
NILAI tukar mata uang rupiah melemah terhadap dollar Amerika Serikat, hampir menembus Rp17.000 per dollar AS pada perdagangan, Rabu pagi (4/3).
Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS bergerak menguat 0,27 persen ke level Rp 16.917, dibandingkan hari sebelumnya, Selasa (3/3), dolar AS ditutup pada level Rp 16.872.
Sebaliknya, dolar AS terpantau bergerak melemah terhadap mayoritas mata uang asing lainnya, misalnya terhadap EUR, melemah 0,12 persen, terhadap mata uang Jepang (JPY), melemah 0,15 persen, sementara terhadap CHF, melemah 0,04 persen, terhadap dollar Australia 0,28 persen dan Pondsterling melemah 0,16 persen.
Dollar AS tercatat hanya menguat terhadap mata uang dollar Kanada sebesar 0,04 persen.
Sementara itu, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengemukakan, perang antara AS dan Iran dikhawatirkan berdampak bagi ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah.
Riefky menyebut ada tiga subsektor ekonomi kreatif (ekraf) yang selama ini menjadi primadona ekspor ke Timur Tengah yakni fesyen, kuliner, dan kriya.
“Untuk kawasan Timur Tengah, fesyen, kuliner, kriya menjadi tiga subsektor ekraf yang saat ini nilai ekspornya cukup tinggi,” ujar Riefky di kantor Shopee Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (4/3).
Koordinasi lintas sektoral
Meski potensi kendala ekspor di depan mata, Riefky menegaskan akan terus memantau pergerakan data ekspor dengan koordinasi ketat dengan instansi terkait, seperti Kementerian Perdagangan, Kemenlu dan BPS.
Ia juga akan berdiskusi dengan instansi lain terkait dampak konflik di Tmur Tengah ke subsektor tersebut.
Sebagai langkah antisipasi efek domino perang terhadap ekonomi nasional, Riefky menekankan pentingnya menjaga pasar domestik.
Riefky ingin agar merek lokal tidak hanya bergantung pada ekspor, tapi juga menjadi raja di rumah sendiri.
“Kita akan cermati dampaknya, tetapi yang paling penting, market dalam negeri tetap terjaga,” tambah Riefky.
Untuk itu ia berharap, industri kreatif bisa meniru ketangguhan UMKM saat menghadapi pandemi covid-19. UMKM serta sektor ekraf diharapkan kembali menjadi tulang punggung ekonomi saat perdagangan internasional terganggu.
Di sisi lain, pihaknya juga mendorong hilirisasi sektor ekraf untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor.
Hilirisasi, lanjutnya, tidak hanya diperuntukkan di sektor tambang saja, melainkan juga di sektor fesyen, kuliner, hingga kerajinan.
“Industri kreatif yang tadinya impor bisa digantikan dengan produk-produk lokal. Kita harapkan itu baik penjualan dan penyerapannya itu dari Indonesia, untuk Indonesia oleh Indonesia ini benar-benar dapat kita lakukan,” jelasnya.
Perkuat ekonomi domestik
Di tempat terpisah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan cara agar ekonomi Indonesia mampu menahan gejolak perang AS dan Iran dengan memperkuat fundamental perekonomian domestik.
“Yang penting, pemerintah dan rakyat harus menciptakan optimisme agar roda-roda ekonomi berjalan.
“Saya tidak peduli situasi ekonomi global, karena jika domestik demand bisa dijaga, kita akan terus tumbuh, “ujarnya.
Purbaya bilang, ekonomi Indonesia memiliki pasar domestik yang kuat. Apabila pasar domestik ini dapat dijaga daya belinya, kontribusi ekonominya akan besar dan Indonesia bisa bertahan dengan baik.
“Selama kita bisa jaga domestic demand yang 90% kontribusinya ke ekonomi kita juga masih bisa survive,” ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/3) malam.
Dampak situasi global memang tidak bisa dihindari, namun di tengah situasi sulit ini, efisiens terutama dengan mengenakan penyebab biaya tinggi harus terus diupayakan. (ns)




