RI Ingin Jadi “Kiblat” Islam Moderat

PEMERINTAH Indonesia membangun kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) yang bakal menjadi model dan rujukan pendidikan tinggi Islam moderat dunia dengan kajian keislaman strategis.

Pembangunan kampus berstandar internasional seluas 143 Ha dengan taksiran biaya Rp3,5 triliun bersumber dari APBN dan pinjaman Bank Pembangunan Islam (IDB) diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Selasa (5/6).

Dalam sambutannya Presiden Jokowi berharap agar UIII menjadi pusat peradaban Islam di tanah air, mengingat posisi RI sebagai negara besar dengan penduduk yang mayoritas pemeluk agama Islam.

“Sudah sepantasnya Indonesia menjadi rujukan peradaban Islam dunia, “ tandasnya.

Sebelumnya Wapres Jusuf Kalla yang ditunjuk untuk menyiapkan pembangunan UIII, Januari lalu mengemukakan, pihaknya akan bekerjasama dengan dosen-dosen terkemuka di Australia, Amerika Serikat, Jepang, Kanada dan Mesir untuk mengajar di kampus internasional tersebut.

Dari 5.000 mahasiswa program magister dan doktoral (S2 dan S3) yang akan mengikuti kuliah angkatan pertama nanti, diharapkan akan lahir calon-calon pemimpin yang akan membawa peradaban Islam modern dan model kepemimpinan Islam Indonesia di dunia.

Pembangunan UIII disambut baik oleh kalangan akademisi Islam, a.l. Rektor Universitas Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Suyitno yang berharap UIII menjadi pusat pengembangan peradaban dan kebudayaan Islam untuk menelurkan pemikiran-pemikiran dan karya besar dunia, sekaligus mendorong kebangkitan Islam nusantara.

Sedangkan Ketua PB Nahdlatul Ulama Robikin Emhas berharap, kehadiran UIII akan memperkuat Islam yang moderat dan toleran di tanah air, sehingga di tengah pemunculan aliran radikalisme yang meresahkan, UIII menjadi energi baru untuk menjaga keberagaman, persatuan dan keutuhan bangsa.

Pembangunan kampus UIII yang ditargetkan rampung pertengahan 2021 mengedepankan tiga pilar, sebagai peguruan tinggi, pusat kajian dan juga pusatkebudayaan.

Di Indonesia, sejauh ini belum ada pusat kajian praktik Islam dan demokrasi di dunia Islamsehingga dengan kehadiran pusat kajian tersebut, pemikiran dan pengalaman Indonesia bisa digali melalui riset ilmiah yang mendalam guna memperkokoh sosok Islam wasathiyah (moderat).

UIII juga akan dimanfaatkan untuk memperkenalkan program pesantren dengan memperkuat tradisi yang telah berjalan dan mendorong inovasi agar mampu memberikan kontribusi bagi dunia.

Selain itu UIII diharapkan bisa menampung ribuan mahasiswa Indonesia melanjutkan pendidikan tentang kajian Islam ke jenjang magister dan doktoral yang selama ini dilakukan di sejumlah perguruan tinggi di Timur Tengah.

Pebangunan UIII didasarkan pada Peraturan Presiden no. 57 tahun 2016 dengan pertimbangan, Indonesia perlu menjadi salah satu pusat peradaban Islam dunia melalui jalur pendidikan tinggi bertaraf internasional.

Kehadiran UIII diharapkan mampu menangkal munculnya aliran sektarian dan ekstrimisme serta politik identitas di tengah kebinekaan dan keberagaman Indonesia.

Advertisement