RSUD Cililin ‘Tolak’ Lakukan Operasi Caesar untuk Pasien ST Penderita HIV/AIDS

ilustrasi

CILILIN – Kepala RSUD Cililin Jajang Hadianto mengakui pihaknya tak bisa melakukan operasi caesar terhadap penderita HIV/AIDS yang akan melahirkan, ST (35 tahun). Jajang beralasan, RSUD Cililin tidak memiliki kelengkapan peralatan untuk melakukan pembedahan.

“Kelengkapannya beda. Jadi kalau (penderita HIV/AIDS) melahirkan normal enggak ada masalah tapi kalau operasi kan perlengkapannya tidak tersedia. Kami belum sampai ke situ, jadi belum ada perlengkapan untuk perlindungan operator,” kata Jajang, Ahad 3 April 2016.

Menurut dia, perlengkapan alat-alat bedah bagi penderita HIV/AIDS terbilang cukup mahal. Di samping menggunakan peralatan bedah sekali pakai untuk pasien, dibutuhkan pula peralatan bedah yang aman bagi tenaga medis agar tidak terinveksi virus HIV/AIDS.

“Prosedur perlindungan tenaga medisnya berbeda. Buat pasien hepatitis B, hepatitis C, dan HIV/AIDS itu berbeda. Alat-alatnya sekali pakai dibuang. Untuk pembersihan ruang operasinya saja bisa habis Rp 2 juta. Jadi, penanganannya enggak sama dan lebih mahal. Kami belum pernah melakukannya karena siapa yang menyediakan peralatannya?” tutur Jajang.

Halaman Berikut: Rujukan 120 Pasien HIV

Advertisement