendak dijadikan qurban, meneguhkan hati ayahnya agar tidak ragu-ragu melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih dirinya. Namun drama keluarga itu berakhir setelah malaikat Jibril yang diutus Allah meminta Nabi Ibrahim menggantikan Ismail untuk qurban dengan domba.

Pengorbanan menjadi barang langka di era now, apalagi saat sebagian manusia dengan tamaknya berlomba-lomba memupuk kekayaan dan mengejar kekuasaan atau kenikmatan duniawi lainnya bahkan sering dengan menghalalkan segala cara.

Berbeda dengan ada sosok orang tua yang berupaya “menjual” atau menawar-nawarkan puteranya untuk dijadikan pemimpin, padahal belum waktunya atau si anak tidak memiliki kapasitas untuk itu atau melimpahkan kekayaan dan harta demi kecintaan pada anak, isteri atau keluarga, bahkan yang didapat secara haram, dengan menipu, korupsi atau merampas hak-hak orang lain, Nabi Ibrahim rela menjadikan puteranya sebagai qurban atas kehendak Allah.

Sementara di Padang Arafah, tiga juta jemaah dari seluruh dunia, berasal dari beragam etnis dan bangsa, budaya dan sejarah serta kelas ekonomi yang berbeda, Senin (20/8) bersama-sama melaksanakan ritual wukuf, dilanjutkan dengan melempar jumrah.

Bagi jemaah Indonesia, khotbah wukuf dalam prosesi ibadah haji 1439H yang mengusung tema “Islam Moderat, Toleran, Cinta Damai dan Rekonsiliasi Bangsa”, kontekstual dengan memanasnya suhu politik di Tanah Air yang berpotensi memecah belah umat menjelang pemilu legislatif dan pilpres 2019.

Politisasi agama, politik identitas, ujaran kebencian, fitnah dan hoaks seperti terjadi pada Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu dicemaskan banyak pihak bakal terulang lagi karena ternyata sangat ampuh untuk digunakan memenangkan pertarungan walau berisiko melukai perasaan lawan-lawan politik bahkan bisa mengancam persatuan bangsa.

Untuk itu, umat Islam Indonesia selayaknya melakukan renungan dan segera merekat kembali ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah insaniyah. Artinya, selain memupuk tali persaudaraan dalam kesamaan akidah, persaudaraan antarsesama bangsa dan negara serta sesama insan perlu terus dipupuk.

Melalui perenungan, diharapkan kita akan mawas diri untuk tidak menang sendiri, semena-mena, menghalalkan cara menuju kekuasaan atau mengafir-kafirkan orang, karena mungkin saja “kekafiran” paling tidak dalam pola berfikir ada di dalam diri kita.

Semoga umat Islam Indonesia meniru semangat pengorbanan yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dalam kata dan perbuatan.

Advertisement