Rusia Leluasa di Angkasa Ukraina

Ilustrasi pesawat siluman generasi ke-5 Rusia Sukhoi SU-57 yang ikut dikerahkan menyerang sasaran darat sehingga menimbulkan kerusakan parah di wilayah Ukraina.

SUPREMASI matra udara Rusia membuat leluasa pesawat-pesawat tempurnya membombardir target-target yang disasar di sejumlah wilayah Ukraina tanpa perlawanan berarti.

AU Rusia mengoperasikan sekitar 4.100 pesawat milter, sebagian pesawat tempur, mulai dari seri Sukhoi (SU-27, SU-30, SU-35, seri MiG terakhir (MiG-29), pembom TU-160   dan yang terbaru siluman generasi ke-5 SU-57.

Sebaliknya, AU Ukraina hanya memiliki 247 pesawat militer, termasuk pesawat-pesawat warisan Uni Soviet seperti seri Sukhoi yang terbilang lawas (SU-24, SU-25, SU-27) dan MiG-29.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina, 24 Februari lalu, tidak pernah dilaporkan terjadi pertempuran udara (dog fight) antara pesawat-pesawat tempur Rusia dan Ukraina. Agaknya, pilot-pilot Ukraina sadar, pesawat-pesawat Rusia bukan lawan tanding mereka.

Jika tidak bisa dihadang dengan pesawat-pesawat tempur atau kekuatan udara, serangan lawan bisa juga dipatahkan dengan pertahanan serangan udara dari darat.

Jika pesawat-pesawat musuh menyerang dalam ketinggian rendah, bisa dilawan dengan atileri pertahanan udara atau menggunakan rudal-rudal panggul (manpad), dan yang di ketinggian tinggi, dilawan dengan rudal-rudal darat ke udara.

Untuk rudal-rudal anti serangan udara panggul, Ukraina menerima ratusan buah Stinger buatan AS dari sejumlah negara NATO, namun  rudal anti serangan udara jarak jauh (SAM), masih menggunakan sisa-sisa warisan Soviet.

Itu sebabnya, Presiden Ukraina, Vlodymyr Zelensky menyerukan agar AS bersama NATO, jika tidak ingin terlibat langsung perang Rusia dan Ukraina, bersedia menetapkan Zona Larangan Terbang di atas wilayah Ukraina.

Dengan larangan tersebut, pesawat-pesawat Rusia tentu tidak leluasa lagi membombardir  target-target yang dipilih di wilayah Ukraina.

Masalahnya, menetapkan larangan terbang, beda-beda tipis dengan menyatakan perang, karena jika pesawat-pesawat Rusia membandel, tentu harus diusir atau ditembak jatuh, sehingga ujung-ujungnya juga memantik perang terbuka bahkan menjurus ke Perang Dunia III yang menjadi malapetaka bagi umat manusia.

Itu agaknya yang embuat  AS dan NATO masih harus berfikir beberapa kali, apalagi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin sesumbar menyiagakan arsenal nuklirnya.

Ide Zona Larangan Terbang

Anggota Komisi Pertahanan parlemen Inggris Tobias Ellwood mendukung gagasan zona larangan terbang (No-Fly Zone) sebagian atau seluruhnya, dan menyerukan NATO untuk campur tangan karena banyaknya kematian warga sipil dan dugaan kejahatan perang oleh Rusia.

Namun Sekjen NATO Jens Stoltenberg mengesampingkan keterlibatan organisasi itu, dan mengatakan kepada NBC pekan lalu : “Kami tidak berniat bergerak ke Ukraina, baik di darat maupun di udara.”

Sementara Menhan Inggris Ben Wallace juga mengatakan, negerinya tidak akan membantu menegakkan zona larangan terbang di atas Ukraina karena memerangi pesawat-pesawat tempur Rusia berarti memicu “perang di seluruh Eropa”.

Pihak AS dan NATO agaknya masih menahan diri untuk menghindari eskakasi perang di seluruh kawasan Eropa jika mereka terlibat langsung, yang pada gilirannya juga bisa memicu Perang Dunia III jika kekuatan nuklir digunakan.

Setelah memasuki lebih dari hari ke-10, tidak bisa diduga, apa yang ada di fikiran petinggi Kremlin, karena sampai hari ini juga belum mampu memenangkan perang.

Sekitar 150.000 tentara Rusia didukung ratusan tank, artileri berat dan rudal-rual balistik sudah berhasil memporak-porandakan sejumlah wilayah di Ukraina yang menciptakan 1,5 juta pengungsi Ukraina ke negara-negara tetangganya Moldova, Rumania, Ceko dan Polandia.

Ada pengamat yang menduga, pasukan Rusia sedang melakukan konsolidasi, untuk selanjutnya menuntaskan serangannya dari tiga penjuru, dari arah utara, dari timur di wilayah Donbass didukung separatis Ukraina dan dari Selatan dari wilayah Krimea yang sudah didudukinya sejak 2014.

Sebaliknya ada juga pengamat menduga, Rusia mulai berfikir ulang, mengingat tekanan penguncilan dan embargo international, khsususnya dari AS dan negara-negara Barat mulai membebani perekonomiannya.

Belum bisa dipastikan apa yang bakal terjadi sampai hari ini, agaknya “bola panas dipegang Rusia” di bawah kepemimpinan Presiden Putin, meneruskan atau menghentikan perang karena ia yang memulai, ia pun yang harus mengakhirinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement