
JAKARTA, KBKNews.id – Gelombang krisis energi akibat memanasnya geopolitik global mulai memaksa sejumlah negara di Asia Tenggara mengambil langkah ekstrem. Penutupan Selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia telah memicu lonjakan harga energi secara drastis. Bahkan mendorong Thailand dan Filipina memberlakukan kembali sistem kerja dari rumah atau Work From Home (WFH) guna menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM).
Di Indonesia, respons pemerintah masih dalam tahap penggodokan berbagai opsi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi pemerintah tengah menyisir segala kemungkinan untuk menjaga stabilitas domestik.
“Semua alternatif-alternatif yang akan kita pakai untuk kebaikan negara kita, sekaligus untuk mendorong efisiensi pemakaian bahan bakar,” tegas Bahlil usai melakukan koordinasi dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Kamis (12/3/2026).
Langkah Darurat di Thailand, Filipina, dan Vietnam
Thailand secara resmi telah mewajibkan instansi pemerintah untuk menerapkan WFH. Sekretaris Jenderal Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional Thailand, Danucha Pichayanan, menyebut kebijakan ini sebagai tindakan darurat untuk meredam risiko kelangkaan pasokan. Selain WFH, pejabat di Thailand dilarang melakukan perjalanan dinas luar negeri yang tidak mendesak.
Langkah serupa diambil Filipina yang kini menerapkan sistem kerja empat hari seminggu guna menghemat penggunaan energi di perkantoran pemerintah. Sementara itu, Vietnam yang sangat bergantung pada impor minyak juga mulai mengimbau perusahaan lokal untuk memulangkan karyawannya. Hal ini demi memangkas biaya energi nasional.
Kepanikan pasar ini dipicu oleh data Bloomberg per 12 Maret 2026. Minyak jenis Brent meroket 9,3% ke level 100,54 USD per barel, sementara WTI melambung hingga 94,85 USD per barel.
Strategi Indonesia: Geser Jalur Impor dan Genjot Energi Bersih
Berbeda dengan tetangganya, Indonesia lebih fokus pada pengalihan sumber pasokan minyak mentah (crude oil). Bahlil mengungkapkan ketergantungan pada minyak Timur Tengah akan segera dikurangi dengan mengalihkan pesanan ke negara-negara yang jauh dari zona konflik.
“Kita akan mengonversi dari BBM kita, crude ya, minyak mentah dari Middle East, ke Amerika dan beberapa negara lain, seperti Nigeria, kemudian Brazil, Australia, dan beberapa negara lain,” tutur Bahlil.
Pemerintah juga menyadari ketergantungan pada fosil adalah kerentanan besar. Oleh karena itu, Presiden Prabowo telah membentuk Satgas Transisi Energi yang dipimpin langsung oleh Bahlil. Satgas ini diberi mandat untuk memastikan percepatan penggunaan energi terbarukan dapat terealisasi maksimal dalam kurun waktu 3-4 tahun ke depan.
Mencari Titik Tengah di Tengah Ketidakpastian
Meskipun opsi WFH seperti yang dilakukan Thailand sudah mulai dibahas oleh publik, Bahlil menekankan pemerintah belum mengeluarkan keputusan final. Dinamika global yang masih sangat cair menuntut pemerintah untuk terus melakukan kalkulasi yang cermat.
“Harus kita mencari berbagai alternatif-alternatif,” imbuhnya, seraya menambahkan setiap langkah yang diambil harus mampu menjaga efisiensi negara tanpa mengganggu produktivitas nasional.
Dengan harga minyak yang telah menyentuh angka keramat 100 USD, Indonesia kini berpacu dengan waktu untuk memastikan ketahanan energi domestik tetap terjaga di tengah kepungan krisis global.




