Korbankan Kepentingan Pribadi

Korban sapi dan kambing berekor-ekor mampu, tapi mengurbankan kepentingan sendiri untuk orang lain? (Okezone)

HARI ini umat Islam Indonesia menyambut Idul Kurban 1439 H. Yang tidak mampu cukup salat Idul Adha di lapangan atau di mesjid-mesjid, sedangkan yang mampu potong sapi dan kambing.  Orang kaya mampu berkurban berekor-ekor sapi dan kambing, tapi mampukah setiap orang berkurban atau mengurbankan kepentingan pribadinya untuk orang lain? Ini tidak mudah. Bisakah seseorang mengorbankan kepentingan sendiri untuk kebahagiaan orang lain? Sebab sudah menjadi karakter manusia, suka menikmati penderitaaan orang lain!

Dalam keseharian kita sering melihat kenyataan demikian. Ketika terjadi kecelakaan di jalan tol misalnya, langsung terjadi kemacetan di dua jalur arah berlawanan. Mereka melambatkan kendaraaan bukan mau menolong, tapi sekedar melihat penderitaan para korban. “Ada yang mati nggak tuh?” pasti ada yang begitu komentar para penonton.

Saat terjadi musibah pesawat Lion Air tergelincir di bandara Adisumarmo Solo, Nopember 2004, ada kejadian crew TV swasta bukan ikut menolong para korban, tapi sibuk mengabadikan kepenikan para korban yang tengah berusaha menyelamatkan diri. Dari kacamata umum, wartawan teve itu lebih kejam lagi, karena bukan hanya menonton, tapi malah mengkomersilkan penderitaan orang.

Andaikan sang jurnalis itu mau mengorbankan kepentingan pribadi buat orang lain, yakni ikut menolong para korban dulu baru liputan, kemungkinan jumlah korban bisa berkurang, tak sampai 23 orang tewas. Tapi itu tidak mudah, sebab pers atau media elektronik selalu bersaing untuk terdepan menyampaikan informasi ke publik.

Mengorbankan kepentingan sendiri untuk orang lain, memang tidak mudah. Kalaupun bisa, paling-paling untuk hal yang kecil-kecil saja. Misalnya ketika naik busway, kemudian mengalah memberikan kursinya pada pada kakek atau nenek. Tapi tak semuanya begitu. Soalnya pernah kejadian, ada seorang wanita hamil memohon kepada seorang penumpang lelaki untuk memberikan kursinya. Apa jawab lelaki itu? “Enak saja! Suami elo yang enak, kok gua yang disuruh jadi tumbal?”

Dalam bisnis dan politik, banyak sekali kejadian yang sangat berkebalikan. Bukan mengorbankan kepentingan sendiri untuk orang lain, justru orang lain dikorbankan untuk kepentingan dirinya. Sekedar contoh, kontraktor berani menyuap bupati atau walikota sampai miliaran, karena ingin kepentingan sendiri (lelang proyek) diutamakan dengan mengorbankan kontraktor lain yang bisa saja lebih berkwalitas.

Politisi demikian juga, bahkan bisa lebih sadis. Demi kepentingan sendiri atau kelompoknya, dia berani mengorbankan kepentingan lawan, bahkan kalau perlu membunuhnya. Sejarah masa lalu misalnya, kisah Ken Arok dengan keris Empu Gandringnya. Di masa sekarang, silakan cari sendiri…….

Pada Idul Kurban 1439 H ini banyak orang jor-joran berkorban. Pejabat mampu berkorban denga sapi-sapi benggala (besar), yang berkorban kambing juga banyak potong kambing di mana-mana. Tapi mengorbankan kepentingan sendiri untuk pihak lain lain?

Dalam Qur’an surat As Saffat ayat 102 disebutkan: ……Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengorbankan kepentingan dirinya sendiri untuk pihak lain (Allah Swt) dengan ikhlas. Dan karena keikhlasannya yang total itulah Allah kemudian menggantinya. Tak usah menyembelih Ismail, tapi cukup kambing gibas saja. Bisakah kita berkorban seperti Nabi Ibrahim dan Ismail itu? Paling jawabnya, kita bukan kelasnya Nabi. (Cantrik Metaram

Advertisement