Reruntuhan “Tiangong 1” Jatuh di Samudera Pasifik

Stasiun antariksa China Tiangong-1 diprediksi memasuki atmosfir, terbakar berkeping-keping dan tercebur di Samudera Pasifik, Senin (2/4) pagi pukul 07.45WIB.

PENDUDUK Indonesia bisa bernafas lega karena stasiun antariksa pertama China, Tiangong-1 (Istana Kayangan) diprediksi bakal kecebur di kawasan Samudera Pasifik, Senin pagi ini (02/4), jauh di luar wilayah Indonesia.

Menurut Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar Indonesia (LAPAN), Minggu malam, Tiangong-1 akan memasuki atmosfir bumi pada ketinggian 120 Km Senin pagi ini (07.47 WIB) dengan rentang ketidakpastian sekitar tiga jam.

Kalkulasi tersebut, menurut Kepala Lapan Thomas Djamaludin, didasarkan posisi stasiun angkasa luar itu yang pada Minggu pukul 22.00 WIB berada di ketinggian 150 Km dengan laju turun 24 Km per hari.

Perhitungan Komando Strategis AS (US Srategic Command) juga tidak jauh berbeda dengan LAPAN. Tiangong-1 akan jatuh, Senin pukul 07.15 WIB plus minus enam jam, sedangkan badan Antariksa Eropa (ESA) memrediksi pada pukul 09.00 WIB dengan rentang waktu empat jam.

Tiangong-1 berbobot 8,5 ton, panjang 10,5 meter dan diameter 3,4 meter yang diluncurkan 29 September 2011 akan terbakar atau hancur berkeping-keping saat melesat memasuki atmosfir. Empat panel surya berbentuk sirip yang pertama kali terlepas saat badan Tiangong-1 menghunjam atmosfir.

Semula kemungkinan jatuhnya Tiangong-1 yang sudah tidak terkendali tersebut di wilayah Indonesia didasarkan atas perhitungan luasnya wilayah nusantara yang terbentang sepanjang ekuator, 30 persen dari keliling bumi.

Selain itu, inklinasi orbit Tiangong-1 pada 43 derajat membuat seluruh wilayah di bumi mulai dari 43 derajat Lintang Utara hingga 43 derajat Lintang Selatan berpeluang bakal kejatuhan serpihan (debris) satelit tersebut.

Proses masuknya kembali Tiangong-1 ke atmosfir bumi (re-entry) akan lebih panjang waktunya dari yang diperkirakan jika aktivitas matahari dan geomagnet sangat rendah.

Tiangong-1 saat re-entry yakni berada di ketinggian di bawah 120 Km akan terbakar, sedangkan serpihannya bakal bertebaran di permukaan bumi. Tangki bahan bakarnya berbahaya jika tersentuh karena mengandung hydrazine yang beracun dan bersifat korosif.

Sejak mengorbit, Tiangong 1 mengalami 14 kali penyesuaian ketinggian dengan dorongan tenaga roketnya, sedangkan upaya terakhir untuk menaikkan ketinggiannya dilakukan pada 16 Desember 2015.

Tiangong-1 digunakan sebagai lab berawak dan percobaan “testbed” untuk menunjukkan pertemuan orbital dan kemampuan docking sejumlah pesawat ruang angkasa seri Shenzou, berawak maupun tidak, dalam dua tahun pengoperasiannya.

Publikasi secara luas yang mencerminkan kemajuan teknologi negara tirai bambu tersebut terjadi saat Shenzou 9 yang membawa astronot wanita, Liu Yang berhasil merapat ke Tiangong-1 dan kembali dengan selamat pada Juni 2013.

Sejak 16 Maret 2016 stasiun luar angkasa China yang pertama yang diluncurkan dengan roket Long March 2F/G dari pusat peluncuran roket Jiuquan di Gurun Gobi itu itu mengalami gangguan teknis sehingga tidak dapat dikendalikan lagi.

Syukurlah, wilayah Indonesia aman dari serpihan Tiangong-1. Jika tidak, lucu lah, jika China yang dianggap sukses dengan kemajuan teknologi dirgantaranya, Indonesia malah “ketiban pulung”, kejatuhan sampahnya. (LAPAN/NS)

Advertisement