Rupiah Anjlok Dekati Rp17.000 per Dollar AS

Tren nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus menurun, dekati Rp17.000 per dollar AS. Berdampak pada mahalnya bahan baku impor dan industri dalam negeri (ilustrasi: jabejabe.co.id)

DIREKTUR Eksekutif Center of Economic Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, anjloknya nilai  rupiah sampai mendekati Rp17.000 per dollar AS bakal berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia.

“Jika rupiah tembus di atas Rp 17.000 per dollar AS, bakal  terjadi ‘imported inflation’  atau inflasi disebabkan naiknya biaya impor,” kata Bhima saat dihubungi Kompas.com, Rabu (21/1).

‘Imported inflation’  adalah inflasi yang terjadi di suatu negara akibat kenaikan harga barang atau jasa yang diimpor dari luar negeri.

Kondisi ini bisa terjadi karena depresiasi nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing. Masyarakat juga akan ikut terdampak melemahnya rupiah seperti  pernah terjadi saat krismon 1998.

“Bahan pangan yang berasal dari impor lebih mahal, inflasi naik dan daya beli turun. “Cicilan motor dan KPR ikut naik karena komponen impor otomotif dan rumah turut mempengaruhi harga jual barang,” tutur Bhima.

Bagi pelaku usaha, Bhima menilai, penurunan nilai mata uang rupiah terhadap dollar AS bisa membuat mereka kesulitan untuk bersaing, terutama lini usaha yang bergantung pada bahan baku.

Berujung PHK

Akibatnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) bakal menjadi skenario paling buruk, sementara utang pemerintah terutama yang berasal dari kreditur LN  juga menjadi lebih mahal.

“Bunga dan cicilan utang makin memperlebar defisit APBN,” terang Bhima.

Sayangnya, diperkirakan, tren pelemahan rupiah masih akan berlanjut. “Tren pelemahan rupiah masih akan berlanjut. Utak atik pencalonan deputi gubernur BI ikut menambah depresiasi kurs,” tandasnya.

“Strateginya dengan pembatalan pencalonan Thomas Djiwandono dan memperkecil defisit APBN serta mendorong ekspor ke negara alternatif,” imbuh Bhima.

Dikutip dari Kompas.id, pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Aquinas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia dinilai berisiko memperburuk nilai tukar rupiah di tengah sentimen global.

Hal ini karena penugasan pemimpin bank sentral seharusnya diberikan kepada orang-orang yang memiliki pemahaman mendalam soal kebijakan moneter dan sistem keuangan.

Kompetensi Thomas

Thomas berpengalaman di bidang ekonomi a.l. menjadi analis keuangan di NatWest Market, Jakarta, pada 1996 dan konsultan di Castle Asia pada 1999.

Dia juga sempat berkarier di Comexindo Internasional selama 2010-2024 serta di Arsari Group pada 2011-2024.

Menurut laman resmi Kementerian Keuangan, Thomas tercatat sebagai alumni sarjana Studi Sejarah di Haverford College, Amerika Serikat, pada 1994.

Pada 2003, Thomas meraih gelar Master of Arts di bidang Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat.

Menurut analisis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong, melemahnya nilai tukar rupiah tidak terlepas dari kekhawatiran pasar terhadap prospek defisit anggaran yang berpotensi melewati batas tiga  persen dan ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan BI.

Kedua faktor tersebut mendorong investor bersikap lebih ‘defensive’ terhadap aset berdenominasi rupiah.

“Penyebabnya masih sama, kekuatiran defisit anggaran melewati tiga persen dan prospek pemangkasan suku bunga BI,” kata Lukman.

Lukman menambahkan, nasib rupiah bergantung pada pertemuan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI).

Tentukan persepsi pasar

Pada bagia lain Lukman menyebutkan, arah komunikasi kebijakan BI selanjutnya akan menentukan persepsi pasar, khususnya terkait komitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.

Lukman memprediksi, hingga saat ini, ada potensi nilai tukar Rupiah terhadap dollar tembus di Rp 17.000, walau kemungkinan itu belum tentu terjadi.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai, pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) kemungkinan tidak direspons positif oleh pasar.

”Saya khawatir market tidak memberikan respons positif terhadap beliau sehingga berdampak pada rupiah yang bisa semakin tertekan. Sekarang saja sudah nyaris ke        Rp 17.000 per dolar AS,” ujarnya.

Persoalan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, menurut Bhima, sebenarnya sudah terjadi sejak lama.

Bhima menyebut, secara historis, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sangat sulit kembali di bawah Rp 16.700.

Trend situasi ekonomi, baik nasional maupun global agaknya tidak sedang baik-baik saja. Yuk,  “kencangkan ikat pinggang!” (Kompas.com/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here