Rusia Berkilah Tidak Bantu Iran

Sistem rudal pertahanan udara Rusia S-400 Triumpf yang juga dioperasikan Iran. Mitra stretegis Iran, Rusia dan China teryata tiak terjun menghadapi AS dan Israel (U-Report)

RUSIA yang belum memberikan reaksi terkait serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel  terhadap negara mitra utamanya di Timur Tengah: Iran beralasan kenapa pihaknya tidak erjun langsung  mendukung Iran.

Rusia mengutip keterangan Jubir Kepresidenan Rusia Dmitry Peskov seperti dilaporkan AFP dan Politico (5/3) menyatakan secara blak-blakan, Iran belum meminta bantuan militer dari sekutu Moskwa.

“Tidak ada permintaan dari Iran,” kata Peskovd dalam konferensi pers harian. Diberitakan sebelumnya, hubungan diplomatik antara Rusia dan Iran kini tengah menjadi sorotan tajam setelah serangan besar-besaran AS dan Israel menghantam Teheran.

Ironisnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bersama Menteri Pertahanan dan, seluruhny 40-an pejabat tinggi tewas di menit-menit pertama awal serangan AS dan Israel, Sabtu 28 Feb.

Meski dikenal sebagai sekutu dekat, Moskwa tidak mengirim bantuan militer kepada negara sekutu terdekatnya  di Timur Tengah tersebut.

Rusia dinilai hanya memberikan dukungan simbolis dan verbal alias “omon-omon” pada saat Teheran berada dalam titik nadir, digempur oleh rudal dan ratusan pesawat tempur AS dan Israel.

Ketika bom-bom mulai berjatuhan, diplomat tinggi Teheran segera menghubungi Moskwa, sebagaimana dilansir Politico, namun, berdasarkan pernyataan resmi Rusia, Menlu Sergey Lavrov hanya menawarkan simpati dan janji dukungan verbal kepada Iran.

Batasan traktat Secara formal, Rusia memang tidak memiliki kewajiban untuk terjun langsung membela Iran.

Tak mengikat pertahanan bersama 

Iran dan Rusia memang telah menandatangani perjanjian kemitraan strategis pada April 2025, namun kesepakatan tersebut tidak memuat klausul pertahanan bersama.

“Saya ingin menekankan bahwa penandatanganan perjanjian tersebut tidak berarti pembentukan aliansi militer dengan Iran atau bantuan militer timbal balik,” tegas Wamenlu Rusia Andrey Rudenko kepada Parlemen Rusia atau Duma.

Kesenjangan komitmen ini terlihat kontras jika melihat bantuan Iran yang selama ini memasok drone dan rudal untuk perang Rusia di Ukraina.

Namun bagi Presiden Rusia Vladimir Putin, faktor Israel menjadi pertimbangan utama yang menghambat keterlibatan militer Rusia di Teheran.

Dalam Forum Ekonomi St Petersburg pada Juni 2025, Putin sempat membela sikap “netral” Rusia.  Dia menyoroti keberadaan setidaknya dua juta mantan warga Uni Soviet yang kini menetap di Israel.

“Negara itu (Israel) hampir menjadi negara berbahasa Rusia hari ini. Dan kami tentu saja mempertimbangkan faktor tersebut,” ujar Putin saat itu.

Pukulan telak

Kegagalan untuk mengintervensi serangan di Iran mau tak mau menjadi pukulan telak bagi reputasi global Rusia, walau Moskwa mencoba memutar balik situasi untuk kepentingan domestik dan diplomasinya.

Para pejabat Kremlin mulai mengarahkan kritik tajam kepada Barat. Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev melalui unggahannya di media sosial X, menyindir peran  Trump.

“Sang ‘juru damai’ beraksi lagi.Pembicaraan dengan Iran hanyalah kedok. Semua orang tahu itu,” tulis Medvedev.

Senada dengan Medvedev, penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Fyodr Lukyanov, menyebut bahwa diplomasi dengan Trump kini menjadi hal yang sama sekali tidak berguna.

Di sisi lain, pengamat politik Rusia dari University College London, Vladimir Pastukhov, menilai situasi di Teheran justru akan memperkeras posisi Putin terkait perang di Ukraina.

“Akan sulit meyakinkan Putin bahwa dia pernah salah

(mengenai bahaya Barat). Kepada mereka yang ragu, dia akan menunjuk ke Teheran dan berkata:

‘Itu bisa saja menimpa kita’,” tulis Pastukhov melalui Telegram. Kini, Moskwa tampaknya berharap agar sekutu-sekutunya yang tersisa lebih fokus pada pesan “bahaya pengkhianatan Barat” ketimbang meratapi ketidakhadiran militer Rusia saat Iran digempur habis-habisan.

Namun ada juga pengamat yang menduga, tidak terjunnya Rusia untuk membela Iran, karena secara perimbangan militer, Rusia belum mampu “head to head” melawan AS, apalagi sumberdaya dan kocek APBN-nya terkuras dalam Perang Ukraina yang tak kunjung usai.

Dari nilai anggaran militer saja, menurut Global Firepower, AS bertengger di nomor satu dengan 831,5 miliar dollar AS (sekitar 14.135,5 triliun) , sedangkan Rusia di ranking ke-3 dengan 212,638 dollar AS (Rp 3.614,46 triliun).

China juga berpangaku tangan

Begitu pula dengan China, mitra dekat Iran yang dalam konteks menghadapi AS dan Israel, selalu di belakang Iran, juga tidak terjun langsung menghadang AS dan Israel.

Walau saat ini sudah memiliki kemajuan luar biasa, bahkan kekuatan armada lautnya dalam jumlah kapal sudah mengungguli  AS, agaknya belum cukup nyali untuk berperang langsung.

Iran sendiri agaknya akan memanfaatkan keuggulan stok rudal balistiknya (diperkirakan masih ada 3.000 pucuk  lagi) untuk diluncurkan ke wilayah Israel dan pangkalan militar AS di sejumlah negara di Timur Tengah.

Sebaliknya, AS dan Israel yang jauh lebih unggul dalam kekuatan matra laut dan udara akan memfokuskan operasi di hari hariberikutnya untuk membungkam situs-situs peluncuran rudal Iran yang tersebar dan terlindungi dengan baik. (AFP/Politico/kompas.com/NS)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here