
KEJATUHAN Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa dan PM Ranil Wrickemasinghe di tengah krisis politik dan ekonomi yang mendera negara itu sejak April lalu memang tinggal menghitung hari.
Minggu (10/7) waktu setempat, ratusan ribu demonstran berhasil menduduki kediaman resmi presiden dan perdana menteri di Kolombo, sedangkan keduanya secara resmi sudah hengkang dari kantor mereka.
Para demonstran mulai beraksi dan menyerbu istana kedua pemimpin Sri Lanka sejak Sabtu (9/7), lalu membakar rumah Presiden Rajapaksa di tengah bergejolaknya kemarahan publik atas krisis ekonomi selama berbulan-bulan.
Menlu AS Antony Blinken, (10/7) mengatakan, Washington mengamati dengan seksama peristiwa di Sri Lanka sehari setelah Presiden Rajakpaksa dan PM Wrickemesinghe menawarkan pengunduran diri pada hari paling dramatis di tengah kemelut politik dan ekonomi di negeri itu.
Berbicara dalam konferensi pers di ibu kota Bangkok, Blinken mendesak parlemen Sri Lanka untuk segera bertindak atas nama negara dan tidak mendukung partai politik mana pun.
“Kami menyerukan parlemen Sri Lanka untuk berkomitmen menuntaskannya (krisis ini) demi negara, bukan untuk mendukung salah satu parpol, “ seru Blinken.
Pemerintah baru, lanjutnya, baik yang dipilih secara konstitusional, maupun petahana, harus bekerja cepat, berupaya mengidentifikasi dan menerapkan solusi yang bisa mengembalikan prospek stabilitas ekonomi jangka panjang demi mengatasi ketidakpuasan rakyat, termasuk mencukupi kebutuhan listrik, makanan dan BBM,” jelas Blinkenseperti dikutip VOA.
Negeri kepulauan berpenduduk 5,5 juta jiwa di kawasan Samudera Hindia itu nyaris lumpuh akibat krisis ekonomi sejak April lalu, bahkan stok BBM Minggu (3/6) menipis, hanya tersisa untuk sehari.
Krisis ekonomi ditandai antrian warga yang mengular sampai beberapa Km untuk mendapatkan BBM sudah menjadi pemandangan sehari-hari di Kolombo dan kota-kota lainnya, bahkan ada warga yang mengantri BBM dua hari dua malam di SPBU.
Pekan lalu Sri Lanka yang kekurangan uang mengumumkan penghentian dua minggu untuk semua penjualan BBM kecuali untuk layanan penting guna menghemat bensin dan solar dalam keadaan darurat.
Kelangkaan BBM dan Sembako
Selain kelangkaan BBM, penduduk Sri Lanka juga kekurangan bahan makanan pokok dalam beberapa bulan terakhir ini yang selain harganya melangit, juga susah diperoleh, sementara pemadaman aliran listrik hampir terjadi sepanjang malam.
Kelangkaan devisa atau mata uang asing untuk membiayai impor yang paling penting telah menjadi penyebab Sri Lanka bangkrut, juga menghadapi rekor inflasi tinggi sejak akhir tahun lalu.
Untuk menekan pengeluaran da menghemat pemggunaan enerji, seluruh lembaga pemerintah dan sekolah yang tidak penting diperintahkan ditutup hingga 10 Juli.
Media lokal melaporkan telah terjadi bentrokan sporadis di luar stasiun bahan bakar akhir pekan lalu, pasukan melepaskan tembakan untuk membubarkan massa yang memprotes militer yang melompati antrian.
Sri Lanka saat ini sedang dalam pembicaraan dengan Dana Moneter Internasional untuk kemungkinan bailout setelah negara itu gagal membayar utang luar negerinya sebesar $51 miliar, April lalu.
Merdeka dan menjadi negara bebentuk republik sejak 1972, negara pulau di utara Samudera Hindia berpenduduk sekitar 22 juta ini terperangkap dalam perang saudara sekitar 26 tahun (1983 – 2009) melawan kelompok separatis Gerakan Macan Tamil Eelam (LTTE).
Selain kekurangan obat-obatan dan layanan kesehatan, penduduk Sri Lanka juga terancam kelaparan jika pemerintah tidak menemukan solusi pengadaan pangan.
Pelajaran dari Sri Lanka, jika terkait kebutuhan pokok rakyat khususnya pangan, perut tidak dapat menunggu. (VOA/ns)




