Setiap Kenaikan USD1 ICP, Defisit Naik Rp6,8 Triliun

WAKIL Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan, pihaknya terus melakukan kegiatan rutin berupa stress test terhadap berbagai skenario situasi global termasuk kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah.

Mengutip Investing com, (5/3), kontak berjangka minyak Brent yang berakhir Mei, naik 0,4 persen menjadi 81,68 per barel, sementara kontrak berjangka minyak mentah WTI bertambah 0,7 persen menjadi 75,07 per barel.

Kedua patokan harga tersebut ditutup hampir lima persen lebih tinggi, Selasa (3/3), menambah kenaikan tujuh perse di awal pekan, dengan kontrak Brent mencapai level tertinggi sejak Juli 2024.Kenaikan satu dolar AS pada Indonesian Crude Price (ICP) bakal menambah defisit Rp6,8 triliun.

Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguat, Kamis (5/3) berkat ‘global sentimen-risk’ penguatan Wall-Street dan meredanya kecemasan pasar terhadap kemungkinan eskalasi konflik Timur Tengah.

Data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot exchange, Kamis pagi pukul 09:13 menguat 12 persen atau 0,3 persen ke level Rp16.880 per dollar AS.

Sementara itu lebih jauh Juda Agung mengatakan setiap kenaikan satu dollar AS  pada Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi menambah defisit sekitar Rp 6,8 triliun.

Pelemahan Rp100 berdampak Rp0,8T

Sementara itu, pelemahan Rp 100 terhadap dolar AS berdampak sekitar Rp 0,8 triliun terhadap defisit dan kenaikan yield 0,1 persen berpotensi menambah beban sekitar Rp 1,9 triliun.

“Stress-test yang kami lakukan pada skenario yang cukup plausible itu menunjukkan bahwa defisit masih terjaga di bawah tiga persen, sementara ‘debt over GDP’ juga masih terjaga,” ujar Juda dalam keterangan tertulis, Kamis (5/3).

Lonjakan harga minyak tak terhindarkan setelah Iran memblokade Selat sempit Hormuz yang menjadi lintasan kapal-kapal taker pengangkut minyak dari ladang-ladang di Timur Tengah sejak (282) akibat konflik dengan AS dan Israel.

Dari sisi pembiayaan, Juda menyebut pihaknya juga terus melakukan diversifikasi sumber pendanaan guna memperkuat ketahanan fiskal.

Jika sebelumnya pembiayaan global didominasi dolar AS, kini pemerintah memperluas basis investor dan mata uang.

“Minggu lalu Kemenkeu baru saja menerbitkan global bonds sebesar 4,5 miliar dollar AS equivalent tapi dalam mata uang Euro dan Renminbi.

“Harganya masih sangat bagus, yield-nya masih sangat bagus. Untuk Renminbi antara 2-3 persendan untuk Euro  4-5%. Ini ukurannya ini masih sangat bagus sekali untuk pasar global kita,” tutur Juda.

Di sisi investasi, pemerintah telah memasukkan proyeksi investasi asing dalam skenario pertumbuhan ekonomi. Selain itu, peran investasi domestik juga diperkuat melalui entitas baru pemerintah yakni Danantara.

“Danantara sekarang memiliki peran penting. Kalau dulu investasi yang dilakukan oleh pemerintah akhirnya masuk di APBN, sekarang kan ada di Danantara.

Danantara sekarang part of macroeconomic management dari Indonesia,” jelas Juda.

Juda menyebut saat ini pihaknya lebih memfokuskan belanja APBN pada konsumsi pemerintah dan penguatan kesejahteraan masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.

Sementara, pembiayaan investasi semakin banyak dilakukan melalui Danantara serta dukungan investasi luar negeri.

“Dengan berbagai instrumen tersebut, kita optimistis keseimbangan antara penerimaan dan belanja negara tetap dapat dijaga di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian,” imbuhnya.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here