Ruang VIP di Masjidil Haram

Ruang istimewa ini berada di lantai dasar dan bisa dimasuki jamaah umum selama masih ada tempat.

Ada tempat-tempat istimewa di lingkungan Masjidil Haram yang selalu diburu jamaah haji dan umroh yang mengunjunginya. Mereka beribadah dan berdoa di tempat-tempat itu karena diyakini sebagai tempat yang mustajab.

Ada Hajar Aswad, batu hitam yang menjadi rebutan jamaah untuk menciumnya. Batu yang diyakini berasal dari surga ini berada sejajar dengan Rukun Yamani. Untuk memegang, apalagi menciumnya butuh perjuangan ekstra karena berdesak-desakan dengan jamaah lainnya.

Ada juga Multazam, dinding yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Kakbah. Dalam sebuah hadis disebutkan, Rasulullah beserta sahabat saat Fathu Makkah, keluar dari dalam Kakbah dan kemudian menempelkan pipi dan dadanya ke Multazam untuk berdoa.

Tempat lainnya yang istimewa adalah Hijir Ismail. Ia terletak di sebelah utara Ka’bah, dilingkari oleh tembok lebar (Al-Hathimu). Hijir Ismail setiap saat dipenuhi jamah, untuk melakukan shalat, berdoa dan sebagainya.

Walau posisinya di luar Kakbah, Hijir Ismail masih merupakan bagan dari ka’bah. Di dalam Hijir Ismail yang kecil itulah orang berebutan masuk, shalat dan berdoa meminta apa saja sesuai dengan hajat masing-masing. Konon do’a yang paling mustajab di Hijir Ismail dilakukan di bawah talang air berwarna emas di atas Kakbah.

Jika spot di atas menjadi rebutan karena keutaman (fadhilah) dan pahala, tempat yang satu ini menjadi istimewa karena “kebanggaan”. Tempat itu adalah ruang utama Imam Masjidil Haram untuk memimpin shalat Rawatib.

Entah sejak kapan Imam di Masjidil Haram tidak lagi berdiri di shaf terdepan yang berada di dekat Kakbah. Sang Imam kini menempati ruangan khusus bersekat papan di salah satu bagian lantai dasar masjid. Biasanya, untuk shalat Tarawih, Imam memang tidak berdiri di depan Kakbah langsung, melainkan di lantai 2, namun tidak untuk shalat Rawatib yang selalu di depan Kakbah.

Tak banyak memang, jamaah yang tahu keberadaan Imam saat memimpin shalat di Masjidil Haram.  Seorang Muthawwif (guide) umroh yang biasa membimbing jamaah pun banyak yang tak sadar posisi Imam sudah tidak lagi di depan Kakbah persis.

Ruangan istimewa ini tak terlalu besar, hanya sekira 10 x 10 meter persegi. Di sekelilingnya terdapat partisi yang terbuat papan kayu berplitur coklat. Ada ornament khas masjid dan kaligrafi lafadz Allah di beberapa bagiannya. Di bagian depan, terdapat mimbar yang terbuat dari kayu, juga berwarna coklat. Lokasinya ada di lantai dasar Masjidil Haram, menghadap di sisi kakbah antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad.

Untuk mencapai tempat ini, kita bisa masuk melalui Gerbang Ismail (Ismail Gate), dan turun ke bawah melalui eskalator. Pintu ini berada di samping Gerbang Ajyad yang berdekatan dengan King Abdul Aziz Gate. Tak sulit menemukan gerbang ini, karena berada persis di depan Zamzam Tower, bangunan besar dengan jam raksasa di depan Masjidil Haram.

 

Perlakuan Istimewa

Berbeda dengan tempat lainnya di Masjidil Haram, ada perlakuan khusus bagi jamaah yang ikut shalat di ruangan ini. Pertama, karena ini ruang “VIP”, maka tempat ini selalu dijaga sejumlah aparat berseragam. Jadi jangan membawa barang-barang yang mencolok seperti tas berukuran besar jika tidak ingin berurusan dengan aparat.

Sekitar 15 menit sebelum azan berkumandang, sejumlah petugas kebersihan mengepel lantai yang akan ditempati Imam. Mereka juga mengganti karpet di bagian shaf terdepan untuk diisi pejabat dan petinggi setempat. Oleh karenanya jangan duduk di barisan depan jika tidak ingin diusir petugas.

Shalat di tempat ini seperti akan mengikuti kenduri. Sejumlah pegawai menyalakan Bukhur yang mengeluarkan aroma semerbak gaharu untuk mengharumkan ruangan. Petugas yang mengenakan rompi khusus juga membagikan air zamzam dalam kemasan kepada setiap jamaah yang hadir tak lama setelah azan berkumandang. Selain itu, sejumlah orang juga yang membagikan minyak wangi kepada setiap jamaah.

Sekitar 10 menit menjelang Iqomat, sang Imam pun datang dengan pengawalan sejumlah aparat. Ia pun shalat sunnah dua rakaat dan kemudian Iqomat berkumandang. Jangan coba-coba mengambil foto dan gambar menjelang atau setelah shalat berlangsung jika HP Anda tidak ingin disita petugas. Bahkan, seusai salam, dan Imam berbalik badan untuk berzikir, dua askar sigap menutupi sang Imam dari pandangan jamaah yang ingin mengambil gambar.

Suasana shalat di ruangan ini begitu nyaman. Terlebih, saat saya menemukan tempat ini dan shalat di dalamnya, Imam Masjidil Haram yang paling terkenal, Syaikh Abdurrahman as-Sudais sedang mendapat giliran menjadi imam Isya. Suaranya yang merdu dan khas menambah kenikmatan shalat yang kita jalani.

Ruangan ini sangat terbatas, jamaah tidak diperkenankan masuk jika sudah tidak ada tempat di dalam. Oleh karenanya jika Anda ingin melaksanakan shalat di tempat ini, datanglah minimal 1 jam sebelum azan berkumandang.

 

 

Advertisement