Rumah Kasih Sayang Anak Disabilitas

Suasana Rumah Anak Prestasi yang berada di Jalan Nginden Semolo No. 23 Kota Pahlawan, Jawa Timur, Kamis (15/9/2022). (Foto: ANTARA/HO-Diskominfo Surabaya)

SURABAYA – Bangunan rumah di Jalan Nginden Semolo Nomor 23 Kota Surabaya, Jawa Timur, setiap harinya tampak tak pernah sepi dari keberadaan anak-anak penyandang disabilitas.

Rumah yang dikenal dengan sebutan Rumah Anak Prestasi itu merupakan bentuk representasi kasih sayang Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kepada anak-anak disabilitas di Kota Pahlawan.

Rumah Anak Prestasi menjadi tempat atau wadah kreativitas dan kemandirian bagi anak-anak disabilitas.

Setelah diresmikan pada September 2022, Rumah Anak Prestasi ramai didatangi anak-anak disabilitas beserta orang tuanya silih berganti. Kehadiran mereka untuk mengembangkan bakat dan kreativitas sekaligus ingin mendapatkan layanan terapi.

Selain untuk mengembangkan bakat dan keterampilan, Rumah Anak Prestasi ditujukan pula sebagai ruang atau wadah untuk berkumpulnya anak-anak disabilitas di Surabaya. Dengan bertemu teman-temannya, mereka memiliki keyakinan dan kemandirian saat menginjak usia dewasa.

Rumah Anak Prestasi dilengkapi sejumlah ruang atau fasilitas bagi anak-anak istimewa mulai dari ruang terapi wicara, ruang pembelajaran, ruang musik, ruang batik, ruang physiotherapy hingga ruang fefleksi. Ada pula musala yang dapat digunakan anak-anak untuk mengaji.

Agar pelatihan di Rumah Anak Prestasi lebih efektif dan tidak menunggu lama, Dinas Sosial (Dinsos) Surabaya telah menyediakan pendaftaran secara daring. Calon peserta dapat melakukan pendaftaran melalui laman https://dinassosial.surabaya.go.id. Kemudian, memilih menu informasi dan selanjutnya pilih Rumah Anak Prestasi untuk mengisi form pendaftaran.

Kepala Dinsos Surabaya, Anna Fajriatin, mencatat ada sejumlah jenis pelatihan dan pelayanan di Rumah Anak Prestasi yang paling diminati oleh anak-anak istimewa, di antaranya lukis, shibori, musik dan physiotherapy.

Sejumlah pelatihan itu jika didapatkan melalui les privat atau mendatangkan pelatih tentu biayanya cukup mahal.

Pelatihan yang paling diminati saat ini adalah seni lukis dan membuat shibori atau teknik pewarnaan kain, termasuk dengan physiotherapy dan dongeng yang menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo).

Daftar anak yang telah mengikuti pelatihan atau konsultasi dan pelayanan di Rumah Anak Prestasi untuk jenis pelatihan lukis (lukis, batik dan sablon) sebanyak 115 anak, pelatihan keterampilan (menjahit dan handycraft) sebanyak 101 anak.

Selanjutnya untuk musik dan modeling telah diikuti 43 anak, belajar mengaji sebanyak 45 anak, dongeng bahasa isyarat sebanyak 59 anak. Sementara untuk konsultasi dan pelayanan (dokter spesialis anak, fisioterapi dan akupuntur) sebanyak 19 anak.

Dari Anak Disabilitas

Rumah Anak Prestasi telah menjadi ruang kreativitas kemandirian bagi anak-anak disabilitas. Bahkan, beberapa pendamping di Rumah Anak Prestasi juga berasal dari anak disabilitas.

Dengan adanya Rumah Anak Prestasi, anak-anak penyandang disablitas diharapkan memiliki kesempatan yang sama dengan anak-anak lainnya. Bagi Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, setiap anak disabilitas memiliki kelebihan dan keistimewaan.

Karena itu, pemkot menyediakan Rumah Anak Prestasi sebagai wadah sekaligus fasilitas bagi mereka untuk mengembangkan bakat dan keterampilan. Seluruh anak istimewa di Kota Surabaya dapat memanfaatkan fasilitas dan ruang yang tersedia di Rumah Anak Prestasi secara gratis dan tidak dipungut biaya.

Keberadaan Rumah Anak Prestasi tentu belum sepenuhnya sempurna sebagai ruang kreativitas kemandirian anak disabilitas di Surabaya.

Oleh karena itu, Cak Eri, panggilan lekat Eri Cahyadi, memastikan akan terus menyempurnakan kehadiran Rumah Anak Prestasi dengan menggandeng berbagai elemen dan komunitas di Surabaya.

Tidak hanya Dinsos Surabaya saja yang berkecimpung dalam Rumah Anak Pintar, melainkan juga Perangkat Daerah (PD) lainnya di lingkup Pemkot Surabaya mulai dari Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk screening disabilitas, Dinas Pendidikan (Dispendik) hingga Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya untuk psikologinya.

Salah seorang disabilitas di Surabaya, Cinta Apsari, mengaku bersyukur dan senang atas solusi yang diberikan Pemkot Surabaya. Cinta berterima kasih lantaran ditempatkan di Rumah Anak Prestasi untuk menjadi pengajar.

Cinta Apsari berharap ada banyak kesempatan bekerja bagi para disabilitas lainnya di Surabaya lainnya.

Kelas Mendongeng

Kelas Mendongeng untuk terapi wicara di Rumah Anak Prestasi menyasar anak-anak tunawicara yang kesulitan mendapatkan akses untuk berbahasa. Sebab, mereka memiliki kesulitan untuk menggunakan bahasa isyarat.

Tidak hanya itu, tunawicara juga kesulitan untuk belajar bahasa isyarat. Kalau di Sekolah Luar Biasa (SLB), mereka belajar Sibi (menggunakan tangan untuk mengisyaratkan abjad dan angka), kalau sehari-hari menggunakan Bisindo (membutuhkan dua tangan). Sedangkan kalau di sekolah inklusi kebanyakan mereka tidak bisa keduanya.

Oleh karena itu, Mentor Kelas Mendongeng untuk Terapi Wicara, Inge Ariani Safitri bersama teman-teman tunawicara di Kota Surabaya membuat Bisindo untuk anak-anak yang belum bisa menggunakan bahasa isyarat.

Kemudian, Inge bersama yang lainnya juga menyasar peningkatan literasi dengan belajar mendongeng menggunakan bahasa isyarat.

Maka, dibuatlah dua kelas untuk teman tuli dan kelas mendongeng dengan bahasa isyarat untuk teman tuli juga. Ini adalah terapi untuk membuat mereka lebih percaya diri, karena hambatan mereka adalah berkomunikasi.

Harapannya, dengan adanya Kelas Mendongeng untuk Terapi Wicara ini bisa menambah kepercayaan diri anak-anak disabilitas untuk berkomunikasi dengan masyarakat umum.

Dengan tampil mendongeng ini, diharapkan mereka bisa lebih percaya diri dan lebih yakin, bahwa orang-orang bisa mengerti dan paham dengan apa yang ingin disampaikan.

Sumber: Antara